DetikNews
Jumat 07 Oct 2016, 11:38 WIB

Tokoh

Arsyad Hidayat, Melayani Jemaah Haji Sampai Menghadapi Tragedi

Rachmadin Ismail - detikNews
Arsyad Hidayat, Melayani Jemaah Haji Sampai Menghadapi Tragedi Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Hidayat (Foto: Rachmadin Ismail/detikcom)
Makkah - Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Hidayat adalah sosok yang tahu banyak soal jemaah haji. Dia sudah lama menjadi petugas haji, dan memimpin organisasi di Daker Makkah selama lima tahun terakhir. Kunci pelayanan terhadap jemaah baginya adalah kemauan untuk mendengar.

Ditemui di ruangannya di Daker Makkah, Kamis (6/10/2016), pria berusia 43 tahun tersebut bercerita soal pengalamannya selama ini dalam mengurusi jemaah haji. Pada tahun 2006, Arsyad mulai berinteraksi dengan haji sebagai kepala seksi visa di Subdit Dokumen. Setelah itu, pada tahun 2007 Arsyad pertama kali bertugas sebagai sekretaris Daker Makkah, baru pada tahun 2009 menjadi wakil kepala daker Madinah. Nah, sejak tahun 2011 Arsyad kemudian menjadi kepala daker Makkah sampai tahun 2016, kecuali tahun 2014. Dia adalah salah satu kepala daker Makkah yang cukup lama bertugas dalam rentang waktu yang hampir beruntun.

Saat ini, Arsyad juga menjabat sebagai staf teknis haji II Kantor Urusan Haji Indonesia di Arab Saudi. Bersama keluarganya, pria asal Bekasi, Jawa Barat, ini tinggal di Jeddah sejak tiga tahun terakhir. Masa tugasnya sebagai staf teknis haji II akan berakhir tahun ini.

Arsyad mengatakan, setiap tahun ada pengalaman berbeda yang dirasakan ketika berinteraksi dengan jemaah. Namun dalam urusan pelayanan, semua hampir sama, ingin didengar keluhannya oleh petugas.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Hidayat (Foto: Rachmadin Ismail/detikcom)Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Hidayat (Foto: Rachmadin Ismail/detikcom)



Satu momen khusus yang selalu diingat Arsyad adalah pada tahun 2009. Saat itu, ayah dua anak tersebut bertugas jadi wakil kepala Daker Madinah untuk bidang perumahan. Ada jemaah dari kloter UPG 001 yang baru tiba ternyata mendapatkan tempat yang kurang bagus dari segi lokasi, fasilitas dan sarana prasarana. Para jemaah yang terdiri dari pejabat daerah tersebut kemudian mengajukan protes keras.

Mendapat protes, Arsyad tak mau panik. Dia datang dan menemui setiap jemaah yang komplain satu per satu. Keluhan mereka didengar dan dicatat. Lalu, Arsyad meneruskannya ke pengurus pemondokan sampai benar-benar tertangani. Walau tak semua keinginan para jemaah bisa dipenuhi, namun pada akhirnya para jemaah bisa menerima.

"Lambat laun juga mereka merasa ternyata petugas serius ketika melakukan pelayanan," cerita Arsyad.

Nah, konsep mendengar keluhan jemaah ini yang dipegangnya selama bertahun-tahun. Jemaah yang datang setiap tahun berbeda. Mereka juga datang dari latar belakang suku, pendidikan, kondisi ekonomi, daerah sampai kebiasaan yang berbeda. Semua pasti ada masalah ketika bertemu dengan kultur di Saudi. Bagi Arsyad, masalah itu bisa diatasi lewat respons cepat.

Tak heran, saat menjadi kepala Daker Makkah tahun ini, fokus Arsyad dalam pelayanan adalah mendengarkan. Dia menempatkan satu sampai empat orang di setiap hotel jemaah, sebagai perwakilan panitia untuk mendengar keluhan jemaah. Para petugas itu ditempel fotonya di dinding dan disebar nomor kontaknya agar mudah dihubungi. Ada supervisor khusus yang mengawasi para petugas agar tetap standby di hotel membantu jemaah.

"Mereka harus jadi pendengar yang baik bagi jemaah. Kita mendengar setiap denyut nadi jemaah. Setiap kali ada permasalahan petugas merespons cepat," kata Arsyad.

"Dengan demikian gejolak sekecil apa pun bsia ditangani," sambungnya.

Hasilnya cukup efektif. Kehadiran petugas sangat terasa membantu jemaah. Sebagian besar petugas yang berstatus mahasiswa dari 9 negara Islam akhirnya memiliki kedekatan emosional dengan jemaah. Saat para jemaah pulang, mereka bahkan sampai ada yang terharu.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Hidayat (Foto: Rachmadin Ismail/detikcom)Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Hidayat (Foto: Rachmadin Ismail/detikcom)


2015 Tahun Tragedi

Selama memimpin daker Makkah, Arsyad menyebut tahun 2015 adalah tahun terberatnya. Saat itu, ada dua tragedi besar yang menimpa jemaah Indonesia, yakni robohnya crane di Masjidil Haram dan peristiwa Mina. Ratusan jemaah jadi korban tewas dan luka.

Momen itu dijadikan Arsyad sebagai pelajaran berharga. Bahwa sesempurna apa pun persiapan yang sudah dilakukan, selalu ada faktor lain yang menentukan. "Peristiwa tahun lalu itu, terus terang kami tidak pernah membayangkan dan memperkirakan itu terjadi," katanya.

Saat itu, Arsyad harus memimpin organisasi pelayanan, di saat bersamaan harus menjadi juru bicara untuk menjelaskan dua peristiwa tersebut ke publik. Semua urusan itu sangat menyita waktu dan tenaga, sampai pikirannya.

"Intinya kita nggak boleh takabur. Segala persiapan tetap ujungnya kita serahkan kepada Allah. Pelayanan melayani orang, melayani para tamu Allah. Tentunya skenario Allah, sangat jelas," urainya.

Tantangan terberat dalam melayani jemaah haji secara umum adalah terkait mobilisasi. Menggerakkan jemaah sebanyak 168 ribu orang bukanlah tugas mudah. Mereka harus diatur dari bandara ke kota Makkah atau Madinah, lalu diatur juga dari Makkah ke Madinah, lalu diatur dari Makkah ke Arafah.

"Alhamdulillah proses itu bisa dilakukan dengan kerja keras, dengan semangat pengabdian. Bekerja di waktu siang, malam pun dilakukan demi pekerjaan. Tidak jarang mereka harus tidak tidur, ketika melakukan pelayanan, apalagi emergency, sudah dipastikan petugas itu tidak tidur," ceritanya.

Menjadi petugas haji, kata lulusan Al Azhar Kairo ini, juga bakal menyita waktu dengan keluarga. Sudah bukan hal aneh, dalam satu tahun Arsyad meninggalkan keluarganya di Jeddah untuk mengabdi di Makkah. Walau dekat, namun tugas menuntut Arsyad untuk selalu siaga di posnya di Makkah.

Waktu istirahat pun hanya bisa dilakukan 3-5 jam per hari. Bahkan di saat puncak haji, nyaris tak ada waktu untuk sekadar memejamkan mata. Telepon terus berdering dan keputusan harus selalu dibuat.

"Apalagi menyangkut emergency, bisa dipastikan tidak akan tidur. Ada masalah jemaah tertabrak, ada jemaah hilang, peristiwa kehilangan uang dan lain-lainnya," ceritanya.

Untuk mengatasi stres dan tekanan, Arsyad kadang menghubungi keluarganya sesekali. Bercanda dengan anaknya yang masih berusia 11 dan 9 tahun menjadi obat tersendiri. Kadang Arsyad juga menghilangkan penat dengan mendengarkan musik tembang kenangan.

"Tembang kenangan masih enak didengar, lagu pesan religi juga untuk bisa bertahan semangat melakukan pelayanan," ceritanya.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Hidayat (Foto: Rachmadin Ismail/detikcom)Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Hidayat (Foto: Rachmadin Ismail/detikcom)


Ke depan, Arsyad akan tetap menjalankan tugas sesuai yang digariskan oleh atasannya. Namun dia juga punya cita-cita tersendiri bila nanti sudah pensiun atau punya waktu luang banyak. Dia ingin membuat sebuah lembaga pendidikan yang bisa bermanfaat bagi orang banyak.

"Saya terobsesi suatu saat memiliki lembaga pendidikan, pendidikan formal atau nonformal yang di dalamnya bisa memberikan ilmu pengalaman kepada mereka, sehingga bisa nanti melanjutkan apa yang saya buat saat ini," papar pria yang sedang menyelesaikan studi doktoral di salah satu universitas di Sudan ini.
(mad/slh)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed