"Di gedung DPR justru paling banyak premannya. Paling banyak penjahatnya," kata Aton Medan, mantan preman yang kini memimpin pondok pesantren ini kepada detikcom, Rabu (5/11/2008).
Berikut petikan wawancara detikcom dengan Anton:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Basis penjahat justru di Gedung DPR. Sudah merata di wakil rakyat. Kalau wakil rakyat sudah penjahat artinya sudah merata. Maka KPK nggak perlu nunggu. Tutup mata saja jalan ke Gedung DPR, terus pegang salah satu anggota, pasti kalau nggak penipu, ya maling.
Bagaimana seharusnya memberantas premanisme seperti itu?
Gampang. Kalau saya presiden nggak ada yang sulit. Hukum kita kan jelas. Seseorang yang mengintimidasi dan memeras itu ya, pemeras. Ada hukumannya. Jelas bisa ditindak.
Menurut Anda yang buat marak premanisme itu apa?
Sekarang kita mau dengar laporan LSM atau laporan presiden. Angka kemiskinan, apalagi krisis global, membuat susah lapangan pekerjaan. Menyulitkan produk kita untuk ekspor. Lalu PHK terjadi. Ini permasalahan besar yang jadi pemicunya.
Perlukah ada pembinaan terhadap preman yang ditangkap?
Preman itu produk dari masyarakat sendiri. Masyarakat yang melahirkan penjahat. Ada debt kolektor kan pasti ada yang nyuruh. Itukan dari masyarakat juga. Preman itu pintar-pintar.
Nggak ada yang bodoh. Pejabat kita juga gitu. Sama-sama pintar cuma kagak benar. Ada ponpes buat preman cuma monitor saja. Setelah itu mau ngapain? harus ada lapangan pekerjaan supaya terarah. (gus/iy)











































