"Waktu anak saya umur belasan, saya merasa lebih aman melihat mereka terbang dibanding naik motor," katanya dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (21/8/2008).
Laki-laki kelahiran Semarang, 21 April 1961 ini memang memiliki hobi yang cukup unik dan boleh dibilang berbahaya: terbang. Tentu saja bukan terbang di atas sapu a la Harry Potter atau berkostum a la Superman, melainkan terbang di dalam sebuah pesawat mini model micro light atau Cessna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya usahakan setiap 2-3 bulan sekali untuk terbang," katanya.
Bagi Alvin, terbang menggunakan pesawat mini memberikan nuansa tersendiri. Di samping memicu adrenalin, terbang juga memberi Alvin berlimpah hikmah yang tidak bisa dia dapatkan "di darat".
"Pada saat kita terbang, kita merasakan betapa luar biasanya ciptaan Tuhan. Kita melihat dari perspektif yang berbeda dari biasanya. Kita menyadari kita ini bukan apa-apa. Kita hanyalah makhluk yang sangat kecil. Apalagi kalau pakai pesawat kecil yang diombang-ambingkan angin," papar Alvin panjang lebar dengan penuh semangat.
Selain itu, terbang juga memberikan pelajaran lain bagi Alvin. Dalam dunia penerbangan, tuntutan terhadap disiplin sangatlah tinggi. Sebab kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Karena itu orang yang punya hobi terbang dilatih untuk memiliki disiplin tinggi, melakukan segala sesuatu dengan terencana, dan selalu siap menghadapi kondisi-kondisi yang berbahaya. Mereka harus selalu siap dengan emergency procedures.
Hobi terbang ini tidak dia nikmati sendirian. Meski tidak bermaksud menularkan hobi uniknya itu, Alvin mengaku telah memberikan pelajaran terbang kepada anak-anaknya. Namun Alvin tidak tahu apakah salah satu di antara tiga orang anaknya akan ada yang mewarisi hobinya itu.
"Mereka sekarang masih fokus mengejar karir," kata Alvin.
Untuk bisa menikmati hobi berisiko ini, tidak sedikit kocek yang harus dirogohnya. Untuk bahan bakar saja, ratusan ribu rupiah harus dikeluarkan sekali terbang.
"Satu liter avtur sekarang berharga Rp 10.000. Untuk (pesawat) jenis micro light butuh 15 liter per jam. Kalau jenis Cessna lebih banyak lagi, 60 liter per jam," jelas Alvin.
Setiap kali terbang Alvin menghabiskan waktu sekitar 1-3 jam. Bisa dihitung berapa ratus ribu uang yang dikeluarkannya untuk bahan bakar saja. Belum lagi untuk peralatan-peraltan tambahan lainnya.
"Untungnya untuk pesawat saya biasa pinjam dari Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Anggota hanya membayar iuran untuk perawatan pesawat," paparnya.
Didorong oleh hobi terbangnya ini, Alvin mengaku mengkoleksi miniatur berbagai jenis pesawat di rumahnya di Semarang.
"Saya mengkoleksi miniatur berbagai pesawat, terutama yang pernah saya naiki. Saya taruh di ruang tamu," ujarnya.
Berkat hobinya ini, Alvin menjadi kenal banyak dengan orang-orang penerbangan.
"Itu membantu saya dalam menjalankan tugas saya di DPR," aku Koordinator Kaukus Penerbangan di DPR ini.
(sho/nrl)











































