DetikNews
Minggu 03 Juli 2016, 09:41 WIB

Tokoh

Ketua MA, Panitera PN Jakpus dan Saksi Nikah

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Ketua MA, Panitera PN Jakpus dan Saksi Nikah Ketua MA Hatta Ali (ari/detikcom)
Jakarta - Di tengah kesibukan memimpin pengadilan seluruh Indonesia, Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali masih menyempatkan diri menjalin silaturahmi dengan bawahannya. Salah satunya ia tidak sungkan menjadi saksi nikah anak buahnya.

Salah satunya adalah saat Panitera PN Jakpus, Edy Nasution menggelar pernikahan anaknya di sebuah hotel mewah di Jakarta pada awal 2016.

"Beberapa bulan sebelumnya (sebelum Edy tertangkap KPK-red), menikahkan anaknya. Saya sebagai atasannya, diminta menjadi saksi dan saya tidak pernah menolak," kata Hatta Ali.

Hal itu disampaikan dalam jumpa pers di kantornya pada Kamis (30/6) kemarin. Hadir dalam jumpa pers itu adalah Ketua Kamar Tata Usaha Negara, hakim agung Supandi; Ketua Kamar Perdata, hakim agung Sultoni Mandally; Ketua Kamar Agama, hakim agung Abdul Manan; Ketua Kamar Pidana, hakim agung Artidjo Alkotsar; Wakil Ketua MA bidang Yudisial, hakim agung Syarifuddin; Wakil Ketua MA bidang Non Yudisial, hakim agung Suwardi; Ketua Kamar Milter, hakim agung Timur Manurung; Ketua Kamar Pembinaan, hakim agung Takdir Rahmadi dan juru bicara MA, hakim agung Suhadi.

Edy sebelum menjadi Panitera PN Jakpus merupakan Panitera PN Medan. Bagi Hatta, tidak hanya menjadi saksi nikah panitera, anak hakim juga ia siap menjadi saksi nikah. Banyak anak hakim yang menikah dan ia menjadi saksi peristiwa sakral itu.

"Apa bila diminta anak buahnya, dari berbagai panitera kalau ditawarkan jadi saksi mungkin saya tidak pernah menolak, begitu pula anak hakim, saya tidak menolak sepanjang ada waktu," ucap Hatta.
Setelah menikahkan anak pertamanya di Jakarta, Edy kembali menggelar pernikahan anak keduanya di Medan. Kali ini digelar di sebuah hotel megah di Medan, Sumatera Utara dengan acara cukup meriah. Namun pernikahan yang digelar pada awal April 2016 itu, Hatta Ali tidak hadir karena kesibukannya.

"Tidak ada masalah, jangan dicampuradukkan kedinasan," ujar Hatta.

Dua pekan setelah menggelar pernikahan itu, Edy Nasution ditangkap KPK karena menerima suap untuk proses perkara PK. Sehari setelahnya, rumah Sekretaris MA Nurhadi digeledah MA dan menemukan uang Rp 1,7 miliar, salah satunya di toilet rumah. Dalam berkas dakwaan Dody--penyuap Edy--diketahui Nurhadi mengatur perkara PK itu.
(asp/Hbb)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed