DetikNews
Senin 07 Mar 2016, 14:35 WIB

Tokoh

Maha Abou Susheh, Perempuan Tangguh yang Jadi Konsul Kehormatan RI di Palestina

Nograhany Widhi K - detikNews
Maha Abou Susheh, Perempuan Tangguh yang Jadi Konsul Kehormatan RI di Palestina Foto: Maha Abou-Shusheh (Alsafeernews.com)
Jakarta - Presiden Jokowi menunjuk Nyonya Maha Abou-Shusheh sebagai Konsul Kehormatan RI di Palestina. Siapa perempuan asal Ramallah itu dan bagaimana kiprahnya?

Penelusuran detikcom menunjukkan Maha Abou-Shusheh adalah perempuan pengusaha tangguh. Menjadi pengusaha di negara merdeka saja banyak tantangannya, apalagi menjadi pengusaha di negara yang masih berkonflik seperti Palestina. Namun, kondisi negara yang sedang konflik itulah Maha digembleng.

Tumbuh sebagai anak sulung dari keluarga religius di Tepi Barat, Palestina, dia dididik dengan moderat. Keluarga besarnya menganut ajaran Islam yang taat hingga memisahkan ruang-ruang keluarga berdasar jenis kelamin laki-laki, perempuan dan anak-anak. Namun, aturan itu tak berlaku buat Maha, putri sulung kesayangan ayahnya yang tak memiliki anak laki-laki.

"Aturan itu terlarang bagi semua orang, tapi tidak buat saya. Ayah saya adalah orang besar di keluarga, jadi tak ada yang berdebat dengan dia, meski itu tidak dapat diterima...dan saya tak pernah ditinggalkan. Halangan itu tak ada buat saya," tutur Maha seperti dikutip dari The Globe and Mail edisi 7 April 2006.

Memasuki masa dewasa awal, Maha sempat terjun di bisnis konstruksi jalan yang dijalankan ayahnya. Sejak itu, dia menghabiskan mayoritas masa dewasanya bergelut di dunia bisnis.

Tahun 1988, Maha dan suaminya mulai mendirikan bisnis sendiri, dan makin berkembang, setelah Oslo Accord yang diteken pertama tahun 1993. Oslo Accord adalah perjanjian damai antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization/PLO), yang membuat terbentuknya Otoritas Palestina.

Maha dan suaminya berbisnis ekspor-impor barang ke Palestina hingga tahun 1996 menjadi distributor resmi pabrikan otomotif Peugeot di Ramallah di bawah bendera Abu-Shusheh Trading Company. Meski demikian, Mahalah yang mengendalikan operasional dealer sehari-hari dan bukan suaminya. Kiprahnya ini membuat bingung beberapa konsumennya, yang mendapati bahwa mereka mengadakan perjanjian jual beli dengan ibu 4 anak, dan mengenakan setelan bisnis ketimbang memakai hijab.

"Beberapa orang datang dan sangat religius, mereka tak mengharapkan berurusan dengan seorang perempuan. Tapi akhirnya, kenapa tidak? Saya pemilik di sini, sayalah manajernya dan mereka tak punya pilihan," tutur Maha.

Di awal-awal, dealer Peugeot miliknya mempekerjakan hingga 200-an karyawan di akhir 1990-an namun harus jatuh menjadi 120-an karyawan di akhir 2000-an. Penjualan mobil Peugeotnya sempat nihil dengan pecahnya gerakan intifada di Palestina, meski perlahan pulih. Mayoritas kliennya adalah dari otoritas Palestina.

"Di sini adalah negara yang kami tak punya rencana. Satu-satunya peraturan adalah jangan memiliki rencana," tuturnya sambil tersenyum kecut.

Dengan posisinya yang sangat bagus untuk ukuran Palestina, dia sadar akan ada kewajiban-kewajiban yang harus dipikulnya. Dia membantu forum bisnis perempuan dan merencanakan pembangunan pusat dukungan perempuan wirausaha di Ramallah.

"Pesan saya adalah lebih ke ekonomi ketimbang sosial. Saya percaya bahwa mereka (perempuan wirausaha) ingin dorongan, dan mungkin lebih dari sekadar dorongan, mereka butuh pelatihan dan ilmu know-how," tutur dia.

Menjadi wirausaha di Palestina tidak mudah, apalagi perempuan. Halangan utama bagi perdagangan dan transportasi logistik di Palestina adalah perlintasan batas dengan Israel.  
 
Maka, pada 2006 lalu, didirikan Palestinian Shippers Council atau Dewan Perkapalan Palestina. Dan Maha ditunjuk menjadi ketuanya.

"Perkembangan Dewan ini adalah ide dari sejumlah pebisnis di Palestina. Idenya adalah mengembangkan dewan lokal untuk mendampingi pengadaan barang-barang kebutuhan dan importir untuk mendukung Otoritas Palestina mengembangkan sektor perdagangan dan transportasi," jelas Maha dikutip dari Alsafeernews edisi 3 Juni 2005.

Dewan Perkapalan Palestina ini sendiri diinisiatori oleh badan PBB bidang perdagangan dan pembangunan (UNCTAD) yang mulai beroperasi pada 1 Januari 2006. Dewan ini akan memfasilitasi perdagangan, transportasi dan membangun jaringan perdagangan dengan negara lain. Dewan juga mengadakan pelatihan, kunjungan lapang ke pelabuhan, dan bagaimana menghadapi hal-hal legal seperti izin, penyimpanan, hukum dan tarif bea cukai.

"Importir dan eksportir Palestina adalah yang pertama yang menerima keuntungan dari pelayanan Dewan ini, kemudian juga pemilik usaha kecil menengah, perusahaan transportasi, konsumen Palestina, agen bea cukai, dan siapa saja yang terlibat dalam perdagangan," jelas Maha.

Karena kiprahnya ini, pada tahun 2006, dia dihubungi oleh Forbes Arabia sebuah majalah bisnis dan keuangan dunia. Di majalah itu dia  masuk 50 pebisnis perempuan Arab paling berpengaruh. Dia menjadi satu-satunya perempuan dari Tepi Barat dan Jalur Gaza yang masuk daftar itu di nomor 49.

"Saya percaya akan kekuatan perempuan, saya percaya perempuan punya kekuatan dan kemampuan serta potensi untuk melakukan apapun yang mereka ingin lakukan," tutur Maha.

Sebagai konsul kehormatan RI, Maha akan menempati kantor Konsulat Kehormatan RI yang berlokasi di Ramallah. Konsulat tersebut akan diresmikan bulan ini. Sebagai konsul kehoramatan, Maha tidak akan melakukan kegiatan diplomatik. Tugasnya sekadar untuk membantu WNI yang terkena masalah serta memberi masukan mengenai kerja sama ekonomi dengan berkoordinasi dengan perwakilan RI di negara sekitar Palestina.
(nwk/nrl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed