#77PortraitAnakBangsa

Angkie Yudistia Berdayakan Disabilitas Lewat Thisable Enterprise

Sukma Nur - detikNews
Jumat, 12 Agu 2022 18:13 WIB
Shot on OPPO Reno8 Pro 5G.
Foto: OPPO
Jakarta - Angkie Yudistia tidak pernah meminta untuk terlahir menjadi seorang tuna rungu saat usianya 10 tahun. Namun, takdir tersebut tidak bisa ditolak dan membuatnya belajar menerima keadaan. Sempat terpuruk dan bangkit, perempuan kelahiran Medan, Sumatera Utara 35 tahun ini justru berhasil dan sukses dengan berbagai kegiatan yang dilakukan sesuai dengan passion dalam dirinya.

Pada 2019, Angkie Yudistia diumumkan menjadi salah satu dari tujuh staf khusus milenial Presiden Joko Widodo. Ia dipercaya menangani dan menjadi juru bicara presiden di bidang sosial. Pencapaian tersebut tidak didapatkan begitu saja, tetapi diketahui karena sebelumnya Angkie sudah bergerak di bidang sociopreneur, khususnya untuk kelompok disabilitas.

Angkie mendirikan sebuah perusahaan yang disebut dengan Thisable Enterprise. Perusahaan yang dibangunnya pada 2011 ini bertujuan untuk memberdayakan kelompok disabilitas di Indonesia agar memiliki kemampuan, keterampilan, dan berakhir dengan menyalurkannya ke dunia kerja khususnya dalam industri ekonomi kreatif. Ia menilai saat ini kelompok disabilitas masih kesulitan mendapatkan pekerjaan yang baik, oleh karena itu ia memutuskan untuk membangun Thisable Enterprise agar kelompok disabilitas bisa bersaing dalam dunia kerja dan meningkatkan perekonomian mereka.

Saat ini Thisable Enterprise sudah berkembang dengan baik dan menjadi sebuah grup yang membawahi Thisable Foundation, Thisable Recruitment, serta Thisable Digital. Tujuan dan harapannya sama, Angkie ingin menyediakan berbagai macam pelatihan untuk kelompok disabilitas agar bisa bekerja secara profesional.

Di tahun yang sama saat dirinya diangkat menjadi staf khusus milenial, Angkie mendapatkan penghargaan Asia's Top Outstanding Women Marketeer of The Year dari Asia Marketing Federation. Hal tersebut membuat dirinya bertekad untuk lebih membantu kelompok disabilitas demi menuju Indonesia yang inklusif.

Kepedulian Angkie pada kelompok disabilitas tidak berhenti dengan berbagai gerakan yang dilakukan. Ia juga menuangkan semangatnya melalui buku yang berjudul 'Perempuan Tunarungu Menembus Bata' yang terbit di tahun 2011, dan 'Setinggi Langit' yang terbit di tahun 2013.

Diketahui, pendengaran Angkie mulai menghilang saat usianya menginjak 10 tahun. Diduga hal tersebut terjadi lantaran adanya efek penggunaan obat-obatan saat ia diserang beberapa penyakit, termasuk malaria yang dideritanya saat itu. Angkie sempat terpuruk, namun dukungan dari keluarga, terutama ibunya mampu membuatnya bangkit dan berhasil dengan berbagai kesuksesannya saat ini. (fhs/ega)