DetikNews
Jumat 03 Jun 2016, 18:36 WIB

Tokoh

Kisah Kerry Yarangga, Bagikan Ribuan Kelambu untuk Cegah Malaria di Papua

Bagus Kurniawan - detikNews
Kisah Kerry Yarangga, Bagikan Ribuan Kelambu untuk Cegah Malaria di Papua Foto: Kerry Yarangga (Bagus Kurniawan/detikcom)
Yogyakarta - Ada tiga macam penyakit mematikan di Papua yang sampai saat ini belum bisa teratasi. Ketiga itu adalah HIV/AIDS, Tubercolosis dan Malaria
atau lebih dikenal dengan sebutan ATM.

Kerry Yarangga (38), staf pengajar Universitas Cendrawasih (Uncen) Papua ini berhasil menurunkan penyebaran penyakit Malaria hingga 70 persen di Kabupaten Timika. Caranya adalah dengan membagikan kemudian membantu warga memasang kelambu di kamar-kamar tidur warga di Timika.

"Sebenarnya bantuan kelambu untuk Papua maupun wilayah Indonesia lainnya itu banyak sekali. Namun tidak ada tenaga atau sumber daya manusia (SDM) yang melakukan secara intensif," papar Kerry dalam acara "Bincang-bincang dengan Tokoh Inspiratif Papua" di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (3/6/2016) sore.

Oleh karena ada kekosongan SDM untuk melakukan hal tersebut, Kerry berinisiatif membagikan ribuan kelambu dari beberapa lembaga seperti Global Fund di beberapa wilayah. Dia bersama rekan-rekannya kemudian mendatangi satu persatu rumah-rumah warga di Timika untuk dipasangi kelambu.

"Saya keliling Timika untuk pasang kelambu di rumah-rumah selama 3 bulan. Kalau semprotan Malaria biasanya dilakukan 6 bulan sekali," katanya.

Menurutnya ada sekitar 31 ribu rumah dengan sebanyak 140 ribu kelambu yang telah terpasang. Setelah kelambu-kelambu terpasang, dia berhasil menurunkan dan mencegah Malaria di Timika hingga 70 persen.

"Kita bisa kontrol, menurunkan mengendalikan Malaria hingga 70 persen," kata Kerry.

Ada pengalaman menarik yang diperoleh Kerry saat memasang kelambu di rumah-rumah warga. Respon warga merasa senang, ketika ada yang membantu memasangkan kelambu. Sebab sebagian besar rumah warga sudah mempunyai kelambu namun tidak terpasang gara-gara tidak ada palu dan paku.

Kerry bertanya kepada ibu-ibu di rumah di Timika apakah kalau dibantu pasang kelambu bersedia atau tidak. Ternyata mereka bersedia dan mengaku sudah bosan menghadapi malaria. Ibu-ibu pun kemudian menunjukkan kamar mana yang mau dipasang.

"Mereka tidak bisa pasang hanya karena suami tidak ada atau karena tidak ada palu dan paku. Modal kita hanya bawa palu, paku dan tali rafia," kata Kerry yang juga alumnus S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat UGM itu.

Dia menekan kepada rekan-rekannya untuk tidak berandai-andai terlebih dulu dalam melaksanakan tugas tersebut. Namun warga harus didatangi, diajak berbicara kemudian dibantu.

"Datangi dulu rumah-rumah, pasang kelambu. Jangan takut dimarahi karena niat kita baik. Ternyata ibu-ibu itu senang karena merasa sudah bosan hadapi malaria," kata Kerry dalam acara talkshow yang diprakarsai PT Freeport Indonesia itu.

Selain memasang ribuan kelambu, saat ini Kerry melakukan edukasi kepada anak-anak sekolah. Sebab dengan melalui anak-anak sekolah lebih berhasil dalam memberikan pemahaman mengenai penyakit malaria.

"Kita sekarang mulai dari anak-anak karena kita tahu semua orangtua di Papua tidak mau anaknya kena malaria," pungkas Kerry.
(bgs/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed