Shawn adalah interpreter profesional yang sering disewa Deplu AS untuk mendampingi tamu dari Indonesia. Tak cuma menerjemahkan, Shawn bahkan laksana duta budaya, guide, maupun ketua kelompok.
Dia menjelaskan mengapa penduduk AS suka begini begitu, di mana mendapatkan restoran masakan Indonesia, dan juga bertugas mengetuk pintu kantor narasumber yang hendak WNI temui.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Udane salah mongso (Hujannya salah musim)," celetuk Shawn ketika mendampingi 3 wartawan Indonesia, termasuk detikcom, peserta IVLP on Cyber Journalism, di kawasan Gedung Capitol, Washington DC, medio Juli 2008 lalu.
Tak ayal, celetukan Shawn mengomentari hujan yang turun saat matahari bersinar terik itu membuat para jurnalis Indonesia tertawa. Bule bisa berbahasa Jawa memang terdengar unik. Masih banyak kosakata Jawa yang dikuasai Shawn.
Selama menetap di Yogya, ke mana-mana Shawn menggenjot sepeda anginnya atau naik bus kota. Dia juga makan menu sehari-hari warga lokal setempat.
"Makanan Indonesia enak. Saya suka pecel lele, saya suka gudeg," ujar Shawn yang juga jago bahasa Spanyol ini. Dulu, Shawn bisa makan pecel lele dengan harga Rp 3.000 saja alias tidak sampai satu dolar.
Mahir berbahasa Indonesia jelas keahlian langka di AS. Tak ayal, Shawn selalu mendapat pertanyaan langganan dari para narasumber, rekannya sesama warga AS, "Dari mana Anda mendapatkan kepandaian berbahasa Indonesia?" Pertanyaan yang selalu diwarnai dengan nada kagum.
Saat ini Shawn tengah memperdalam Sastra Indonesia di program S3 Universitas California, Barkeley. Pria humoris ini juga bermaksud memperdalam bahasa Jawa.
"Saya ingin ke Yogya akhir tahun ini atau awal tahun depan," harapnya. Tentunya, untuk mengudap pecel lele lagi ya Mas Shawn!
Foto: Shawn saat mendampingi peserta IVLP di Disney, Orlando, Florida (nrl/nwk)











































