Pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Yulianto mengatakan, kubu beringin memang paling memungkinkan berkoalisi dengan PDIP. Koalisi dengan parpol lain, misalnya Gerindra atau Hanura, tak akan mendongkrak Golkar.
"Kalau dengan PDIP lebih bagus, karena dari dulu konstituennya berbeda, sementara ideologinya sama-sama nasionalis," kata Yulianto kepada detikcom, Kamis (24/4/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanggapan Anda mengenai pencalonan JK sebagai presiden oleh Golkar?
Tadinya Golkar ingin keluar dari kongsi politik dengan Demokrat. Dari awal pun Jusuf Kalla (JK) juga sudah mendeklarasikan diri menjadi calon presiden. Mengapa kini mencalonkan presiden, ya, karena pertimbangan kalau kembali ke Demokrat harga politik Golkar akan turun drastis.
Mengapa DPD II Golkar banyak yang menolak keputusan Rapimnassus?
Penolakan itu karena DPD Golkar di tingkat kabupaten/kota lebih realistis. Dengan perolehan suara seperti ini (14 persen), Golkar memang terpaksa harus mengajukan cawapres.
Jadi bagaimana peluang JK dalam pilpres?
Kalau Pak JK maju dengan blok sendiri, selama solidaritas hubungan antara antara DPD dan DPP terjaga, dia akan mampu menjadi pesaing SBY. Majunya JK itu memperuncing konflik internal khususnya antara DPD II dengan DPP.
Padahal kalau ingin tahu, kekuatan utama Golkar itu adalah di daerah-daerah. Keputusan DPP untuk mengajukan JK itu menjadi kontraproduktif berhadapan dengan DPD, terutama di Jawa.
Keputusan sudah diambil, dan Golkar sedang mendekati parpol lain untuk berkoalisi. Dengan siapa sebaiknya koalisi itu dibangun?
Saya kira kalau Golkar berkoalisi dengan Gerindra dan Hanura, itu sesungguhnya jeruk minum jeruk. Kan orang-orangnya sama. Orang Golkar lama semua, yang disatukan dengan pakaian berbeda-beda. Itu tidak akan bisa mendongkrak suara JK. Apalagi suara Golkar banyak digerogoti oleh Gerindra dan Hanura.
Bagaimana kalau dengan PDIP?
Kalau dengan PDIP lebih bagus, karena dari dulu konstituennya berbeda, sementara ideologinya sama-sama nasionalis.
Sementara kedua partai sama-sama ingin mengajukan capres, bisakah Golkar dan PDIP menyatu?
Memang yang menjadi masalah jika Golkar-PDIP berkoalisi adalah siapa yang jadi presiden dan wakil presiden. Tapi dalam politik segalanya bisa terjadi dan bersinergi untuk pilpres.
Sebaiknya siapa yang jadi capres?
Kalau saya lihat dari prospek kepemimpinan, serta aura politik, saya lebih condong capresnya dari Golkar, cawapres dari PDIP dengan menganulir hasil Rapimnas PDIP. Saya kira nilai jualnya lebih bagus.
Dengan keputusan Rapimnassus Golkar, bagaimana kesempatan buat Akbar Tandjung?
Menurut saya sudah semakin tipis dan sulit. DPP sudah tidak menginginkan. Sementara statement SBY bahwa siapa cawapres dari Golkar harus melalui mekanisme Rapimnassus.
(irw/nrl)











































