Begitu pun saat Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton datang ke Jakarta pada 18 dan 19 Februari 2009.
Sebanyak 2.800 polisi dan sniper siaga, acak sinyal ponsel hingga rekayasa lalu lintas akan menjadi strategi mengamankan mantan first lady AS itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat intelijen Wawan Purwanto menilai pengamanan pada Hillary wajar-wajar saja. Hal itu karena ancaman keamanan pejabat AS di Indonesia cenderung lebih tinggi dari negara-negara lain.
"Wajar saja lebih ketat dibanding pejabat negara lain. Skala ancaman kan memang lebih tinggi mengingat AS masih menjadi persoalan rumit di Indonesia," ujar Wawan saat berbincang dengan detikcom, Rabu (18/2/2009).
Berikut wawancara detikcom dengan Wawan terkait pengamanan Hillary Clinton yang akan berada di Indonesia selama 2 hari.
Bagaimana sebenarnya standar keamanan di Indonesia?
Negeri kita sebenarnya sudah menggunakan alat-alat modern untuk pengamanan. Kita sudah mengembangkan acak sinyal dan jamer. Dan sekarang ini sudah terbukti kita memang bisa mengaplikasikan peralatan canggih itu. Itu standar yang hendak kita canangkan.
Apakah standar keamanan itu diterapkan untuk semua tamu negara atau hanya khusus untuk Hillary dan pejabat AS lainnya?
Sebenarnya itu standar yang dicanangkan Indonesia, tapi khusus untuk Hillary, dia kan berasal dari negara adikuasa. Di samping Menlu, Hillary juga pernah jadi first lady. Dan ini kunjungan pejabat AS pertama selama pemerintahan Obama, jangan sampai kita dianggap ceroboh.
Mengapa Indonesia harus memberi perlakuan khusus untuk pejabat AS?
Bagaimana pun Indonesia pernah tercoreng dengan berbagai aksi-aksi tertentu seperti kerusuhan maupun teror. Karena itu, Indonesia tentu tidak ingin kecolongan lagi terutama saat kunjungan Hillary. Ini juga untuk memberi kesan bagus kepada pemerintah Obama dan juga mata dunia. Ini semua untuk mengembalikan citra Indonesia di mata dunia.
Apakah ancaman untuk Hillary memang besar?
Amerika masih menjadi persoalan rumit di sini (Indonesia) tentu berbeda dengan saat Presiden Ahmadinejad berkunjung di Indonesia. Gejolaknya juga lain. Jadi wajar saja kalau pengamanan lebih ketat. (ken/nrl)











































