"Saya kebanjiran untuk mengisi ceramah nih selama Ramadan. Kebanyakan kuliah subuh," ujar pria berjenggot ini pada detikcom, Sabtu (30/8/2008).
Bagi pria kelahiran Bukittinggi, 28 September 1961 ini, Bulan Ramadan adalah saatnya meningkatkan amal ibadah. Kesempatan ini harus digunakan untuk mengintrospeksi diri supaya dapat kembali menjadi manusia yang dicintai Allah SWT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk urusan mudik, Tifatul mengaku tak pusing memikirkan soal tiket. Sudah merupakan tradisi ia mudik ke kampung halamannya di Sumatera dengan mobil pribadi.
"Biasanya lebaran hari pertama di Jakarta, salat Idul Fitri di sini, lalu baru mudik, nyetir sendiri," jelasnya.
Tifatul menceritakan ibunya berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Sedangkan ayahnya berasal dari Sidi Kalang, Karo, Sumatera Utara. Namun pihak keluarganya belum memutuskan akan mudik ke Sumbar atau ke Sumut.
"Biasanya kita bergantian, tapi tahun ini belum diputuskan mau mudik ke mana," pungkasnya.
(rdf/nrl)










































