"Di era sekarang semua media dapat digunakan untuk kampanye, termasuk dunia perfilman. Saya memilih sebagai produser karena ingin memberikan kontribusi film-film yang bermutu," kata Ade kepada detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (29/7/2008) lalu.
Menurut pria yang menjabat Ketua DPP PBR ini, langkah baru yang ditempuh sebagai produser dan pemain sinetron dimaksudkan untuk melatih para politisi agar tidak hanya dikenal dari gagasan-gagasannya. Selain itu, bermain film juga dapat lebih mempopulerkan seseorang dengan cara yang mudah diingat publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penambahan profesi Ade dari politisi ke produser juga didorong oleh semangat mengembangkan dunia perfilman yang lebih memiliki pesan mendidik di masyarakat. Hal ini didorong oleh banyaknya film dan sinetron yang hanya mengedepankan visi hiburannya daripada visi pendidikan yang mencerdaskan dan menyadarkan.
"Film dan sinetron yang ada sekarang kan gitu-gitu saja, kita ingin membangun yang lebih memiliki taste. Sehingga dapat meningkatkan kualitas perfilman dan sinetron kita di tanah air. Jadi tidak hanya fungsi entertain-nya saja yang kita bangun, tetapi juga fungsi edukasinya," terang mantan politisi PAN ini.
Sebagai contoh, Ade menjelaskan film pertamanya yang berjudul 'Bola Adalah Bundar' dibintangi para politisi seperti Ade Daud sendiri, dan pemain bola internasional seperti pemain Chelsea Frank Leboeuf dan aktor Louis Mandilor.
Film yang bertemakan komedi ini ingin menunjukkan pada publik betapa luasnya pergaulan Ade sebenranya. Ade tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga memiliki hubungan yang luas melintasi batas-batas geografis negara. Kelebihan inilah yang ingin dia tuangkan dalam bentuk film komedi.
"Sekarang masih dalam proses editing. Beberapa bulan lagi akan kita launching," janji Ade.
Ade juga sedang menggarap sinetron yang bertemakan cinta dan kemanusiaan. Sinetron yang berjudul 'Saat Cinta Tak Bisa Memilih' ini menceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan meski terhalang bebarapa tantangan. Tantangan itu berupa kebohongan dan penyakit yang mematikan.
"Film ini dibintangi oleh tokoh-tokoh yang sudah dikenal publik seperti Butet Kertarajasa, Tio Paku Sadewo dan lain-lain," terangnya.
Apakah upaya ini dalam rangka untuk pen-caleg-an lagi? "Ini lebih dari itu semua. Kita ingin membangun budaya perfilman dan sinetron yang lebih baik di Indonesia," terang Ade.
Saat dipastikan apakah dirinya akan mencalonkan diri sebagai caleg lagi, Ade Daud menjawab, "Kita lihat saja nanti. Yang pasti kalau saya nggak nyalon dan nggak jadi anggota DPR, rakyat juga yang rugi. Karena siapa yang membongkar korupsi selama ini kalau nggak saya," jawab Ade sambil tertawa. (yid/asy)











































