DetikNews
Kamis 23 Jun 2016, 11:52 WIB

Benediktus Andries, Dokter Muda yang Ingin Tingkatkan Kualitas Anak Papua

Elza Astari Retaduari - detikNews
Benediktus Andries, Dokter Muda yang Ingin Tingkatkan Kualitas Anak Papua dr Andries bersama anak yang orangtuanya sedang dirawat di RS. Foto: Dok. Pribadi
Jakarta - Pilihan dr Benediktus Andries bekerja di Timika merupakan panggilan hidupnya. Jauh dari rumahnya yang ada di Ibu Kota Jakarta, dokter muda ini punya tujuan mulia mengabdi di Tanah Papua.

Pria yang akrab disapa Andries tersebut bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Malaria Timika di Kabupaten Mimika, Papua. Pusat penelitian tersebut adalah kerja sama antara Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika dengan Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPMKP).

Sebelum bergabung dengan YPMKP, Andries terlebih dahulu bekerja sebagai dokter umum di RSMM. Kondisi Timika yang tinggi angka malarianya menjadi perhatian pria asal Bogor itu. Sempat mengikuti program internship di Pulau Sumbawa, NTB, Andries memang memilih ingin memberdayakan kemampuannya untuk masyarakat di daerah yang masih kekurangan mendapat pelayanan medis.

"Setelah selesai internship langsung ke Timika. Awalnya kontrak dengan RSMM, lalu diangkat jadi karyawan tetap. Saya resign lalu pindah ke yayasan untuk penelitian itu," ungkap Andries.

Hal tersebut disampaikannya saat detikcom berkunjung ke Malaria Research Facility yang berada satu kompleks dengan RSMM Timika pada Sabtu (18/6/2016). Di usianya yang masih 27 tahun, Andries sudah memilih melanglang keluar dari megahnya Jakarta.

dr Andries bersama tim peneliti
Beruntung, orangtuanya memberi restu dan tidak mempersoalkan keinginan anak bungsunya itu untuk pergi jauh dari rumah demi memberikan pelayanannya bagi masyarakat Papua. Harapan Andries bekerja dalam penelitian adalah untuk membantu membebaskan Papua dari malaria. Papua merupakan wilayah dengan tingkat malaria tertinggi di Indonesia.

"Orangtua nggak ada masalah, apa pun yang saya mau untuk menggunakan ilmu saya kepada orang-orang mereka support. Saya ingin melalui penelitian ini, goalnya Timika bebas dari Malaria. Papua bebas dari Malaria, dan harapannya adalah se-Indonesia bebas malaria. Tapi segala sesuatu harus dimulai dari hal paling terkecil dulu kan?" ujarnya.

Meski Kota Timika sudah cukup ramai, namun daerah tersebut merupakan salah satu lokasi tempat sering terjadinya konflik. Beberapa tantangan lain juga ada. Namun itu tak menjadi hambatan bagi Andries untuk bekerja.

"Medan di Timika memang nggak gitu mudah, image di Ibu Kota kan di sini sudah jauh, aksesnya susah, tantangan besar, fasilitas nggak secanggih daerah kota, hiburan apalagi, sering terjadi perang pula. Soal keamanan nggak ada yang bisa jamin sepenuhnya," ucap lulusan Universitas Atma Jaya Jakarta itu.

Meski begitu, Andries mengaku tidak takut dan memilih untuk mendengar kata hatinya dibanding ketakutan pada tantangan yang ada. Ia menegaskan biarpun Papua jauh, tapi tetap masih bagian Indonesia dan seharusnya tidak dibeda-bedakan dengan daerah lainnya.

"Saya nggak takut, kalau umur sudah ada yang atur. Buat saya, saya menjunjung tinggi profesi. Dokter itu melayani dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Nggak semua orang bisa menjadi dokter. Saat sudah menjadi dokter, harapannya kita bisa mengaplikasikan apa yang kita miliki untuk masyarakat," tutur Andries.

dr Andries bersama rekan kerjanya
"Orang banyak yang anggap Papua jauh banget. Papua itu tetap Indonesia. Justru itu mereka, masyarakatnya, butuh kita. Jangan mikir yang jauh-jauh dulu, mungkin yang buat kita kecil, di sini itu buat mereka artinya bisa sangat besar," lanjut dia.

Hal tersebut dirasa perlu disampaikan karena ada kesenjangan dalam penempatan tenaga medis di Papua. Padahal masyarakat di Bumi Cenderawasih tersebut rentan dengan penyakit dan perlu mendapat banyak bantuan namun yang didapat tidaklah banyak.

"Papua cukup terkenal dengan masalah kesehatan, butuh banget tenaga kesehatan, dan nggak banyak yang mau datang. Saya sampaikan ini agar teman-teman untuk lebih berani lagi dan jangan pernah takut keluar dari zona nyaman," kata Andries.

Ini bukan hanya semata menjadi sebuah teori bagi pria kelahiran 30 Agustus 1988 itu. Sebab Andries pernah mendapat sedikit kekerasan ketika bekerja dari salah seorang warga Timika ketia ia sedang berusaha mengobatinya. Tapi itu tak memupuskan niatnya untuk terus mengabdikan tenaga dan pikirannya di Papua.

"Saya pernah dapat kekerasan fisik dari masyarakat asli. Saya pernah ditinju di kepala saya, ketika lagi proses pelayanan. Mungkin karena ramai jadi ada kesalahpahaman. Orang sedang tidak sehat dan tidak fit. Jadi dia nggak bisa optimal untuk mikir mana yang salah dan mana yangg benar," kisahnya.

Baca Juga: Berkenalan dengan Dokter Muda yang Mengabdi untuk Tuntaskan Malaria di Papua

"Balik lagi karena mereka nggak ngerti. Pola pikirnya agak berbeda, tapi tidak semua. Tapi dengan seperti ini, justru kehadiran kita diperlukan. Siapapun yang mau terlatih dan ditempa lebih baik harus mau datang ke tempat yang paling susah dulu," sambung Andries.

Selama bekerja di Papua, banyak hikmah yang ia petik selama ini. Tak sedikit hal-hal positif yang ia temukan dan semakin bertambah setiap waktunya. Pelajaran yang dinilai Andries sangat berharga tersebut belum tentu didapatnya jika bekerja di kota metropolitan.

"Kadang mereka bisa ngomong yang nggak enak, tapi itu untuk melatih kesabaran. Kalau mau diambil positif, banyak yang bisa dipelajari. Dari masyarakat asli, banyak yang nggak beruntung untuk bisa jadi dokter," sebutnya.

Bukan hanya dari sisi pendidikan saja, dari segi pelayanan kesehatan di Papua dibandingkan dengan kota-kota besar, sangat terlihat perbedaannya. Termasuk ketersediaan petugas medis sebab lebih banyak yang memilih untuk bekerja di kota-kota besar, terutama di Pulau Jawa.

"Kalau di kota besar kita berlomba-lomba meningkatkan kualitas hidup, dengan berbagai fasilitas, untuk melengkapi kehidupan, menambah hal-hal tersier. Kalau di sini, buat mereka untuk hidup tanpa penyakit dan tidak kurang gizi saja, itu sudah nggak mudah," terang Andries.

dr Andries bersama anak yang orangtuanya sedang dirawat di RS
Melihat kondisi Papua yang masih jauh dibandingkan warga di kota maju, anak terakhir dari dua bersaudara ini bercita-cita ingin mengambil pendidikan spesialis anak di UGM, Yogyakarta. Harapannya adalah agar ia bisa membantu untuk meningkatkan kualitas sumber daya di Bumi Cenderawasih itu.

"Saya minat di anak, saya ingin mereka bisa hidup berkualitas, karena mereka yang akan menjadi generasi penerus. Makanya saya mau sekolah lagi ambil spesialis anak, buat menjamin mereka nggak cuma hanya sekadar hidup tapi berkembang dan memiliki kualitas," kata Andries mengungkapkan tujuan mulianya.

"Saya ingin kembali menegaskan bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia meski memang jauh dari Ibu Kota. Maka peran dokter anak itu sangat penting juga. Selama ini mungkin yang tertarik datang banyak, tapi begitu sudah melihat adanya cobaan, maka yang bertahan jadi nggak banyak. Bahasanya, di sini perlu tenaga yang bukan cuma ahli atau terampil, tapi juga punya hati untuk Papua," imbuh dia.

Tujuan besar itu ada pada hati dan nurani Andries dan ia mengaku melakukan apa yang terbaik yang bisa dilakukannya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai bidangnya. Bahkan ia harus rela mengorbankan waktu atau kehidupan sosial maupun pribadinya.

Ternyata dokter berparas ganteng ini masih jomblo. Waktunya yang masih tercurah akan pekerjannya, membuat Andries memilih tidak menjalin hubungan asmara terlebih dahulu untuk saat ini.

"Saya masih single, saya belum punya pacar. Untuk sekarang saya rasa akan lebih produktif seperti itu. Kalau pasangan jauh, jadinya akan menghambat juga. Jadi untuk saat ini saya lebih fokus untuk pekerjaan ini," aku Andries.

Karena pekerjaannya yang cukup menyita waktu, maka ia selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin ketika mendapat jatah cuti. Andries pasti akan pulang ke Jakarta menemui keluarganya. Namun jika hanya libur biasa, pria yang hobi berolahraga ini akan menghabiskan waktu berkumpul dengan teman-temannya yang ada di Timika. Khususnya para pendatang.

"Kalau cuti saya terbang ketemu keluarga. Hiburan saya kumpul sama temen-temen. Di sini sudah ada tempat fitnes juga lho, saya kadang pakai waktu libur untuk olahraga. Tapi sebenarnya biasanya nggak begitu banyak punya waktu luang juga," pungkasnya sambil tergelak.
(elz/nrl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed