Menurut Buya Maarif (sapaan akrabnya), salah satu alat untuk melawan faham terorisme adalah dengan membumikan ide pluralisme di kalangan Islam. Hal itu bisa dilakukan melalui cara apapun termasuk melalui film.
Itulah yang membuat Damien Dematra, seorang sutradara muda, tertarik mengangkat sosok Buya Maarif sebagai pejuang pluralisme. Film berjudul 'Ahmad Syafii Maarif, Si Anak Kampoeng Sebuah Trilogi' ini, juga diamini sebagai alat komunikasi Buya untuk menyatakan perang terhadap terorisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski secara penggarapan Buya Maarif tidak mengikuti langsung film ini. Namun secara isi, film ini merupakan cerminan sikap Buya melawan terorisme.
Berikut wawancara singkat detikcom bersama Buya Maarif mengenai filmnya.
Bagaimana awal gagasan film ini?
Saya sebenarnya tidak mengetahui, tapi ada beberapa teman yang ingin biografi saya dibuat film.
Apa sebenarnya pesan film ini?
Jelas, untuk melihat saya mengenai pluralisme.
Harapan Anda dengan film ini, khususnya terhadap terorisme?
Mudah-mudahan ini menjadi penyadaran. Kalau itu berguna bagi anak bangsa kenapa tidak.
Apakah isinya mencerminkan sikap Buya melawan terorisme?
Ya, menunjukkan pluralisme lewat film
Penilaian Buya sendiri tentang terorisme di Indonesia?
Mereka hanya korban dari perang dingin. Korban perang dingin antara Blok Kapitalisme dan Sosialisme
Film ini rencananya akan dirilis bulan maret tahun 2010. Film ini terdiri dari 3 sekuel, film pertama bercerita tentang Maarif muda. Kedua tentang Maarif muda yang berambisi mendirikan negara Islam dan menjadi ketua PP Muhammadyah, ketiga tentang aktifitas Buya Maarif saat ini sebagai pejuang pluralisme.
(ape/djo)











































