Teguh Hariyanto, Hakim Tipikor Pelanggan KRL & Kopaja 66

Teguh Hariyanto, Hakim Tipikor Pelanggan KRL & Kopaja 66

- detikNews
Senin, 25 Agu 2008 10:26 WIB
Teguh Hariyanto, Hakim Tipikor Pelanggan KRL & Kopaja 66
Jakarta - Tidak mudah menjadi hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Selain harus menangani kasus korupsi kelas kakap, hakim-hakim ini juga rawan diteror.

Meski demikian, hakim Tipikor Teguh Hariyanto tidak merasa takut atau terancam. Teguh mengaku selalu enjoy dengan profesinya itu. Mungkin itu juga sebabnya, pria yang menjadi ketua majelis hakim dalam kasus jaksa Urip Tri Gunawan ini bisa mencairkan kakunya sidang dengan candaannya.

Teguh yang lahir di Boyolali, 11 Januari 1959 ini selalu berusaha menjauhi stres. Itu sebabnya, sehari-hari dia memilih menggunakan transportasi umum untuk menghindari kemacetan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari rumahnya di Bogor, Teguh biasa berangkat pukul 05.30 WIB atau 06.00 WIB. Teguh biasanya naik ojek, lalu disambung angkot ke Stasiun Bogor untuk naik KRL Pakuan Express.

"Kalau sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, saya turun di Stasiun Juanda, lalu naik ojek. Tetapi kalau sidang di Tipikor (Jl HR Rasuna Said), saya turun di Stasiun Manggarai, lalu naik Kopaja 66," kata Teguh saat berbincang dengan detikcom, Senin (25/8/2008).

Rutinitasnya itu memang sempat menjadi bahan ledekan dari sejumlah sejawatnya. Namun dia merasa lebih nyaman dengan kebiasaannya itu.

"Kalau saya bawa mobil bikin penyakit, bikin stres," ujarnya.

Tidak takut copet, Pak? "Biarin. Lagipula, masa copet mau nyopet tukang copet?" selorohnya sembari tertawa.

Menurut Teguh, hingga saat ini dia tidak pernah mengalami kesulitan dengan kebiasannya itu. Saat ditawari pengamanan khusus hakim Tipikor, Teguh pun menolaknya.

"Saya bilang nggak usah, kasihan yang mengawal. Wong saya naik KRL," ujarnya.

Untung saja, hingga saat ini Teguh belum pernah mengalami teror. Dia pun berharap hal itu tidak dia alami.

"Saya hanya berpikir mengabdi. Sejauh ini, saya tetap bisa tidur nyenyak," kata Teguh

Hukum & Drum

Sebelum lulus meraih gelar sarjana dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang, tawaran pekerjaan dari Bank Bumi Daya sudah menanti Teguh. Namun Teguh merasa tidak sreg dengan pekerjaan itu.

"Pikiran awam saya, sepupu saya berangkat ke kantor saat hari masih gelap, pulangnya juga sudah gelap. Sempat juga saya di Bank Pembangunan Daerah, tapi saya selalu merasa ada yang kurang, sepertinya ini bukan dunia saya," bebernya.

Teguh pun memilih dunia peradilan yang sejak kuliah sudah menarik perhatiannya. Pertama kali berdinas sebagai hakim di PN Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 7 Maret 1991.

Dia pun diangkat menjadi hakim Tipikor pada awal 2006. Korupsi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Theo F Toemion menjadi kasus pertama yang dia tangani sebagai hakim di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat.

"Saya kan hakim di PN Jakarta Pusat. Sebagaimana undang-undang, hakim Tipikor bersidang di PN Jakarta Pusat. Tetapi artinya, secara fisik pengadilannya tidak harus di Jakarta Pusat. Tetapi karena kaitannya dengan yurisdiksi KPK dengan pengadilan Tipikor itu kan untuk wilayah Indonesia," jelasnya.

Meski pekerjaan rutinnya adalah tumpukan berkas kasus dan sidang, Teguh tetap punya waktu untuk bermain musik. Alat musik favoritnya adalah drum.

"Saya ini orang seni. Disuruh main musik 2 hari 2 malam, betah saya," ujarnya.

Hobi bermusik ini juga menurun ke tiga anak-anaknya yang justru tidak berminat mengikuti jejak ayahnya yang menjadi hakim. Anak pertamanya memilih jadi mahasiswa Kedokteran UGM, sedangkan anak kedunya mahasiswa Teknik Industri UGM.

"Tapi kita semua suka musik. Istri saya ini kan dulu teman satu grup. Kalau sekeluarga sedang ngumpul, kita main band. Kebetulan di rumah ada studio kecil," ujarnya. (fiq/nrl)


Berita Terkait