Alter: Saya Ingin Hidup Normal

Kisah Cinta Jane-Alter

Alter: Saya Ingin Hidup Normal

- detikNews
Selasa, 04 Mei 2010 14:37 WIB
Alter: Saya Ingin Hidup Normal
Jakarta - Alterina Hofan (32) tak pernah meminta untuk mendapatkan kromosom XXY. Karena kondisi ini secara tidak langsung membawanya ke balik jeruji Rutan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Berikut tanya jawab wartawan dengan Alter yang telah menikahi Jane Deviyanti (23) ini, Senin (3/4/2010). Di tengah menerima wawancara, Jane datang bersama adiknya.

Bagaimana suka duka ditahan di Rutan Wanita Pondok Bambu?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimanapun kita laki-laki. Di sini rutan perempuan, gimana pun juga saya nggak enak. Tapi saya tidur terpisah dengan perempuan, karena dia (rutan) punya peraturan, khusus perempuan dan laki-laki pun di bawah 20 tahun, dan saya sudah di atas umur, nggak mungkin disatukan dengan anak-anak. Dan mungkin takut mereka (tahanan anak-anak) ditindas oleh saya karena saya lebih tua.

Bisa dijelaskan soal kelamin Anda?

Saya waktu lahir ada kekurangan, ada kelainan. Cuma namanya tinggal di kota kecil (Jayapura) kan nggak tahu. Jadi waktu saya SD, orang-orang lebih berprasangka --karena dari identitas saya perempuan-- orang berpikir saya tomboy atau gimana. Setelah makin ke sini saya makin lama nggak bisa ditutupin dan karena bagaimana pun saya ingin hidup normal.

Artinya waktu lahir memang ada penis?


Waktu lahir saya kan nggak ngerti. Ketika agak besar, saya punya penis. Saya ingat waktu sudah bisa mengingat kira-kira 5 tahunan, saya baru tahu (punya penis-red).

Apa betul Anda sempat minta ganti identitas di akta kelahiran terhadap ibu Anda?

Dari pertama kali saya masuk sekolah, karena nggak mau pakai rok, saya mau pakai celana. Karena ibu saya pikir malu, karena dipikirnya orang kan tahu kamu kan perempuan. Kalau ganti, nanti dipikirnya perempuan yang operasi jadi laki-laki, sementara sayaΒ  kan nggak (operasi). Saya harus cari uang sendiri karena ibu saya ngotot, tadinya biar saya nggak usah nikah, nemenin ibu saya saja karena malu. Kan ibu saya sudah cerai, ditambah lagi anaknya punya kelainan, tambah malu. Tapi ke sini, saya punya pikiran sendiri, dan ke sininya sayaΒ  punya kelenjar di bagian dada, jadi saya harus melakukan rekonstruksi (masektomi), bukan diangkat. Karena di bawah (penis) saya nggak operasi sama sekali. Hanya atas saja.

Itu yang disebut sindroma klinefelter?

Iya.

Dengan kelainan itu tumbuh juga kelenjar payudara?

Iya. Tapi mungkin nggak terlalu sempurna.

Waktu itu, payudara tumbuh besar?

Nggak terlalu, dengan identitas saya sebagai perempuan ya.

Tumbuhnya payudara di dada, itu mengganggu Anda?

Ganggu saya, karena saya sering sakit-sakitan. Pusing, saya sakit terus-terusan.

Tidak ada keinginan untuk jadi perempuan?

Tidak ada.

Vagina tidak ada?

Nggak ada. Rahim nggak ada. Saya juga nggak tahu ketika tiba-tiba hasilnya seperti itu (punya kelenjar payudara).

Jadi memutuskan untuk jadi laki-laki?

Ya memang saya laki-laki. Memang saya laki-laki.

Di mana Anda melakukan operasi masektomi?


Di Kanada, karena yang bisa rekonstruksi, yang tahu adik saya juga kebetulan di situ, dia (adik Alter) pikir referensi yang bagus itu diluar negri. Makanya saya kumpulkanΒ  uang dulu, saya baru punya uang setelah umur 28 tahun, dan ibu saya juga nggak mau ganti. Sekarang alasan apalagi? Saya mau hidup normal.
Β 
Setelah rekonstruksi merasa lebih sempurna?

Iya, setelah rekonstruksi. Karena saya memang laki-laki.

Anda mengaku merasa sebagai laki-laki, apakah penis Anda berfungsi?

Berfungsi.

Dan saat ejakulasi, sperma Anda keluar?

Keluar. Mungkin bisa tanyakan sama istri saya, kalau nggak percaya.

Jakun pun tumbuh ya?

Iya, kumis juga tumbuh.

Kumis itu memang bawaan, tidak menggunakan obat penumbuh rambut? Iya (bawaan) dan selama ini saya cukur biar nggak keliatan. Saya kalau ketemu dengan orang lain, saya biasakan cukur.

All overΒ  Anda laki-laki?

Makanya waktu diperiksa kemarin sempat ditolak, karena saya juga ditelanjangi dulu, untuk pastikan saya laki-laki atau perempuan.

Kenapa memilih Jane sebagai istri Anda?


Saya cenderung lihat orang dari pribadinya, bukan dari fisiknya. Dan saya juga bukan manusia sempurna. Dan saya melihat kekurangan seseorang itu fleksibel, bagaimana dia bisa adaptasi dan atasai kekurangannya, saya lihat dia sangat sabar, tidak pernah marah. Itu yang tidak bisa saya ketemu di perempuan lain.

Karena dia cenderung tidak normal (tunarungu), jadi kalau apa¬-apa, dia minta pendapat saya. Saya bisa mengerti apa yang jane bilang. Rumah selalu rame meski hanya berdua. Dulu kalau sama cewek-cewek saya dulu, kalau ajak nonton, pasti ajak teman, nggak pernah berdua karena merasa bosan kalau berdua terus. Kalau sama dia, nggak pernah merasa bosan.

Apa kelebihan Jane?


Ya itu tadi. Walaupun dengan kekurangan dia, dia bisa mengerti saya.

Cinta mati sama Jane?


Ya kira-kira begitu, kalau nggak, saya nggak mungkin ngejalanin ini (proses hukum). Mungkin inilah nasib kita berdua.

Selama Anda dititipkan di Kejari, Jane mendampingi?


Ya, dia terus temani saya, saya nggak nafsu makan,Β  dia juga nggak mau makan.

Selama Anda 3 hari di rutan, Jane tinggal dengan siapa?


Sama adik saya. Dia kan harus ditemani orang, sementara dia nggak mau kembali ke orangtuanya.

Jane sudah tahu Anda sudah rekonstruksi (masektomi)?


Tahu, kita kan sudah pernah tidur bareng. Dan orangtuanya juga sudah ngebilangin ke dia.
(mei/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads