Arie Sujito: PKS Berat Jika Ngotot Ajukan Capres

Arie Sujito: PKS Berat Jika Ngotot Ajukan Capres

- detikNews
Selasa, 24 Feb 2009 12:35 WIB
Arie Sujito: PKS Berat Jika Ngotot Ajukan Capres
Jakarta - Hidayat Nur Wahid merasa PKS direndahkan dengan wacana yang memposisikan dirinya sebagai cawapres. Namun bagi pengamat politik UGM Arie Sujito, posisi PKS memang paling cocok sebagai cawapres. Bila ngotot ajukan capres, PKS akan berat.   

"Kalau capres terus terang agak berat. Tetapi kalau hanya cawapres kemungkinannya untuk itu sangat mungkin," kata Arie dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (24/2/2009)

Berikut wawancara detikcom dengan Arie Sujito:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perlu tidak PKS memastikan diri mengajukan capres atau cawapres?

Sebetulnya kalau bicara standar, PKS itu belum jelas akan dapat berapa di Pemilu Legislatif nanti. Kalau sekarang dia (PKS) langsung memutuskan tegas hitam di atas putih dengan menyatakan mengusung capres atau cawapres, itu justru berbahaya. Makanya menurut pembacaan saya dia masih hati-hati memutuskan apakah mengusung capres atau hanya menyodorkan cawapres saja.

Bagaimana kans PKS di Pilpres?

Kalau capres terus terang agak berat. Tetapi kalau hanya cawapres kemungkinannya untuk itu sangat mungkin. Misalnya dengan Partai Golkar, PKS itu punya garis yang bagus untuk berkoalisi. Kemungkinan merapat ke sana lebih cocok bagi PKS ketimbang dengan partai lain.

Titik kompromi kedua partai itu lebih mudah dicapai, sebab keduanya sama-sama punya alat politik berupa mesin partai yang kuat. Beda dengan Demokrat, daya sedotnya cuma dari figur SBY saja. Karena sama-sama punya alat politik berupa mesin partai, PKS dan Golkar diprediksi bisa menyedot suara yang signifikan dalam pilpres.

PKS dengan PDIP juga nggak bagus dan nggak sehat secara demokratis. Kalau dalam konteks mau membangun balance demokrasi, misalnya, PKS harusnya melihat Golkar dan tidak perlu membangun koalisi dengan PDIP.

Bagaimana petanya Pilpres?

Kalau JK memang benar pecah kongsi dengan SBY, maka menarik untuk dimanfaatkan oleh partai-partai lain termasuk PKS. Sebab SBY kalau tetap sama JK, garansinya yang didapat SBY bakal dapat suara banyak dari Golkar. Tapi kalau jadi pecah kongsi, suara SBY jelas berkurang.

Nah, ini akan mengubah peta di Pilpres. Ini akan jadi alasan partai-partai menengah untuk menggalang koalisi dan bisa saja akan muncul gugus-gugus baru yang bermuara ke Golkar. PKS bisa memanfaatkan ini.

Sementara Demokrat kalau suaranya sampai 20 persen, pasti akan merekrut teknokrat sebagai cawapres. Sri Mulyani misalnya. Garansinya teknokrat akan lebih mudah diatur dalam pemerintahan. Tapi kalau tidak, Demokrat akan menggandeng partai lain yang termasuk partai menengah untuk diajak koalisi. Atau kemungkinan yang lain, dia akan memanfaatkan menguatnya friksi antara faksi-faksi di Golkar. Demokrat akan menuai itu, misalnya menggandeng cawapres dari Golkar.

Kalau PKS mengajukan cawapres, koalisi dengan siapa yang cocok?

Sebelumnya mesti dilihat, dalam posisi dia dapat 20 persen, saya kira mereka akan pede mengusung capres saja. Kalau tidak sampai, maka lebih baik wakil saja. Analisis saya PKS lebih mengarah ke cawapres. Dia punya strategi panjang ke depan yang akan membidik presiden pada 2014. Dan untuk itu saat ini dia baru membangun instalasi yang kuat, termasuk basis di parlemen. Jika memang itu benar, kemungkinan merapat ke JK di sana lebih cocok.

Siapa figur yang tepat diusung PKS?
Hidayat pasnya.

(Rez/iy)


Berita Terkait