Cucu Jenderal Soedirman: Para Pengelola Bangsa Telah Salah Kaprah

Cucu Jenderal Soedirman: Para Pengelola Bangsa Telah Salah Kaprah

- detikNews
Selasa, 11 Nov 2008 15:29 WIB
Cucu Jenderal Soedirman: Para Pengelola Bangsa Telah Salah Kaprah
Jakarta - Cucu Jenderal Soedirman, Bugiakso, melihat pemerintah sebagai pengelola negara telah salah kaprah dalam mengurus rakyatnya. Karena negara kaya seperti Indonesia justru rakyatnya banyak yang miskin.

Menurut pria berkumis ini pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berani menderita demi kepentingan dan kebahagiaan rakyatnya bukan malah sebaliknya.

Memimpin sebuah bangsa diibaratkan capres Partai Indonesia Sejahtera (PIS) ini sebagai mendaki gunung, dimana langkah pertama sudah pasti rekoso (menderita,lelah) namun apabila tetap bertahan dan konsisten maka akan muncul sebuah kenikmatan batin karena bisa membawa rakyatnya merdeka 100 persen. Merdeka dari sisi ekonomi, politik, sosial
dan budaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hal inilah yang diakukan oleh Jenderal Soedirman," kata Bugiakso kepada detikcom.

Lantas apakah yang mendorong cucu Soedirman ini memasuki kancah politik nasional? Apakah masalah yang dilihat dan dialami dari bangsa ini? Bagaimana solusi yang ditawarkannya sesuai dengan prinsip Jendral Soedirman?

Berikut wawancara Ronald Tanamas dari detikcom dengan Bugiakso:


Bagaimana anda menyikapi pinangan PIS untuk jadi capres?

Saya belum memutuskan menerima atau tidak. Saya masih mengevaluasi dulu tentu pinangan ini. Saya terimakasih sekali telah dipinang oleh PIS. Namun itu semua tidak lepas dari 3 hal sebelum saya menerimanya yaitu refleksi diri saya apakah saya sanggup mengemban tugas berat ini, pendapat dari Jendral Soedirman Center dan yang lebih penting adalah restu dari keluarga besar Jendral Soedirman. Akan tetapi yang saya hargai dari hal ini adalah semangatnya untuk mengubah tatanan dari bangsa ini untuk diduduki oleh anak-anak muda agar menjadi lebih baik.

Lantas kenapa ada semacam deklarasi capres?

Saya hanya melihat masalah substansinya saja. Substansinya adalah bagaimana menyelesaikan masalah bangsa ini yang sudah semakin parah dan salah urus oleh pihak pengelola.

Bagaimana awalnya sampai ada semacam deklarasi pencapresan anda?

Awalnya saya disuruh untuk mengikuti kancah perpolitikan nasional oleh keluarga besar Jendral Soedirman setelah melakukan zikir bersama yang diikuti oleh 50.000 orang di DIY Yogyakarta pada tanggal 7 Oktober. Nanti kita juga akan melakukan zikir bersama lagi pada tanggal 10 November di Garut dan puncaknya di Surabaya dengan masing-masing diikuti oleh oleh 15.000 orang santri yang dikumpulkan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Setelah saya mengikuti seluruh ritual zikir tersebut yang dilaksanakan di seluruh pulau Jawa baru saya bisa memutuskan untuk menerima pinangan tersebut atau tidak.

Kenapa?

Karena tanggung jawab menjadi seorang pemimpin itu sangat besar sesuai dengan prinsip perjuangan dari Jendral Soedirman bahwa yang menjadi pemimpin harus siap menderita sedangkan rakyat tidak boleh menderita.

Saya membuat sinonim bahwa memegang jabatan itu seperti naik gunung. Langkah pertama adalah rekoso (penderitaan) namun jika tetap konsisten dan mempunyai misi yang jelas setelah mencapai puncaknya itu semua terasa nikmat dari batin. Jadi saya harus berusaha membuat sesuai dengan ajaran Jendral Soedirman yaitu membahagiakan rakyat.

Apa yang anda lihat dari permasalahan bangsa ini?

Saya melihat bahwa negara ini sedang mengalami kemiskinan dan kemerosotan dalam segala lini. Jika negara yang miskin mempunyai rakyat miskin itu hal wajar namun negara kaya mempunyai rakyat yang miskin itu sangat tidak wajar.

Apa yang menyebabkannya?

Karena bangsa ini telah kehilangan proses dirinya yang terdiri dari 5 diri yaitu kenal diri, tahu diri, jati diri, percaya diri dan mawas diri. 5 diri ini yang digunakan leh Jendral Soedirman dalam memerangi Belanda. Jendral Soedirman mengenal dirinya dahulu dan kemudian tahu diri bahwa pasukannya sangat sedikit dan tidak mungkin melawan Belanda yang pasukannya banyak. Karena itu beliau melakukan gerilya sehingga mendapatkan jati diri sehingga bisa percaya diri setelah memenangkan pertempuran di beberapa daerah.

Setelah 4 hal itu diperoleh beliau maka Jendral Soedirman dengan pasukannya yang sedikit melakukan mawas diri sehingga bisa memenangkan pertempuran melawan penjajahan Belanda.

Apa hubungannya dengan keadaan bangsa ini?

Bangsa ini adalah bangsa yang kaya namun memiliki rakyat yang masih jauh dari kemiskinan. Saya tidak mau bilang pemerintah karena kerjanya hanya memerintah saja. Saya bilang pihak pengelola di bangsa ini sudah salah kaprah tidak mau memikirkan kepentingan rakyatnya dan sudah tidak sejalan dengan misi dan visi dari Jendral Soedirman.

Solusi seperti apa yang anda tawarkan untuk bangsa ini?

Kita sudah mempunyai kajian dan juga mempunyai blue printnya yang intinya seluruh potensi daerah harus kita optimalkan. Masing-masing daerah harus punya jati diri. Jadi jangan dipaksakan daerah A harus bisa menjadi seperti daerah B ini yang salah kaprah setelah diurus oleh pihak pengelola sekarang ini.

Pengertian kongkret dari blue print?

Blue print ini harus memecahkan masalah bangsa dari Sabang sampai Merauke. Pemimpin harus bisa mempunyai peta permasalahan dan harus tidur di atas blue print tersebut.

Tapi sekarang kita melihat banyak penyelesaian masalah berdasarkan keadaan lokal, padahal itu tidak sama cara penyelesaiannya sehingga jika diaplikasikan secara nasional menjadi tumpul. Salah satu contoh masalah pendidikan. Pendidikan di kota Sambas, ada siswa masih sekolah seminggu sekali atau dua kali yang disebabkan oleh transportasi dan gurunya yang tidak memadai.

Pada saat ujian nasional mereka harus mempunyai standar yang sama itukan nggak betul. Nah seharusnya ini mempunyai blue print bagaimana bisa mempunyai guru yang bisa mengajar setiap hari seperti standar yang sudah ditentukan.

Bagaimana cara anda mengatasi krisis global saat ini?

Sebelumnya saya akan menguatkan ekonomi dan jangan tergantung kepada bangsa asing. Wong dulu asing kita lawan kok, kenapa sekarang kita harus tunduk dengan peraturan asing. Kita ini harus bergantung kepada bangsa sendiri bukan malah minta dijajah kembali. Ini yang menurut saya tidak benar. (ron/iy)


Berita Terkait