Menurut pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti, gonjang-ganjing di PKS terjadi akibat PKS salah perhitungan dalam mencuri momen Hari Pahlawan. Iklan Hari Pahlawan ditujukan untuk meraih dukungan sebesar-besarnya, tapi yang didapat malah badai kritik.
Ini karena PKS tidak memiliki konsepsi yang jelas mengenai pahlawan dan guru bangsa. Karena tidak ada konsep itu, maka para petinggi PKS dalam merespon pertanyaan wartawan bertentangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Presiden PKS Tifatul Sembiring ingin menyelamatkan PKS, maka dikatakan iklan itu salah dari konsep awal. Kalau dilihat dari pendekatan Anis Matta, kalau salah nggak usah ngomong salah, ya sudah jalan saja terus karena memang tujuannya adalah untuk mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya," urai Ikrar.
Berikut wawancara detikcom dengan Ikrar Nusa Bhakti:
PKS membuat iklan yang salah satunya menampilkan Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa. Iklan ini menuai kontroversi. Bagaimana analisa bapak atas kontroversi iklan ini?
Hahahaha
Kalau saya lihatnya iklan itu bukan persoalan PKS untuk menyambut Hari Pahlawan. Itu cuma mengambil momentum hari pahlawan. Tapi intinya iklan itu adalah bagaimana PKS ingin meraih dukungan sebanyak-banyaknya dari para pendukung atau keluarga para tokoh yang diiklankan itu seperti Seokarno, Soeharto, Hasyim Asy'ari, Natsir, dan Ahmad Dahlan.
Itu menunjukkan PKS ingin meraih dukungan dari kelompok manapun baik dari nasionalis yang digambarkan citra Soekarno. Juga dari kelompok religius dengan menghadirkan Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari.
Para pejabat PKS memberikan pernyataan yang saling bertentangan menghadapi kontroversi iklan ini. Menurut bapak apa sebenarnya yang sedang terjadi di PKS?
Saya nggak tahu persis apa yang terjadi di tubuh PKS.
Tapi seharusnya PKS menjelaskan apa yang mereka konsepsikan sebagai pahlawan itu. Definisi pahlawan itu apa bagi PKS. Kalau PKS sudah punya konsepsi yang jelas soal pahlawan barulah itu bisa jelas. Tanpa ada penjelasan soal kosepsi PKS mengenai pahlawan, siapa saja bisa masuk sebagai pahlawan termasuk Soeharto yang masih jadi polemik.
Dengan para pemimpinnya berbeda pendapat, ini PKS seperti kebingungan?
Ya, setelah muncul kritik mereka baru sadar iklan itu menimbulkan problem besar. Ada protes dari NU, Muhammadiyah dan aktivis HAM.
Pertentangan yang terjadi di PKS itu merupakan dinamika internal sebagai akibat perhitungan yang salah dari mencuri momentum Hari Pahlawan.
Jadi sebaiknya bagaimana PKS menghadapi kontroversi tersebut?
Problemnya besarnya adalah apa benar Soeharto itu pahlawan? Itu yang PKS tidak pernah jelaskan apa yang dimaksud guru bangsa, apa yang dimaksud pahlawan. Kalau itu dijelaskan orang tidak akan ribut.
Memasang tokoh-tokoh itu bisa saja positif dan bisa saja negatif.
Kalau dalam kasus iklan tersebut, apa yang lebih banyak diterima PKS?
Kalau kasus ini, PKS lebih banyak menuai badai, tepatnya badai kritik daripada dukungan.
Soal perseteruan antar Tifatul dan Anis Matta tersebut, bagaimana anda memandangnya?
Ini karena PKS tidak memiliki konsepsi yang jelas mengenai pahlawan dan guru bangsa. Karena itu dalam merespon pertanyaan wartawan tak ada kesepakatan tunggal.
Presiden PKS Tifatul Sembiring ingin menyelamatkan PKS, maka dikatakan iklan itu salah dari konsep awal. Kalau dilihat dari pendekatan Anis Matta dan pendukungnya, kalau salah nggak usah ngomong salah, ya sudah jalan saja terus karena memang tujuannya adalah untuk mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya. Salah dan benar soal pahlawan dan guru bangsa itu tidak penting.
Apakah pertentangan itu menunjukkan adanya perseteruan antara pengagum Soeharto dan yang tidak suka Soeharto di PKS?
Pasti iya, gimana sih? Adanya tokoh intelijen di situ kan menunjukkan pengagum Soeharto. Di PKS itu kan juga ada pengagum Wiranto. Jadi nggak usah dipertentangkan. PKS itu adalah suatu partai yang memang tidak mempersyaratkan Soeharto itu baik atau buruk.
Kalau dari Anis Matta menyatakan iklan yang menampilkan Soeharto itu merupakan upaya untuk ajakan rekonsiliasi. Menurut bapak, melihat kondisi saat apakah memang diperlukan rekonsiliasi antara yang pendukung dan anti Soeharto?
Kalau saya sih tidak dendam pada siapapun. Tapi rekonsiliasi itu harus didahului dengan adanya keadilan dan kebenaran. Nah keadilan dan kebenaran itu sudah terjadi atau belum? Kalau belum terjadi jangan harap mengenai rekonsisiliasi.
Dalam kasus Soeharto itu bukan perbedaan ideologi atau cara pandang politik saja. Di sini ada tindak kekerasan pidana, pelanggaran HAM, juga perdata. Persoalan yang besar, di sini belum selesai.
Jadi saat ini lebih tidak memerlukan rekonsiliasi?
Kalau sudah ada keadilan dan kebenaran, dilakukan rekonsiliasi tak ada masalah. Jadi bukan tidak diperlukan.
Tapi harus diketahui, rekonsiliasi bukan penyelesaian orang yang bertikai atau perbedaan cara pandang politik. Dalam kasus Soeharto tidak semudah itu. Kalau sudah ada keadilan dan kebenaran sebenarnya akan mudah saja dilakukan rekonsiliasi.
Sebaiknya seperti apa bangsa ini menempatkan Soeharto?
Ya itu lagi-lagi diselesaikan dulu kebenaran, apa yang terjadi pada 1965-1998? Keadilan apa yang diperoleh oleh korban Orde Baru, korban Orde Baru itu bukan cuma anak cucu PKI, tapi juga Masyumi dan orang-orang yang dulu ditindas Soeharto. (iy/irw)











































