"Rata-rata browsing (internet) sama informasi teman SPI di tempat tinggalnya," kata Dwi Ayu Trisna Andini, pengurus inti SPI saat dihubungi detikcom, Senin (6/4/2009).
SPI, Jumat (3/4/2009) merilis 21 nama caleg pelaku dan pendukung poligami. Dalam rilis itu, SPI tidak menyertakan data lengkap, ia hanya menulis sang caleg sebagai pelaku atau pendukung poligami. Tidak ada nama, jumlah istri, kapan dan di mana sang caleg melakukan pernikahannya.
Berikut wawancara dengan Dwi Ayu Trisna:
Apa motivasi dan tujuan SPI merilis caleg yang poligami?
Ini berita untuk publik, untuk edukasi pemilih perempuan. Untuk mengindikasikan caleg yang benar-benar memperjuangkan hak perempuan di parlemen. Kalau buat kita ini politik perempuan ya, isu poligami ini memang sudah kontroversial sejak tahun 1950-an.
Kalau merasa ada yang tersinggung, ya kita tidak mengharapkan kontroversi seperti ini. Biasanya yang kebakaran jenggot adalah yang melakukan poligami.
Bagaimana cara atau dari mana SPI mendapatkan data caleg poligami. Di rilis, yang terlihat hanya melansir dari media?
Rata-rata browsing sama informasi teman SPI di tempat tinggalnya. Juga identifikasi dari media lain.
Bagaimana validasi informasi itu?
Dari lingkungan sekitar, dari informasi ibu yang tinggal di sekitar rumahnya. Malah istri sang caleg siapa saja, mereka tahu. Memang kita punya keterbatasan sih, tidak semuanya kita bisa tampilkan.
Kenapa di rilis tidak disebutkan nama dan jumlah istrinya, dan hanya disebutkan 'pelaku' dan 'pendukung' poligami saja?
Kita pikir sudah cukup seperti itu. Kalau kita kan di sini memberi hak bagi perempuan. Ada yang tersinggung tapi ada juga beberapa yang sebenarnya mendukung kita, tapi kalau kita suruh ngomong mereka juga takut.
Apa caleg yang disebutkan poligami itu pernah go public dengan istri kedua atau ketiganya, sehingga SPI berani merilis data itu?
Kalau go public secara langsung sih nggak, tapi semua orang juga tahu.
Karena data SPI ini menuai kontroversi, bagaimana kalau ada caleg yang memperpanjang masalah?
Kalau kita berani mengeluarkan, ya kita punya buktinya. Kalau mereka mau memperpanjang, saya siap dengan bukti.
Buktinya apa?
Mungkin bisa ditunjukkan siapa yang ngomong, siapa istri keduanya, siapa istri ketiganya. Kalau diperpanjang kita siap dengan strategi berikutnya. Awalnya kita sih nggak berpikir sampai ke situ, kita hanya ingin memberi tahu.
Berapa lama SPI riset sebelum data itu dirilis?
Dari tahun kemarin kita sudah riset sebelumnya. Kita sudah tahu beberapa orang yang poligami. Beberapa teman kita suruh cari ke mana saja, diidentifikasi siapa saja.
Kita imbau ke semua perempuan, caleg yang di dekat rumahnya ada yang berpoligami, tolong beritahu kita agar kita bisa memperpanjang caleg yang berpoligami.
Karena caleg berpoligami itu berpotensi korupsi, berpotensi menggunakan fasilitas negara, berpotensi mengabaikan suara rakyat.
Ada ancaman?
Ancaman nggak ya, jangan sampai malah. Malah ada pihak yang ingin tahu ada lagi nggak caleg yang poligami.
(nwk/iy)











































