Pengamat LIPI: Zionis yang Rakus Halangi Palestina Merdeka

Israel Agresi Palestina

Pengamat LIPI: Zionis yang Rakus Halangi Palestina Merdeka

- detikNews
Rabu, 31 Des 2008 08:18 WIB
Pengamat LIPI: Zionis yang Rakus Halangi Palestina Merdeka
Jakarta - Konflik Israel-Palestina sudah terjadi sejak 60 tahun lalu. Pangkalnya adalah gerakan zionis di Israel yang menginginkan negara dari Sungai Nil sampai Sungai Eufrat. Palestina yang ingin merdeka pun dihambat.

Untuk mengakhiri konflik ini, Palestina harus dibiarkan merdeka dan membangun demokrasinya sendiri. Konflik berkembang ketika hasil pemilihan umum (pemilu) yang demokratis di Palestina tidak disetujui Israel dan sekutu terdekatnya, Amerika Serikat (AS), yang mengaku negara demokratis.

Demikian pendapat pengamat politik Timur Tengah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hamdan Basyar ketika dihubungi detikcom, Selasa (30/12/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut petikan wawancara detikcom dengan Hamdan Basyar.

Bagaimana sebenarnya untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina ini?

Tujuannya Palestina menjadi negara merdeka. Karena Israel nggak mau Palestina merdeka, maka dihambat terus.

Maka mereka berusaha kekuatan di Palestina diturunkan. Hamas yang kuat dilemahkan. Memang kalau mau supaya tidak ada ujung berdirinya negara Palestina.

Sejak kapan dan apa sebenarnya masalah Israel-Palestina berawal?


Masalahnya adalah tanah wilayah yang diperebutkan kedua belah pihak, 60 tahun lalu, sejak tahun 1948. Sejak dibentuknya negara Israel.

Itu berawal dari politik Zionis yang serakah, politik Yahudi sebagai alat untuk kepentingan negara, sejak itu perang.

Dulu ada Balfour Declaration, Inggris memperbolehkan mendirikan negara dengan syarat tidak mengganggu dan menghargai orang yang ada di sana.

Sebelum itu, umat Muslim, Nasrani, Yahudi di wilayah Jerusalem damai di bawah kekuasaan Ustmaniyah. Setelah ada politik Zionis, menjadikannya berkepanjangan karena keserakahan Zionis.

Setelah negara Israel berdiri, nyatanya malah tidak membuat aman negara di sekitarnya. Apa sebenarnya tujuan dari politik Zionis?

Kenyataannya seperti itu. Membuat lingkungan di sekitarnya tidak damai, tidak ada perdamaian.

Kelompom Zionis ingin mendirikan negara Israel Raya yang harus didirikan dari Sungai Nil sampai Sungai Eufrat, itu dari Mesir sampai Irak.

Mengkoloni wilayah di sana. Kalau dibiarkan mencaplok wilayah, bukan damai yang ada, tapi nafsu Israel yang menguasai.

Bagaimana dengan alasan Israel yang didukung AS, bahwa agresinya disebabkan karena roket-roket yang selama ini diluncurkan Hamas dari wilayah Palestina?

Saya kira kita harus melihat lebih fair. Di wilayah Gaza sudah cukup lama
menjadi penjara besar. Ditutup oleh embargo sehingga berbagai bantuan masuk dihambat. Ini prinsip.

Ingat ketika masyarakat Gaza menjebol perbatasan Mesir di Raffah hanya untuk membeli barang-barang. Mereka sudah cukup menderita. Dan melampiaskan penderitaan mereka dengan melemparkan roket-roket.

Mereka ingin menunjukkan masyarakat Gaza masih eksis. Karena selama 18 bulan terakhir diisolasi, yang menyebabkan mereka kekurangan makan dan sebagainya.

Serangan roket itu dibalas dengan kekuatan penuh. Apakah itu fair?

Mereka (Gaza) diisolasi sejak Hamas menang Pemilu 2006 lalu. Kemudian Israel didukung AS tidak setuju. Karena Hamas dinilai garis keras.

Padahal pemilu di Palestina pada waktu itu cukup demokratis. Jimmy Carter Foundation pun juga hadir memantau pemilu. Tapi Israel menolak, Amerika menolak, Hamas dikucilkan. Dengan isolasi itu.

Kalau mereka menembakkan roket yang menunjukkan mereka eksis, dan pembalasannya seperti tiga hari terakhir, apakah itu fair? Melumpuhkan banyak warga sipil.

Apa yang terjadi jika Hamas kalah?


Itu kan occupied dia. Kemudian dari perdamaian tahun 1993 ada tahapan mengembalikan ke Pemerintah Palestina sejak Arafat (pendiri Fatah) jadi presidennya. Itu pun tidak dilakukan dengan mulus. Memang ada pemerintahan Yasser Arafat, Mahmoud Abbas.

Pada Pemilu 2006, Hamas yang menang dan diberikan kesempatan mendirikan kabinet. Kenyataannya tidak mendapat sambutan.

Bagaimana dengan resolusi yang ditawarkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) selama ini?

Efektivitas ini, kenyataannya resolusi PBB terhadap Israel tidak diperhatikan. Resolusi semuanya mengarahkan Israel keluar dari tanah Palestina, dari benteng Gaza, namun sekarang mereka tidak keluar.

Rsolusi sudah cukup panjang, alih-alih berusaha mewujudkan, mereka (Israel) malah menindas terus-menerus.

Bagaimana seharusnya AS bersikap?


Seharusnya menyerukan serangan dihentikan. Tindakan nyata dua belah pihak diadakan. Diadakan perundingan yang lebih serius supaya terjadi perdamaian abadi, sehingga Negara Palestina bisa berdiri. Ini kan peninggalan pasca perang dunia II yang belum selesai, 60 tahun lalu.

Bagaimana perananย  Liga Arab dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestina?

Di Liga Arab sudah terlalu besar. Karena 23 negara anggotanya mempunyai kepentingan politis masing-masing. Tapi pada dasarnya mereka mendukung Palestina dengan cara-cara yang berbeda-beda. Ada yang asal mendukung, ada yang sangat peduli, tarik menarik sesuai kepentingan nasional masing-masing.

Contohnya, Mesir, Arab Saudi, dan Yordania kalau mendukung Palestina, dia harus melihat kepentingan berhubungan dengan AS.

Kalau OKI lebih luas, karena itu negara-negara Islam yang anggotanya tidak hanya di Timur Tengah.

Lantas apa peranan yang bisa diberikan Indonesia dalam konflik Israel-Palestina?

Bantuan sistem diplomasi seperti yang SBY kemarin katakan sudah benar. Mendorong PBB untuk mengeluarkan resolusi agar bisa menelorkan hasil positif. Selain mengirim obat-obatan.

Bagaimana dengan pasukan perdamaian?


Pasukan perdamaian akan ada setelah ada perdamaian di sana. Kalau sekarang mengirim pasukan perdamaian, perdamaiannya siapa. Itu harus ada amanat lewat PBB.

Seperti saat Israel menggempur Hizbullah, setelah selesai ada amanat PBB mengirim pasukan perdamaian di Lebanon Selatan. Di bawah payung hukum PBB.

Bagaimana dengan orang Indonesia yang berminat ikut berjihad di Palestina?

Saya kira itu bagian dari kepedulian masyarakat Indonesia pada Palestina. Karena peduli pasa nasib Palestina, kok menderita terus, maka timbullah semangat itu.

Jihad tidak melulu perang. Ketika masyarakat mau mengirimkan pasukan 'jihad', perlu melihat juga, tahu wilayahnya tidak, terus bagaimana. Kalau tidak mengerti senjata dan wilayah kan malah jadi korban. Atau dana yang disumbangkan ke sana untuk melengkapi bantuan.

Jadi apa yang seharusnya dilakukan?


Kalau bisa internal Palestina harus bersatu, Hamas dan Fatah. Di tingkat
regional, Liga Arab harus bersatu membangun kekuatan mendorong PBB supaya lebih peduli lagi. (nwk/ken)


Berita Terkait