"Batik bagi saya secara estetik menyenangkan. Kalau saya sempat, saya suka memakai batik terutama acara-acara resmi. Saya lebih suka memakai batik daripada dasi dan jas," kata cendekiawan ini.
Hal ini disampaikan dia di sela-sela acara public hearing seleksi calon hakim konstitusi di Gedung Wantimpres, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Jumat (8/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski telah mengenakan batik sejak lama, namun pria kelahiran Eckersdorf, Jerman, 26 Mei 1936 ini tidak pernah merogoh koceknya untuk membeli batik yang kini menjadi tren busana saat ini.
"Batik itu menarik. Tetapi harus saya akui baju-baju saya berasal dari orang-orang yang memberikan pada saya. Banyak jumlahnya. Saya tidak pernah beli baju (batik)," ujar Franz Magnis yang mengenakan batik warna coklat ini.
Franz Magnis juga tidak pilih-pilih motif batik yang akan dikenakannya. "Justru saya mendapat dari orang lain, saya mengikuti selera mereka. Saya juga tidak persis ingat dari siapa batik batik itu saya dapatkan," kata pria yang oleh rekan-rekan dekatnya sering dijuluki 'Kasman' alias Bekas Jerman ini.
Franz Magnis baru menanggalkan pakaian favoritnya itu jika bepergian ke luar negeri. "Kemungkinan itu sangat terbatas karena terlalu dingin di Eropa jika memakai batik. Biasanya saya pakai jas. Bisa saja saya datang secara folkloristik untuk menunjukkan budaya Indonesia, tetapi di sana terlalu dingin," papar dia. (aan/nrl)











































