DetikNews
Kamis 02 Oktober 2014, 14:12 WIB

Ridwan Hasan Saputra: Matematika Sulit, Itu Fitnah

PASTI LIBERTI MAPPAPA - detikNews
Ridwan Hasan Saputra: Matematika Sulit, Itu Fitnah
Jakarta - Pekan lalu, media sosial dihebohkan menyusul kabar tentang tugas matematika seorang siswa sekolah dasar bernama Habibi, yang mendapat nilai merah dari gurunya. Habibi disalahkan sang guru karena menuliskan bahwa 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 4 x 6, bukan 6 x 4. Kakak Habibi, M. Erfas Maulana, yang juga mahasiswa di Semarang, itu mem-posting jawaban adiknya di media sosial. Sontak posting-an itu menuai berbagai tanggapan, termasuk dua profesor hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Guru-guru di SD itu kebanyakan guru kelas yang mempelajari semua pelajaran. Matematika, bahasa Indonesia, Keterampilan, IPS, sehingga tidak fokus,” kata Direktur Eksekutif Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Ridwan Hasan Saputra kepada majalah detik, Kamis, 25 September.

Belajar matematika, pelatih nasional Olimpiade Matematika sejak 2004 itu melanjutkan, membuat nalar bagus, sehingga punya kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, banyak guru yang menyajikan matematika dalam suasana yang tidak menyenangkan.

Akibatnya, banyak yang memfitnah matematika sebagai pelajaran yang sulit, padahal matematika itu pelajaran yang mudah.

Berikut wawancara lengkap majalah detik dengan Ridwan, yang sejak 2007 mengantarkan murid-murid asuhannya meraih 90 medali emas dalam lomba matematika tingkat internasional:

Terkait perdebatan soal 4 x 6 dan 6 x 4, yang melibatkan beberapa pakar matematika, pandangan Anda seperti apa?

Kalau sisi kontennya, menurut saya, di situ guru sedang mengajarkan konsep tentang perkalian sebagai penjumlahan yang berulang. Misalnya 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 hasilnya adalah penjumlahan 4 sebanyak 6 kali atau 6 x 4. Konteksnya seperti itu kalau saya lihat.

Sehingga, sewaktu muridnya jawab 4 x 6, itu menjadi suatu nilai yang salah. Meskipun hasilnya sama-sama 24. Beda lagi jika belajar komutatif, itu tidak menjadi masalah.

Mungkin, di sini pun yang harus dipahami, guru sedang mengajarkan apa sehingga disalahkan. Kalau sampai pakar berkomentar, ini saya melihat menjadi suatu hal yang dibesar-besarkan. Walaupun dari situ dapat kita lihat ada masalah pada pendidikan matematika Indonesia. Sampai menteri pun berkomentar. Padahal itu hal yang sederhana. Sebenarnya masih banyak konsep matematika yang masih ditangkap salah oleh guru-guru, termasuk juga masyarakat. Karena itu, yang harus diperbaiki juga pemahaman guru terhadap matematika.

Jadi tidak ada yang salah dalam perdebatan itu?


Saya melihat di sini gurunya menilai murid itu tidak menerapkan konsep yang (sedang) diajarkan. Tapi seharusnya guru juga menanyakan mengapa muridnya menjawab seperti itu. Apalagi ini yang mengerjakan kakaknya, jadi bisa saja muridnya tidak mengerti atau memahami apa yang diberikan guru. Kembali lagi, ini masalahnya bagaimana guru mengajarkan sesuatu kepada murid sampai murid tidak paham.

Seharusnya bagaimana konsep pengajaran oleh guru matematika?

Ketika di tingkatan dasar, kita mengajarkan sesuatu yang mudah dipahami oleh anak dulu. Ke dalam bentuk yang riil. Kalau sudah agak tinggi, bisa kemudian ke abstrak, seperti misalnya 4 x 6 itu sama dengan 6 x 4, itu tidak menjadi masalah, sama-sama (hasilnya) 24. Itu tidak menjadi masalah karena sifat komutatif. Ini tidak masalah jika diajarkan di tingkatan lebih tinggi.

Kalau SD kelas 2, tentunya tidak. Ini (komutatif) dulu karena anaknya pasti pusing. Urusan besarnya itu adalah memang banyak guru matematika yang tidak memahami konsep matematika secara benar, sehingga timbul ketidakpercayaan kepada guru.

Kenapa sampai begitu?

Karena guru-guru, terutama di SD, kebanyakan disebut guru kelas. Mereka mempelajari semua pelajaran. Matematika, bahasa Indonesia, Keterampilan, IPS, sehingga tidak fokus. Banyak juga latar belakangnya yang bukan matematika atau gurunya memang tidak suka matematika.

Bahkan guru olahraga pun pernah disuruh mengajar matematika. Saya pernah memberi pelatihan dan ada guru yang mengatakan, “Pak, saya mending dikasih raket saja daripada dikasih angka-angka.” Jadi tidak minat dengan matematika. Efeknya, muridnya pun tidak suka matematika. Ibarat marketing, jualannya itu tidak suka barang yang dijual, ya mungkin barangnya tidak laku karena dia tidak mendalami dan memahami itu.

Peran matematika dalam kehidupan sehari-hari?

Kalau saya melihat sangat penting, sangat banyak manfaatnya. Pertama, dari sisi penalaran. Menurut saya, belajar matematika membuat nalar kita bagus, sehingga kita punya kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal yang mempunyai hubungan dengan matematika, seperti saat pilpres (pemilihan presiden), prediksi siapa yang menang itu kan pakai matematika walaupun larinya ke ilmu statistik. Matematika itu seni bernalar memecahkan masalah.

Kalau sepenting itu, mengapa matematika masih dianggap sebagai ilmu yang rumit, ya?

Banyak yang memfitnah matematika sebagai pelajaran yang sulit, padahal matematika itu pelajaran yang mudah. Kedua, guru-guru menyajikan matematika dalam suasana yang tidak menyenangkan.

Pengajaran matematika itu harus dibuat dalam suasana menyenangkan, santai, bergembira. Ketika tadi saya bilang waktu selesai, banyak yang protes, “Jangan”. Mungkin kebalikannya, ketika guru bilang waktu habis, muridnya bilang “hore” karena seperti bebas dari penindasan.

Jadi, cara mengajar guru juga sangat penting. Guru yang cara mengajarnya menyenangkan, pasti guru yang mengerti konsep. Karena dia percaya diri mengajarkan ke anak. Masalahnya, guru yang tidak mengerti konsep karena ketakutan menyebabkan timbulnya guru yang pemarah, guru yang mengajarkan (dengan cara) tidak menyenangkan. Akibatnya, tidak menimbulkan minat terhadap matematika. 



Pendekatan Anda untuk menyajikan matematika yang menarik dan menyenangkan?

Kita harus cinta dulu kepada matematika. Kemudian mengajarkan dengan hati. Sesuatu yang keluar dari hati akan masuk ke hati. Sesuatu yang keluar dari mulut hanya akan masuk ke telinga. Mungkin kebanyakan guru mengajar hanya keluar dari mulut. Dia tidak berpikir membuat anaknya suka matematika, mengerti, dan menyenangi.

Anda membuat konsep matematika nalar-realistik. Seperti apa modelnya?


Dalam konsep yang saya temukan ini, kita mengajarkan konsep matematika dengan nalar. Caranya begini, kita buat soal berulang-ulang sampai dia bisa menyimpulkan sendiri bahwa konsep matematikanya seperti apa. Dari situ nalarnya terasah. Setelah itu kita berikan soal-soal yang realistik, yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti saya buat, misalkan, “20 anak main petak umpet, 5 anak sudah ditemukan, berapa yang belum ditemukan?” Kalau orang yang belajar matematika biasa akan menyebutnya 20 dikurangi 5, ya 15. Kalau nalar-realistik itu, karena ada 1 anak yang mencari dalam petak umpet, jadi yang belum ditemukan itu ada 14. Itu akan terasah dan terus terasah. Efeknya adalah dia mudah memahami pelajaran lain. Ini yang disebut tematik.

Beda dengan konsep yang dipakai di sekolah?

Terus terang saya melihatnya beda. Kalau di sekolah itu, dia menerangkan teori langsung contoh soal, dan anak langsung mengerjakan. Jadi, terangkan rumusnya dan terangkan teorinya. Kalau saya terbalik. Saya memberikan mereka contoh-contoh soal, lalu mereka yang cari rumusnya apa dan teorinya apa. Ini yang membuat nalar terasah. Jadi, misalkan langsung diberikan teori dan rumus, anak-anak akan berhitung saja. Di sini saya ajak mereka berpikir.

Mungkin tidak metode Anda diterapkan di sekolah?

Sangat mungkin. Terus terang, buat saya kurikulum itu ibarat mobil, guru adalah sopir. Yang penting itu sopir. Kalau sopir bagus, walaupun mobilnya cuma angkot, pasti akan sampai tujuan. Namun, kalau sopir tidak bagus, (meski) mobilnya Mercy, pasti tidak akan nyampe.

Saya adalah pelatih guru, banyak guru-guru itu mengatakan baru sekarang saya mendapatkan konsep matematika. Sebelumnya hanya melatih soal satuan pelajarannya, bukan isinya. Misalnya bagaimana menerangkan bilangan bulat atau perkalian. Sebelumnya mereka tidak pernah mendapat itu. Mereka hanya mencari sendiri. Kurikulum sebagus apa pun jika, mohon maaf, gurunya tidak berkualitas, tidak akan jalan. 



Benarkah kemampuan murid kita dalam matematika dan ilmu alam masih tertinggal?

Kalau menurut saya, untuk saat ini, kemampuan kita masih tertinggal. Kalau Olimpiade itu karena pelatihan khusus. Tapi, dari bukti anak Olimpiade kita banyak yang berprestasi, itu juga menunjukkan bangsa kita punya potensi jika dibina dengan benar. Ini masalahnya karena kita tidak dibina dengan benar.

Rata-rata pola ajar tidak berbasis pada nalar, terus, mohon maaf, gurunya pun harus terus belajar. Saya pelatih Olimpiade matematika untuk guru, hanya satu-dua orang yang punya buku Olimpiade matematika. Dan mereka jarang sekali pergi ke toko buku. Saya bilang, bagaimana bisa menciptakan anak-anak yang hebat kalau guru-gurunya sendiri orang yang tidak mau belajar lagi?


(pal/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
>