DetikNews
Senin 04 April 2016, 14:48 WIB

Mengenal Yuska, Kepala Sipir Bergelar Doktor yang Masuk Bursa Hakim Agung

Andi Saputra - detikNews
Mengenal Yuska, Kepala Sipir Bergelar Doktor yang Masuk Bursa Hakim Agung Dr Syahrial Yuska BcIP SH MH (dok.kemenkumham)
Jakarta - Sebagian orang menganggap sipir identik dengan lelaki berkumis, kejam dan pendidikan tidak terlalu tinggi. Tetapi pandangan itu menjadi mitos belaka kala berkenalan dengan Syahrial Yuska. Tidak berkumis, ramah dan memegang gelar doktor.

"Saya mulai diangkat sebagai pegawai pada tahun 1985. Sudah 31 tahun jalan bekerja di sini," kata Yuska membuka perbincangan dengan detikcom, Senin (4/4/2016).

Sepanjang 31 tahun menekuni dunia penjara, Yuska telah keliling Indonesia membina para tahanan dan terpidana. Salah satu moment yang tidak bisa terlupakan saat ia bertugas di Lhokseumawe pada 90-an. Kala itu, pemerintah masih menyematkan status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dan berdampak pada situasi keamanan di dalam penjara. Sebab di penjara banyak titipan tahanan dari berbagai kejahatan, termasuk titipan militer. Kala itu ada sekelompok orang yang meminta tahanan dibebaskan. Mereka menyerbu LP Lhoksumawe dan melakukan tindak anarki.

"Situasinya sangat mencekam, taruhannya nyawa. Dari habis zuhur hingga asar," cerita Yuska mengenang.

Sebagai Kalapas, ia bertahan di dalam gedung menjaga aset, selain menjaga agar tahanan tidak keluar. Dari dalam sendiri, para tahanan minta dibebaskan. Dari luar penjara, orang melakukan aksi anarki menuntut rekannya dibebaskan. Yuska dan teman-temannya terjepit, berada di tengah.

"Kami mempertaruhkan nyawa, terjebak di dalam. Alhamdulillah, semua bisa dilalui," tutur ayah satu anak itu.

Bekerja di penjara, membuatnya tahu bagaimana sistem peradilan itu berjalan. Dalam rangkaian criminal juctice system, maka penjara adalah akhir dari sebuah sistem pemidanaan. Para sipir ditantang untuk mendidik para tahanan/terpidana yang dinyatakan bersalah untuk menjadi lebih baik.

"Ibaratnya sekolah yang mendidik siswa. Demikian juga dengan kami. Bedanya kami mendidik orang yang salah menjadi lebih baik. Di sekolah saja yang objeknya jelas, masih ada anak nakal. Apalagi di kami," ucap Yuska.

Selain masalah penghuni, reformasi penjara juga terbentur masalah lainnya yaitu masalah kapasitas penjara. Pernah mempimpin penjara di Medan dan Surabaya, Yuska menjadi begitu tahu banyak masalah di penjara.

"Ada yang berhak lagi untuk berkomentar," kata Yuska tidak mau mengomentari lebih jauh masalah LP tersebut.

Bertahun-tahun menggeluti dunia penjara, membuatnya banyak mengetahui sistem hukum yang banyak kekurangannya. Yuska yang kini bertugas sebagai Kepala Rutan Bantul, Yogyakarta itu berharap ke depan hukum bisa ditegakkan sesuai tujuan hukum yaitu keadilan, kemanfaatan dan kepastian. Harapannya itu akan diwujudkan apabila ia terpilih sebagai hakim agung. Pada akhirnya, Yuska menyerahkan penilaian dirinya kepada masyarakat. Sebab ia tidak menampik masih ada yang menganggap negatif lembaganya.

"Silakan saja (masyarakat memberikan masukan ke panitia seleksi hakim agung)," tutur Yuska.

Di bidang akademik, ternyata Yuska orang yang dahaga akan pendidikan. Usai mengantongi gelar DIII dari Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP), ia melanjutkan kuliah di Universitas Malikussaleh, Aceh untuk meraih gelar Sarjana Hukum. Setelah bertugas di Surabaya, ia kembali meneruskan pendidikannya di Universitas Airlangga (Unair) untuk Strata 2 dan Strata 3 hingga akhirnya meraih gelar doktor. Gelar tertinggi di bidang akademik itu ia raih setelah berhasil mempertahankan disertasinya dengan judul "Penyanderaan (Gijzeling) Dalam Rangka Penegakan Hukum Pajak Yang Berspektif Hak Asasi Manusia".

"Bagi saya, tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat," ujar pria yang menapak usia 51 tahun itu.

Istri Yuska saat ini adalah hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi (PT) Makassar. Adapun anak semata wayangnya sudah lulus dari Teknik Penerbangan ITB dan bekerja di PT Dirgantara Indonesia (DI).

Kenyang makan asam garam, Yuska tidak ngotot menjalani proses seleksi hakim agung 2016. Apalagi persaingan cukup ketat. Komisi Yudisial (KY) hanya mencari 1 hakim agung untuk kamar pidana, dari 21 peserta yang lolos seleksi.

"Hidup itu mengalir, tapi tetap berusaha dan ikhtiar. Kalau pun nanti tidak lulus (menjadi hakim agung), setidaknya sudah berusaha," tutur Yuska.

Yuska telah selesai mengikuti seleksi hakim agung 2016 tahap uji kualitas pada akhir Maret 2016 lalu. Ia bersama 86 orang lainnya akan diseleksi oleh KY apakah akan lolos ke tahap ketiga atau tidak. Rencananya, KY akan mencari 8 hakim agung untuk berbagai kamar di Mahkamah Agung (MA).
(asp/try)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed