DetikNews
Jumat 07 November 2014, 19:06 WIB

Satu Jam Bersama Ahok

Ahok: Ketakutan Terbesar Dalam Hidup Saya Adalah Nggak Bisa Amanah

Ropesta Sitorus - detikNews
Ahok: Ketakutan Terbesar Dalam Hidup Saya Adalah Nggak Bisa Amanah (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta - Plt Gubernur DKI Basuki T Purnama selama ini dikenal tampil tegas, lugas, tidak basa-basi. Namun sebagai manusia, Ahok juga memiliki ketakutan terbesar dalam hidup: kalau tidak amanah alias tidak bisa dipercaya.

"Ketakutan nggak amanah. Karena kalau rusak nama kan semua harta nggak ada artinya. Ini kan sejarah, kalau kamu rusak nama kan habis selamanya. Kalau kamu tiba-tiba takut hidup nggak baik lalu korupsi, atau takut kehilangan jabatan lalu kamu belain si A si B, itu yang rusak sistem," jawab Ahok saat ditanya ketakutan terbesarnya dalam hidup.

Menurutnya, ketika seorang sekali tidak bisa dipercaya, maka nama baiknya akan rusak. Nama baik, lanjut Ahok, lebih berharga dari semua kekayaan.

"Ini kan sejarah, kamu baik atau tidak, nggak bisa ditulis ulang. Orang bisa tahu, mungkin 10 tahun atau 100 tahun yang akan datang.
Ya mungkin kalau kamu udah nggak ada pun, mungkin cucu kamu masih bisa ingat. Ini kan sejarah, nggak bisa ditutup. Kalau kita nggak baik, orang juga mencatat enggak baik. Itu saja yang saya kuatir, jangan sampai namanya rusak," imbuh Ahok.

Berikut wawancara lengkap detikcom bersama Ahok yang diterima di kantornya selama 1 jam di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (6/11/2014):

Setelah jadi Plt Gubernur, tingkat stresnya makin bertambah ya?

Sama saja sih sebetulnya saya pikir. Kalau dibilang beda, ya hampir mirip kok. Bedanya nggak ada beking saja, kalau dulu kan bisa ngeles. Misalnya kalau manggil kita tapi kita sudah malas, kan bisa ngeles kan, mesti minta persetujuan Pak Gubernur nih. Aku mesti tanya sama Pak Gubernur nih. Kalau sekarang nggak bisa, ya kamu mau ngomong apa saja pun, ya itu putusan kamu. Kamu nggak bisa 'jualan' Pak Jokowi lagi kan. kalau dulu kan bisa.

Jadi lebih hati-hati sekarang kalau ngomong?

Enggak juga sih. Aku enggak pernah ngeh juga.. Hehehe.. Kalau hati-hati kan, biasanya ada 'emmm' kayak almarhum Pak Moerdiono dulu, Mensesneg
dulu, itu namanya hati-hati.

Load kerjanya bagaimana, tambah banyak?

Sebetulnya hampir sama juga load kerjanya. Karena dari dulu kita administrasi kerja kan, ya sekarang load kerja banyak karena Pak Jokowi begitu terpilih kan banyak berkas, yang beliau nggak sempat disposisi kan, karena beliau sibuk. Makanya sekarang kita cicil. Kan semua surat yang masuk kan harus kita baca, supaya enggak binggung.

Kan enggak mungkin Sekda dan staf semua berani tindak apapun kalau tidak ada disposisi dari kita. Sedangkan untuk disposisi kita mesti baca gitu banyak. Kalau dulu kan ya pak Jokowi masih gubernur dia baca dan disposisi ke saya, nah begitu dia mulai sibuk nyusun kabinet segala macam, kan dia hampir tidak ada di tempat. Nah tu kan nyisain berkas.

Walaupun waktu dia kampanye juga sudah banyak berkas kan, waktu dia kampanye cuti, dan ada surat masuk. Cuma kita nggak satu pintu, dan saya nggak berani dong minta satu pintu. Jadi ada surat ke gubernur dan tembusan ke saya juga. Jadi ada surat ke saya, sudah saya baca dan tulis untuk diketahui, artinya nunggu komando, eh nggak tahunya suratnya balik ke saya lagi, jadi dobel. Nah itu yang tambah banyak. Tapi itu sudah teratasi. Jadi kalau ada surat masuk, ya satu saja. Masa surat ke gubernur masih ada tembusan ke saya, ya yang ke wagub enggak usah masukin lagi.

Kemarin Pak Ahok sempat mengatakan kerepotan karena harus hadir di acara-acara seremoni?

Nah itu saja yang aku nggak gitu suka. Aku nggak gitu suka terlalu banyak acara-acara seremoni, itu kan buang waktu.

Termasuk acara-acara seminar?

Iya, kalau mau ya ke sini saja, kalau pengen dapat sesuatu atau mau undang kita datang ya ke sini saja deh, supaya saya hemat waktu kan. kalau di sini oke kita datang, kalau ke tempat lain kita sudah malas. Waktunya habis banyak.

Ini saja tiap Minggu kita harus lembur kira-kira tiga jam, Sabtu-Minggu. Kan kalau misalnya malam ada acara kan enggak selesai itu sampai Jumat berkas-berkasnya. Senen kan tambah lagi, ya sudah mesti bawa pulang Sabtu-Minggu. Kadang di akhir pekan juga ada acara kawinan dan macam-macam ,nah di sela acara-acara itu kita kerjain.

Kayak kemarin kan, kita ke dokter gigi, kita enggak tau nih di dokter gigi lama atau enggak, ya udah bawa pulang deh satu koper. Ternyata di dokter gigi enggak lama, ya sudah kita selesaikan, supaya nggak menumpuk. Ternyata paginya sudah penuh lagi di meja kan hehehe..

Sampai berkoper-koper berkasnya ya Pak?

Kita bawa pulang belum pernah bawa dua koper sih, kita kerjain paling satu koper. Satu koper juga lumayan, bisa sampai 3 jam juga.

Itu kan pekerjaan menumpuk, cara menge-charge jiwa dan raga bagaimana?

Nah cara ngecharge-nya bagaimana, ya mau enggak mau harus disiplin. Tiap hari olahraga 35 menit, di-press. Olahraga yang agak capek. Jadi antara satu sesi ke sesi lain cuma boleh istirahat selama 10 detik.

Biasanya kita malas kan. Misalnya satu sesi habis, pasti langsung ngos-ngosan kan. Nah mau istrahat dulu sebentar, tapi kalau kamu enggak pakai hitungan, kamu enggak sadar bisa satu menit lebih loh istirahatnya. Tapi kalau 10 detik kan cuma tiga kali tarik nafas panjang sebetulnya. Kamu sudah mesti langsung mulai lagi.

Olahraga saya ya itu, senam jantung, supaya mesti kuat kan. Nggak usah lari atau treadmill, olahraga yang cuma modal badan saja dan bisa dilakukan di tempat saja. Langkah tegap kayak tentara. Nah tapi saat gerak itu, tangannya enggak hanya sebatas bahu tapi diayunkan sampai lewat bahu ke belakang. Jadi saat kaki diangkat tangan ikut ngayun. Dulu saya sih 25 menit kayak gitu, tapi sekarang susah, jadi paling 10 menit. Itu keringatan habis. Setelah itu squatlah, naik-turun. Tapi enggak usah loncat. Terus nyandar. Laki kan yang penting pondasi ini (menunjuk kaki) harus kuat.

Antara (set gerakan) ini ada 10 detik, kalau yang lain itu 30 detik. Kalau squat itu 3 menit. Setelah itu sit up 10 menit. Jadi semua itu mesti diukur dan dipasang jam di dinding itu. Nah kamu kan mesti press pagi-pagi. Tunggu itu dingin, kamu ya baca.

Biasanya baca buku apa?

Paling bagus ya baca firman Tuhan, cerita nabi-nabi. Kan mau jiwa dan raga kan. Jadi pagi-pagi kita press dulu nih. Begitu selesai paling enak, minum sesuatu kan enak ya.

Saya biasa bikin oatmeal, campurin madu sama gula aren. Biar manisnya enak. Kalau habis baru bangun saya langsung minum satu sendok madu saja. madu asli kan taro di freezer jadi dingin, dia enggak beku.

Jadi habis olahraga, oatmeal, terus baca, turun lagi, baru minum jus, terus naik mobil baru makan lagi, makan mi atau bubur. Kalau oatmeal kan cuma pemanasan. Sampai sini (kantor) ya kalau di ruangan ada pisang ya makan pisang saja.

Kalau kita sudah kuat pagi di-press, sampai malam ya tekanannya sudah kecil. Kalau kamu sit up kan itu capek, terus naikin kaki, atau squat kayak pesumo gitu kan getar kakinya. Atau ditarik, pull up, enggak usah pakai sarung tangan, biar nahan sakitnya. Jadi dipaksa supaya biasa badan ditekan, kalau sudah di-press gitu, kamu siang sampai malam, kamu sudah biasa.

Tapi sore sampai malam juga kalau aku sudah capek ya aku harus masuk ke toilet. Toilet paling adem.

Harinya Pak Ahok dimulai pukul berapa?

Pukul 04.30 WIB, kalau saya telat 5 menit pun berantakan. Kan ada acaranya pagi-pagi, ke toilet dulu, termenung. Terus sambil balas-balas sms dulu kan.

Terus pukul 05.00 WIB olahraga, pukul 06.00 WIB sudah selesai, turun ke bawah supaya ketemu anak-anak dulu sebelum dia berangkat. Doa bareng dulu, terus dia pergi, biasanya saya masih isenglah, main macam-macam olahraga seperti sand sack. Ya minimal kamu harus tahu cara memukul orang dan cara nendang orang hehehe..

Itu sebentar saja, nanti jam 6.30 WIB mandi sambil nonton TV kan, setelah itu berpakaian dan bersepatu. Pukul 07.00 WIB sudah jalan dari rumah. Pukul 07.30 WIB sampai di sini, kadang pukul 07.25 WIB.

Kalau pulang tergantung berkas, sama ada tidaknya kegiatan di luar.

Paling malam pulang dari kantor jam berapa Pak?

Dulu pernah hampir pukul 22.00 WIB ya. Rata-rata pukul 20.30 WIB malam. tapi kalau ada ketemu orang di luar ya pulang sore.

Di antara setumpuk kesibukan itu, masih sempat melakukan hobi nggak?

Hoby aku cuma duduk termenung saja hehehehe... Ya hobi masih. Kalau Sabtu kalau bisa kita mulai kegiatan pukul 09.00 WIB, jadi saya bisa mandi lebih siang. Jadi saya bisa di kebun yang di atap rumah itu lebih lama, lihat buah. Ya berkebun, kebun buah-buahan.

Lihat ikan dan anjing-anjing. Kalau sama anjing ya dekat, misalnya saat makan malam di rumah atau kadang kalau Sabtu anjing masuk kamar di rumah.

Punya anjing berapa Pak?

Ada dua. Campuran ada kampung sama Husky, satu lagi jenis Pom.

Kalau kebun tanaman buahnya apa saja?

Kebuh buah-buahan berbuah terus sih, kalau enggak jeruk, sawo, mangga, plum, jambu air, jambu kluthuk. Di atap rumah, ada di dalam pot.

Bapak masih ada waktu untuk hobi cocok tanam?

Iya Sabtu pagi, kan lebih ada waktu dikit. Hari-hari biasa juga saya naik sih (ke loteng rumah), melihat di sana. Kalau pukul 05.00 WIB-an itu kan kelihatan, udaranya juga enak, ada pohon dan laut, itu pagi-pagi sejuk. Siang yang enggak enak di daerah sana. Kalau pagi sama malam ya enak sekali.

Masih sempat mengajak anak jalan-jalan?

Ya tergantung. Kalau Sabtu atau Minggu ada yang agak kosong sorenya, ya biasanya kita nonton bioskop. Kalau di rumah, kalau memang lagi agak kosong kerjaannya, ya kita nonton juga, ada Indovision segala macam.

Pernah diprotes anak-anak karena waktu berkumpulnya kurang?

Enggaklah, dulu itu, waktu masih bupati. Mereka sudah terbiasa sekarang, mereka lebih suka main di rumah sekarang. Paling saya sambil lihatin mereka main.

Ya memang waktu enggak sebanyak dulu lagi. Tapi tiap pagi pasti ketemu kok, malam juga, karena mereka tidurnya malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Tapi kalau pulangnya terlalu malam, kadang pukul 24.00 WIB kalau ada rapat di luar, ya mereka sudah tidur.

Kalau buku favorit selain Alkitab?

Ya tergantung sih, sebenarnya buku-buku biografi orang yang lebih saya suka. Kalau buku-buku sukses yang lain mah mirip-mirip semua kok. yang paling beda itu baca buku biografi orang sebetulnya.

Biografi yang paling menginspirasi milik tokoh siapa?

Banyak sih. Semua ada sisi positif dan negatifnyalah. Sukarno, Abraham Couperus (Gubernur Belanda di Malaka) juga bagus. Itu juga buku yang bagus. Mao Tse-tung (bapak pendiri bangsa China), Lee Kuan Yew (bapak pendiri bangsa Singapura) juga bagus, Chou En Lai (PM China pertama) juga menarik.

Sampai saya pengen tahu. Saat ke Eropa saya baca Chou En Lai, dia duitnya begitu sedikit dan bagaimana dia bisa makan di Eropa. Ternyata di Eropa itu makan appetizer dikasih rotinya banyak, jadi dia enggak pernah pesan main course saat kuliah dulu di Prancis. Dia pesan sop doang, rotinya dia bebas ambil. Kalau untuk ukuran Asia mah, sop semangkok sama roti sudah kenyang.

Jadi saat ke luar negeri saya pengen coba juga, apa benar bisa bikin kenyang. Di sana rotinya ditawarin terus loh. Kalau roti banyak, kamu enggak pesan steaknya lagi. Banyak buku yang menarik sih sebetulnya.

Kalau satu buku yang favorit dari zaman kuliah terus dibaca sampai sekarang ada nggak?

Alkitab. Iya, tiap hari baca gak pernah bosan. Setahun saya habis sekali. Karena tiap hari baca kan.

Kalau musik, musik favorit Pak Ahok apa?

Aku nggak terlalu fanatik untuk musik. Rock yang klasik aku suka, rock yang agak pop aku suka, kalau yang klasik aku lebih suka. Kenapa aku suka yang klasik? Karena aku enggak tahu lirik lagunya. Jadi kita itu enggak kebawa. Kita bisa mikir. Kalau kita putarin lagu yang kita tahu, itu ganggu kita, kita bisa nyanyi dalam hati. Tapi kalau lagu yang ada liriknya, itu juga mengganggu kita mendengarkan. Jadi nggak bisa mikir.

Sebenarnya aku lebih suka naik mobil itu hening. Kan kadang-kadang supir ajudan itu suka mengidupkan lagu, ya aku pikir biarin sajalah, daripada dia ngantuk kan. Kadang kalau aku lagi pusing, matiin sajalah, pusing aku bilang.

Aku lebih suka naik ke mobil itu sebenarnya diam. Dulu di kamar pun itu kita enggak menaruh televise. Sekarang saja ditaro karena istri kadang-kadang ada acara malam yang dia mau nonton. Tapi aku enggak suka. Aku lebih suka kalau kamar itu hening. TV itu taruh di kamar mandi. Di kamar mandi kan bisa nonton. Ya berita juga sudah begitu banyak, kadang malah dikirimin orang.

Ya aku lebih suka duduk diam, lebih enak. Makanya kalau kurung saya di rumah sendiri saya oke saja. Diam saja lebih enak.

Ada band spesifik atau musisi yang Bapak suka?

Nggak ada sih. Ya ada lagu-lagu yang tentunya saya suka. Tapi sama band aku enggak terlalu fanatik.

Tapi lagu-lagu Raisa hafal ya?

Raisa hafal. Itu Iqbal yang kasih.. Hehehe... (sambil menunjuk stafnya).

Dangdut juga, kan dari kecil dangdut di kampung. Makanya kau ada orang demo pasang lagu dangdut aku menikmati saja, nggak terganggu aku. Banyak yang demo terus teriak-teriak dan putar lagu. Aku senang banget, kayak radio. Aku sih enggak terganggu, kalau mereka mau demo aku kerja, aku biasa saja.

Tentang hubungan bapak dengan Pak Jokowi dulu waktu jadi gubernur, seberapa dekat, apakah sekedar hubungan kerja atau curhat juga?

Ya kita sih teman buat ketawa-ketawa sih, kayak teman saja, bisa bercanda. Ada istrinya juga saya bisa candain dia, misalnya bertiga bercanda juga oke sih. Yang udah kayak temanjuga. Apalagi istrinya sama istri saya juga dekat kan, masih BBM-an.

Masih bisa teleponan/BBM-an sama Pak Jokowi?

Kalau Pak Jokowi nggak pegang BBM. Makanya saya bilang sama istri saya, kayaknya lu lebih hebat daripada gua sekarang. Kalau dulu kan mau ketemu Pak Jokowi saya bisa langsung turun kan, sekarang sudah susah nih. Kalau istri saya sama ibu (Ibu Negara Iriana) masih jalan terus.

Kalau dengan Pak Jokowi, bagaimana sekarang komunikasinya?

Lewat telefon. Lewat si Devid (ajudan Jokowi). Kan ada. Masih bisa telepon langsung.

Nomor telepon Pak Jokowi nggak ganti?

Ganti, tapi dia kasih tahu lagi yang baru... hehehehe.

Waktu pekan lalu dipanggil ke Istana itu dalam rangka apa ya?

Ya urusan inilah, transportasi. Dia lagi rapat dengan Menko Perekonomian, dan dengan beberapa orang, dia pengen saya dengarin, jadi saya ikut. Ikut di ruang sebelah.

Pernah dimintain tanggapan atau saran untuk urusan negara?

Nggak. Nggak pernah. (dengan suara memelan). Lu jangan mancing-mancinglah. Nanti jadi rame lagi gua, gara-gara gituan.

Menurut Pak Ahok, untuk Kabinet Kerja Presiden Jokowi berapa, dari skala 1-10?

Aduh...(sambil melipat tangannya dan menumpukannya di kepala) aku enggak tahu juga sih ya, kan belum kerja ya. Tapi kalau keseluruhannya kerja, ya sekitar 70-80 sudah oke sih ya. Tapi kita nggak tahu juga yang lain berapa ya, saya enggak gitu kenal juga yang lain gimana. Ya tunggu setahunlah baru ketahuan.

Sempat juga menyampaikan soal Ara, Rieke dan lain-lain sama Jokowi?

Ya namanya juga orang nge-twit, ya berkicau.

Hanya di twit saja, enggak diomongin sama Pak Jokowi?

Ya sudah terlanjur, orang ini sudah selesai kok. Apalagi kita ngomongnya dari awal kan, sudah selesai ya sudah. Itu urusan yang sulitlah. Itu off the record lah.

Kalau ketakutan paling besar Pak Ahok apa?

Ketakutan enggak amanah. Karena kalau rusak nama kan semua harta enggak ada artinya. Ini kan sejarah, kalau kamu rusak nama kan habis selamanya. Kalau kamu tiba-tiba takut hidup enggak baik lalu korupsi, atau takut kehilangan jabatan lalu kamu belain si A si B, itu yang rusak sistem. Nama kita ya rusak kan.

Nama baik kita lebih berharga daripada semua kekayaan. Ini kan sejarah, kamu baik atau tidak enggak bisa ditulis ulang. Orang bisa tahu, mungkin 10 tahun atau 100 tahun yang akan datang.

Ya mungkin kalau kamu udah enggak ada pun, mungkin cucu kamu masih bisa ingat. Bisa jadi ada Ahok Fans Club nanti kan. Kita nggak tahu kan.
Ini kan sejarah, enggak bisa ditutup. Kalau kita enggak baik, orang juga mencatat enggak baik. Itu saja yang saya kuatir, jangan sampai namanya rusak. Ya kita perlu jaga-jagalah.

Bapak banyak terima ancaman kan? Ada yang serius nggak?

Nggak juga. Kata siapa? Nggak juga, biasa-biasa saja. Kalau cuma ngomong-ngomong gitu doang ya biasa saja.

Enggak ada teror ke keluarga?

Nggak ada.

Kalau SMS masih dibalas?

Dibalas. SMS juga jarang ancaman. Di Belitung lebih banyak SMS ancaman. Di sini mungkin orang takut dilacak kan. Kalau di Belitung kan mereka berani mengancam-ancam. Di sini mah enggak, santai-santai saja. Jakarta lebih professional kan. Mau bunuh lu enggak perlu ngancam, kalau ngancam kan gertak.

Jadi ada jajaran PNS yang berani melawan sama perintah Bapak?

Siapa? PNS? Enggak ada yang berani terang-terangan berdebat dan melawan. Cuma dia mangkir saja hehehe... Ya cuek saja.

Jadi orang bilang saya nggak sabar itu salah. Saya justru orang yang paling bisa menguasai diri. Kalau kamu bikin kesal-kesal gitu, bisa sakit kamu. Makanya tiap pagi kamu mesti di-press dulu. Kalau kamu sudah biasa rasain sakit gitu, kamu sudah biasa hadapi tekanan-tekanan gitu. Kan fisik sama mental kan ada hubungan. Jadi kamu terbiasa kan.

Sama kayak tentara, kan mesti suruh dipukul, tapi pakai tekniknya ya, supaya kamu merasain dipukul. Kalau kamu belum pernah dipukul, kamu dipukul orang jadi syok loh. Makanya orang yang jago dan juara tanding, belum tentu jago berantem.

Kalau tanding kan dipisahin wasit. Kalau berantem benaran mana ada dipisahin wasit, sudah bak bik buk saja, tinggal soal mental dan tahan pukul saja. Makanya mesti latihan, sudah biasa begitu sudah biasa.

Jadi sama PNS yang sering mangkir gitu, tidak menyimpan sakit hati?

Nggak, gua cuek saja. Pura-pura gila saja. Memang mesti ada kadang-kadang rasa sadar- nggak sadar tahu nggak. Saya kadang-kadang nggak sadar saya Wagub atau Plt Gubernur. Enggak kok, gua pikir gua kerja saja di sini. Aku enggak terlalu pikirin.

Makanya kadang-kadang teman aku, tanya saja Sakti (asisten pribadinya) aku berubah nggak gayaku? Nggak kok. Mirip-mirip saja dari dulu. Karena aku nggak pernah mikirin jabatan aku, kalau terlalu mikirin kamu stres nanti. Anggap saja kita kerja, dapat kontrak gaji yang lumayan 5 tahun, dapat mobil dinas lumayan, ya sudah kerja saja. Kalau mesti masuk pagi ya sudah. Jadi nggak terlalu tegang gitu kan.

Bagaimana hubungan Pak Ahok dengan para politisi yang sempat berseberangan dan berseteru?

Baik-baik saja. Kita orang politik kan ada istilah 'Ciuman Yudas'. Yudas waktu mau nyerahin Yesus kan dicium dulu. Ditanya kan gimana cara nyerahin Yesus yang benar? Nanti yang gua cium itu ya Yesus yang ditangkap. Jadi kalau di muka umum ketemu ya cium begitu belum tentu cium benar, bisa jadi 'Cium Yudas' juga kan, hehehe... Ini istilah politik itu, 'Judas Kiss'.

Ya kita kan gini saja, kita pejabat publik, ketemu orang ya baik-baik saja. Apakah dia di belakang bayarin orang untuk nyerang kita, ngocehin kita, ya biarin saja. Nggak berani juga kan, kalau mau duel mana menang dia satu lawan satu. Bukan gua sombong gitu loh. Tapi nggak mungkin dong kita berantem gara-gara begitu kan, biarin saja dia mau ngapa-ngapain.

Kalau ketemu sih ya kita senyum-senyum biasa saja. Prinsip aku sih sederhana, 'lu jual gua beli'. Tinggal hitung-hitung saja, manfaat dan mudaratnya bagaimana.

Dulu juga sama kan DPRD ngajak ribut, preman segala macam. Gua bilang lu masuk DPRD dulu deh, baru duel sama gua. Kalau sekarang enggak pantas, lu preman, bukan siapa-siapa. Gua suruh orang gebukin juga habis, ngapain gua mesti turun tangan, bego banget gua gitu loh.

Ya dong, sama dulu dong pangkatnya. Kita ngapain Plt Gubernur ribut sama orang yang nggak jelas kayak gitu, kan enggak lucu. Lu jadi gubernur dulu dong, jadi gubernur mau duel baru kita duel. Nilai kita kan beda, ya ngapain gua kepancing sama lu kayak gitu. Logikanya kan kayak gitu saja sebetulnya.

Teman yang se-visi masih ada di jajaran Pemprov DKI?

Banyak. Sekda (Saefullah) oke, Heru (Kepala BPKD, Heru Budi Hartono) oke, deputi kayak Bu Yani oke. Banyak orang yang bagus kok. Kayak wakil kepala dinas kebersihan Isnawa Adji, lurah-lurah, Pak Darjamudi (Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian), Priyono (Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi) juga oke.

Teorinya kan paling buruk 30 persen, yang 60 persen lain swing voter, tergantung yang memimpinnya siapa. Saya bilang sih oke saja secara prinsip. Buktinya 2 tahun di sini oke-oke saja. Yang melayani aku semua itu PNS. Oke-oke saja. Yang penting nawaitu kita benar kok kita takut sih. Kan mati dan hidup di tangan Tuhan.

Bapak kan dipuji berhasil menutup Stadium, bagaimana tanggapannya?

Bukan puji akulah, itu puji Pak Komjen Suhardi Alius (Kabareskrim Polri) saja, bintang tiga. Kalau enggak di back-up dia mana bisa nutup. Aku beraninya karena di back-up polisi. Ya lah, mana ada orang sipil pakai pistol, adanya pistol air, kalau yang pakai peluru kan polisi.

Jadi kalau Pak Ahok nggak jadi gubernur, agak susah juga menutup tempat-tempat maksiat seperti itu?

Ya kan karena izin menutup kan ada di kita. Ya sudah, pas sudah keterlaluan ya kita tutup. Kan sudah dikasih peringatan, dua kali ketahuan, gua sikat lu ya. Dua kali ya sudah, harus ditutup dong. Dia juga oke-oke saja.

Masih teman kan sama pemiliknya?

Ya orang tetangga kok, ya mau bilang gimana. Kan sudah gua ingatin enggak boleh buka lagi kalau sudah macam-macam.

Pak Ahok tidak memandang bulu ya, sekalipun pada teman?

Enggak. Kan aku sudah dibilang, gua ditanya orang kalau mau buat aturan bahwa yang salah akan dipenggal kepalanya. Terus bapak kandungmu melakukan kesalahan, kamu penggal nggak? Saya bilang saya penggal, walaupun dengan menangis.

Terus saya dibilang, kalau gitu kamu kejam dong terhadap bapak kamu? Saya bilang, enggak. Bapak saya yang kejam terhadap saya. Kalau bapak saya tahu saya punya tugas akan memenggal kepala orang, kenapa lu sengaja berbuat itu? Kalau lu enggak sengaja gua masih bisa ampuni. Tapi kalau lu sengaja karena berpikir gua sebagai anak lu enggak berani menggal lu, lu salah. Berarti lu yang enggak sayang sama gua. Kalau dibilang lu enggak sayang sama bapak lu, enggak! Bapak gua yang enggak sayang sama gua. Nah itu jangan dibalik-balik. Ini prinsip.

Tugas kita begitu kok. Jangan cari gara-gara kan aku sudah ingatin kamu gak boleh. Dari dulu kayak gitu. Negara kalau mau hidup aman dan nyaman ya harus tertib, harus ada penegakan hukum, dan itu tanpa pandang bulu. Makanya dewi keadilan kan tutup mata, cantik, pegang timbangan dan pegang pedang juga. Ya kayak gitu prinsip.

Soal kepedulian pada ulama dan anak-anak yatim, Bapak juga dipuji..

Enggak, itu kan memang itu soal dari kecil saja. Saya masuk ke politik kan gara-gara memang nggak bisa nolong orang miskin. Kalau gua bisa nolong orang miskin semua, gua enggak mau masuk ke politik, ngapain. Jadi bos lebih enak, jam 8-9 masih di kolam renang makan mi, nongkrong di sport club, ngobrol-ngobrol dapat duit. Dengar-dengarin ada peluang bisnis nih, kan cuma gitu doang kan, join-join saja.

Ngapain gua mesti pusing dan bangun pagi-pagi. Paling sengsara itu hidup yang mesti bangun subuh-subuh. Gua kasih tau lu. Yang paling enak itu bisa tidur seenaknya. Tapi kalau gitu kita enggak bisa bantu orang miskin dan bantu orang yang dizolimi. Sekarang betapa banyak orang yang nggak bisa menyuarakan hak dia. Siapa yang bisa menyuarakan hak dia, ya pejabat.

Jadi harus jadi pejabat dulu, biar bisa kamu belain. Kata bapak saya ‘Kalau kamu punya Rp 1 miliar, bantu Rp 500 ribu Cuma bisa buat 200 ribu orang. Kalau kamu jadi pejabat, kamu bisa bikin semua orang punya penghasilan Rp 500 ribu. Kamu punya kuasa. Makanya filosofi Tiongkok itu, yang paling mulia adalah jadi pejabat. Nomor dua itu petani, ketiga itu pegawai. Pedagang itu nomor 6, seperti guru dan segala macam.

Nomor 1 itu pejabat, karena kamu tentuin nasib orang dan enggak semua orang bisa jadi pejabat, karena kekuasaan itu Tuhan yang kasih. Kamu minta apapun enggak bisa, itu Tuhan yang kasih. Nah kalau kamu dapat amanah seperti ini, kamu harus bisa menjalankan dengan baik karena ini dari Tuhan, karena kekuasaan itu dari Tuhan.


(nwk/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed