LIPI: Tak Ada yang Memonitor Daerah Rawan Tanggul Jebol

Tragedi Situ Gintung

LIPI: Tak Ada yang Memonitor Daerah Rawan Tanggul Jebol

- detikNews
Senin, 30 Mar 2009 13:03 WIB
LIPI: Tak Ada yang Memonitor Daerah Rawan Tanggul Jebol
Jakarta - Tradegi Situ Gintung sungguh memilukan. Hampir 100 orang ditemukan tewas akibat jebolnya tanggul situ yang sering dimanfaatkan warga untuk wisata tersebut. Hingga hari ke-4 sebanyak 150 korban belum ditemukan. Apa yang menyebabkan bencana itu terjadi?

Ahli peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Edi Prasetyo Utomo menyatakan, sedikitnya ada 5 hal yang kemungkinan menyebabkan bencana itu terjadi. Salah satunya karena tidak adanya pihak yang memonitor kondisi tanggul.

"Saya melihat belum ada yang memonitor daerah-daerah yang lemah atau potensi untuk tanggul itu bisa roboh. Saya yakin dengan geolistrik, kondisi tanggul itu akan kelihatan, bagaimana poros bawahnya itu," kata Edy.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa faktor lainnya dan adakah waduk atau situ lain yang rawan? Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Edi, Senin (30/3/2009).

Kenapa tragedi Situ Gintung bisa terjadi. Apa sebenarnya faktor penyebab jebolnya tanggul situ tersebut?


Untuk tahu pasti, kita harus lakukan penelitian ya. Tapi setidaknya ada 5 faktor yang memungkinkan peristiwa itu terjadi.

5 Faktor itu apa saja?


Yang pertama, kita harus data curah hujan dari hulu Sungai Pesanggrahan. Tapi saya lihat, tidak ada pengamat hujan di daerah-daerah ini. Kalau ada, pasti sudah ada informasi ke masyarakat jika akan ada banjir bandang karena curah hujannya tinggi.

Tapi peristiwa kemarin bukan meluap tapi jebol?

Saya punya semacam pikiran kalau di poros bendungan itu tidak boleh ada konstruksi bangunan. Tapi saya lihat di daerah lintasan air sudah didirikan rumah. Ini memperlemah poros bendungan. Apalagi ini di hilirnya. Lerengnya dipakai untuk rumah, ini salah fatal. Itu faktor yang jadi kemungkinan kedua.

Berarti salah siapa kalau di situ ada bangunan?


Ya itu masyarakat tidak disiplin, regulasinya nggak jelas dan tidak diperlakukan dengan benar. Jadinya ya seperti itu.

Lalu faktor ketiga?


Saya melihat belum ada yang memonitor daerah-daerah yang lemah atau potensi untuk tanggul itu bisa roboh. Saya yakin tanggul itu bisa dimonitor dengan geolistrik sehingga akan kelihatan bagaimana kondisi tanggul yang sebenarnya. Misalnya sudah ada rembesan air seberapa besar, itu kelihatan. Nah ini saya lihat juga nggak ada. Kita nggak punya.

Bukannya itu tanggung jawab pemerintah daerah?


Ya saya nggak mau menyalahkan otoritas atau siapapun. Saya hanya bilang yang saya tahu. Saya pikir kemungkinan sudah retak-retak tanggulnya, tapi no action.

Faktor lainnya?


Pendangkalan karena sedimentasi itu juga menjadi salah satu faktornya. Itu diakibatkan karena penggundulan di hulu. Saya lihat memang gundul. Sedimentasi ini selain menyebabkan daya tampung situ semakin sedikit, juga menyebabkan daya dukung poros bendungan semakin berat karena air bercampur lumpur dan keruh.

Faktor terakhir karena early warning system yang kemungkinan tidak berfungsi dengan baik. Kalau kita lihat itu kan banyak korban dari hilir, mungkin kalau sirine berbunyi nggak kedengaran sampai bawah. Padahal daerah-daerah rawan begitu harus banyak dan terdengar sampai bawah.

Selain Situ Gintung, ada yang rawan dan membahayakan?


Wah itu perlu disurvei dulu ya. Dan saya belum melakukan itu, tapi kalau dilihat dari rata-rata daerah hulu yangΒ  gundul, semua mengkhawatirkan karena pasti banyak sekali sedimentasi.

Waduk, situ dan sungai dangkal dan daya dukung jadi berat. Ditambah lagi, banyak pemukiman penduduk di daerah rawan dan bahaya untuk ditempati.

(ken/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads