Syafii Maarif, Magsaysay Award dan Muhammadiyah

Syafii Maarif, Magsaysay Award dan Muhammadiyah

- detikNews
Minggu, 31 Agu 2008 21:50 WIB
Syafii Maarif, Magsaysay Award dan Muhammadiyah
Jakarta - Ahmad Syafii Maarif secara resmi menerima Magsaysay Award pada hari Minggu, 31 Agustus 2008 pukul 15.30 waktu Manila. Syafii mengaku penghargaan ini ia terima tak terlepas dari persyarikatan Muhammadiyah yang membesarkannnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada 31 Juli 2008, MAARIF Institute (lembaga yang didirikan Ahmad Syafii Maarif) menerima surat pemberitahuan dari the Board of Trustees of the Ramon Magsaysay Award Foundation (RMAF) bahwa Ahmad Syafii Maarif akan menerima Magsaysay Award 2008,Β  dalam kategori Peace and International Understanding,

Pada acara penganugerahan (Presentation Ceremony) yang diselenggarakan di Main Theather, Cultural Center of the Philippines, Ahmad Syafii Maarif yang biasa disapa Buya Syafii,Β  didampingi oleh Nur Chalifah (istri) dan Raja Juli Antoni (Direktur Eksekutif MAARIF Institute). Turut hadir pada acara tersebut beberapa tamu undangan dari Indonesia, antara lain Abdullah Kusumaningprang (Wakil Duta Besar RI di Manila), Charles F. Hutapea (Direktorat Diplomasi Publik Deplu RI), Teten Masduki (Indonesian Corruption Watch-ICW), dan Anton Sudjarwo (Dian Desa).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Buya Syafii yang diberikan kesempatan memberikan sambutan singkat pada acara yang dihadiri olehΒ  Presiden dan Board of Trustee RMAF serta sekitar 2.000 orang tamu undangan mengatakan bahwa Magsaysay Award yang diterimanya tidak terlepas dari persyarikatan Muhammadiyah yang telah membesarkan sekaligus pernah dipimpinnya. "Saya diberi kepercayaan memimpin Muhammadiyah ketika Indonesia menghadapai masalah yang kompleks," tukas Syafii dalam siaran pers yang diterima detikcom, Minggu (31/8/2008).

Buya Syafii juga mengaku bahwa kerj asama dengan dengan para tokoh lintas agama agama (Katolik, Protestan, Buddha, Hindu dan Konghuchu) sebagai kekuatan sosio-kultural sangat penting dalam menentukan masa depan Indonesia yang sangat plural di bawah Pancasila sebagai common platform. "Untungnya, usaha saya bersama para tokoh lintas-agama untuk mempromosikan pluralisme, toleransi dan inklusivisme mendat apresiasi dan dukunganΒ  dari arus besar masyarakat Indonesia,"Β  ungkapnya

Di akhir sambutannya, Buya Syafii menyatakan filosofi hidupnya yang sangat sederhana bahwa tidak hanya orang beriman (believers) saja yang berhak hidup di muka bumi tapi juga orang yang tidak beriman (non-believers), bahkan ateis sekalipun, dengan satu syarat bahwa semuanya sepakat untuk hidup berdampingan dengan saling menghargai dan menghormati secara damai. "Saya sadar bahwa perdamaian mempunyai banyak halangan dan tantangan, tapi tanpa perdamaian, hidup menjadi tidak relevan (irrelevant) dan tidak bermakna (meaningless)," ungkap dia.

Riwayat Hidup Syafii:


Lahir:Β  Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935
Istri: Nur Chalifaf
Anak: 1 orang

Pendidikan:
- SR dan Madrasah Mualimin Lintau Sumatera Barat
- Mualimin Yogyakarta
- FKIP Cokroaminoto Solo
- FKIP Yogyakarta
- Universitas Ohio AS
- Universitas Chicago, Illinois

Pengalaman Kerja:

- Pengajar sekolah Muhammadiyah di Lombok Timur
- Dosen IKIP Yogyakarta
- Dosen Pasca Sarjana IAIN Yogyakarta
- Guru Besar UNY

Pengalaman Organisasi:
- HMI Cabang Solo, Ketua Bidang Pendidikan (1963-1964)
- GPII
- Pemuda Muhammadiyah
- PP Muhammadiyah (KetuaΒ  1999-2004)
- Maarif Institute (asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads