ADVERTISEMENT

Depag Bentuk Tim Pemantau Blog Penghina Nabi Muhammad

- detikNews
Rabu, 19 Nov 2008 15:36 WIB
Jakarta - Sejumlah blog meresahkan umat Islam bermunculan. Salah satunya adalah blog yang berisi komik yang menghina Nabi Muhammad. Departemen Agama akan membentuk tim untuk memantau blog tersebut.

"Tindakan seperti ini namanya terlalu bebas. Bikin heboh. Berarti umat Islam kecolongan. Tindakan seperti ini tidak boleh dibiarkan," kata Dirjen Bimas Islam Depag Nasaruddin Umar pada detikcom, di kantor Depag, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (19/11/2008).

Berikut wawancara detikcom dengan pria bergelar doktor ini:

Bagaimana tanggapan Bapak terhadap komik yang menghina Nabi Muhammad yang beredar di internet?

Wah saya terkejut sekali. Kalau memang itu akademisi atau seniman yang hendak berkarya bisa dilakukan di lingkungan kelas tertutup. Tapi jangan diekspos karena tidak etis secara intelektual.

Tindakan seperti ini namanya terlalu bebas. Bikin heboh. Berarti umat Islam kecolongan. Tindakan seperti ini tidak boleh dibiarkan.

Saya akan cek situsnya, nanti saya buka. Setelah itu baru saya bisa mengambil tindakan sejauh mana.

Selanjutnya apa tindakan Bapak setelah mengetahui penghinaan itu?

Kalau itu benar terjadi, dari pihak Depag akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk sesegera mungkin mengambil tindakan sebelum keresahan umat yang lebih besar.

Tindakan yang Bapak maksud seperti apa?

Saya akan membentuk tim untuk memantau situs tersebut. Apabila diperlukan akan berkoordinasi dengan pihak terkait.

Harapan Bapak agar kasus serupa tidak terulang apa?

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkepribadian, religius, ber-Pancasila, tidak akan membiarkan perilaku menodai publik.

Saya mengimbau kepada kalangan akademisi yang ingin kebebasan berkreasi maupun seniman yang ingin mengekspresikan karyanya agar memperhatikan hal-hal yang bisa membuat masyarakat lain terusik ketenangannya.

Kalau akademisi hendaknya dilakukan di tempat tertutup tanpa diekspos. Kalau seniman juga jangan sampai dikonsumsi publik karena dapat meresahkan umat. (iy/nrl)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT