"Saya pikir SBY masih menunggu bagaimana suara bulat dalam Golkar. Karena SBY itu orangnya hati-hati. SBY sadar betul bahwa JK bukan satu-satunya calon yang bisa diusung Golkar. SBY menunggu suara bulat Golkar," ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Zulfikar Ghazali ketika dihubungi detikcom, Selasa (14/4/2009).
Berikut wawancara lengkap dengan Zulfikar Ghazali tentang manuver SBY-JK:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya pikir SBY masih menunggu bagaimana suara bulat dalam Golkar. Karena SBY itu orangnya hati-hati. SBY sadar betul bahwa JK bukan satu-satunya calon yang bisa diusung Golkar. SBY menunggu suara bulat Golkar.
Karena tampaknya JK tidak sebesar Akbar Tandjung dulu. Semua bisa setiap saat menggantikan JK.
Siapa saja pesaing JK itu dalam internal Golkar?
Ada Akbar Tandjung, Muladi, Marzuki Darusman yang layak jadi pemimpin nasional. Mereka sama besarnya dengan JK. SBY hanya menghormati saja.
Apakah ini berarti SBY tetap akan condong ke Golkar, siapapun yang diusung Golkar?
Ya. Golkar masih punya kekuatan. Golkar ini birokrasinya bagus, mereka punya pengalaman berkuasa cukup panjang. Masalahnya, mesin partainya nggak jalan. Namun SBY juga tidak mau gegabah, karena punya pengalaman jelek.
Pengalaman jelek apa yang pernah dialami SBY selama berkoalisi dengan Golkar?
SBY merasa ditelikung dari belakang. Suara di parlemen membuat dia kecewa. Seperti di DPR, padahal mereka (Golkar) itu ikut dalam kabinet, belum-belum mereka sudah minta ini, minta itu. Ketua FPG mengancam akan menarik ini menarik itu karena tidak ada perjanjian secara resmi.
Karena itu SBY bisa sangat berhati-hati, karena politik di tengah jalan suka tidak konsisten dan suka berubah sebaliknya dengan tiba-tiba. Karena suara SBY cuma 20 persen, itu tanggung betul. Kalau 30 persen atau 25 persen saja, tinggal memilih partai-partai kecil.
Jadi SBY cenderung menggantung JK dan menunggu Golkar bulat dengan 'perjanjian pranikah' yang pasti?
Betul, kalau memang mau dengan JK ya segera diundang saja mereka itu. Karena di Golkar ada beberapa kubu dan JK banyak pesaingnya.
Bagaimana dengan ancaman PKS yang mau keluar dari koalisi mendukung SBY jika Golkar masuk?
Pastinya PKS tidak mau dengan PDIP. Tampaknya JK yang jadi masalah bagi PKS. Entah kenapa kok tidak berkenan.
Seberapa besar pengaruhnya bagi perolehan suara PD di Pilpres, jika PKS keluar?
Agak signifikan karena partai Islam nggak ada di tubuh SBY. Partainya SBY ini kan nasionalis sekuler, kurang lebih sama lah dengan PDIP. Kalau dengan PKB, dengan konsep PKB seperti ini, kemampuan suara ulama di PKB semakin payah, termasuk beberapa tempat penting di Jatim. Kalau ada ulama yang mendukung itu ulama yang mana? Muhaimin saja yang punya pengalaman dan cukup bagus bekerja keras.
Apa karena keinginannya memasangkan Hidayat Nurwahid dengan SBY tak tercapai jika Golkar masuk?
Saya pikir targetnya PKS bukan wapres. Karena mereka (kader PKS) masih muda-muda, masih ada 5 tahun lagi di 2014. Beda dengan Wiranto, JK atau Prabowo, kalau tidak bisa tahun ini, habis mereka. Partai-partai mereka juga bisa bubar. Gerindra bubar, Hanura bubar.
Target mereka ingin kursi lebih banyak di kabinet, 3 atau 4 orang dengan posisi yang lebih strategis. Kalau kita lihat selama ini, menteri yang didapatkan PKS kurang strategis. Menteri kelas 3, Menpera, dan Menpora, itu kan menteri kelas 3.
Kalau Menteri Pertanian itu strategis, cuma Anton (Mentan Anton Apriantono) kurang tampil. Kalau dia bisa tampil seperti Adhyaksa (Menpora Adhyaksa Dault) mungkin lebih menarik.
Jadi jika betul PKS akan keluar dari koalisi pendukung SBY dan tidak mungkin bergabung dengan PDIP-Hanura-Gerindra sebagai oposisi, apa dia akan membentuk blok sendiri?
Iya bentuk blok sendiri saja tidak apa-apa. PKS kan selama ini sering jalan sendiri karena mereka solid. Apalagi PKS tampaknya kecewa betul dengan pemilihan legislatif, karena yang dipilih partainya bukan calegnya. Kemenangan PD itu kan orang memilih partai, bukan calegnya. Sayangnya, calegnya kurang begitu dikenal, tidak seperti SBY yang besar sekali pengaruhnya.
Lantas bagaimana dengan kekuatan oposisi seperti PDIP, Gerindra dan Hanura yang mulai mengkristal, dengan kemungkinan koalisi PD-Golkar?
Itu sekitar 21 persen saja, nggak cukup besar di parlemen.
Tapi pemahaman oposisi di sini itu salah. Dalam ilmu politik, oposisi itu sejajar, mitra. Kalau di sini melihat oposisi itu seperti musuh, lebih menunjukkan rasa tidak suka.
Oposisinya PDIP itu seperti apa? Buktinya PDIP kelabakan juga tentang BLT karena ketidakjelasan maksud serangan Mega terhadap BLT, apa maunya Mega, yang dipersoalkan yang mananya?
(nwk/iy)











































