DetikNews
Senin 22 Februari 2016, 12:13 WIB

Muda Dan Menginspirasi

Yuke, Plastik dari Kulit Udang dan Revolusi Belanja di Supermarket

Rini Friastuti - detikNews
Yuke, Plastik dari Kulit Udang dan Revolusi Belanja di Supermarket Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Sampah plastik jadi momok menakutkan bagi lingkungan. Sejumlah penelitian sudah memastikan, bahan tersebut sangat sulit diurai dalam waktu singkat. Perlu ada revolusi di masyarakat tentang cara belanja menggunakan bahan ramah lingkungan.

Data dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Indonesia adalah negara kedua penghasil sampah plastik terbanyak di dunia setelah China. Setiap tahunnya, kota-kota di dunia menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton. Bank Dunia memprediksi, pada tahun 2025, jumlah tersebut akan bertambah hingga 2,2 miliar ton.



Fakta sampah di Indonesia, tercatat ada 10,95 juta lembar sampah kantong plastik dari 100 toko/gerai selama setahun. Bila dikonversi dengan luasan lahan, 10,95 juta lembar sampah kantong plastik yang berarti sama dengan area 65,7 hektar atau sekitar 60 kali luas lapangan sepakbola. Sampah plastik sebanyak itu baru bisa terurai setelah 50-100 tahun.


Diet Kantong plastik di waralaba (dok.detikcom)


Karena itu, pemerintah membuat penerapan aturan kantong plastik berbayar di 23 kota di Indonesia. Diharapkan, perilaku masyarakat bisa lebih bijak dalam penggunaan kantong plastik dan pengelolaan sampah. Bila gerakan ini berjalan baik, maka tahun 2020 Indonesia ditargetkan bebas dari sampah.


Kantong belanja (detikcom)


Melihat fenomena ini, seorang siswi SMA bernama Yuke Fadhlillah Kirana pun tergerak. Saat program penelitian ilmiah di sekolah, dia membuat sebuah plastik berbahan dasar kulit udang yang diklaim ramah lingkungan. Bila dibandingkan dengan plastik biasa, kantong plastik bikinan Yuke bisa lebih cepat terurai di dalam tanah.

"Kalau di tanah humus bisa 46 hari. Kalau di tanah merah bisa 60 hari terurainya," kata Yuke saat berbincang dengan detikcom di sekolahnya akhir pekan lalu.

Yuke mengatakan, produknya masih butuh beberapa penyempurnaan. Terutama terkait ketahanannya terhadap air. Sejauh ini, kantong plastiknya baru bisa membawa makanan kering dan saat diteliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), plastik tersebut mampu membawa delapan air mineral dalam kemasan sekaligus.


Yuke (Agung Pambudhy/detikcom)


Biaya produksi kantong plastik tersebut juga tidak mahal karena berasal dari limbah. Di pasar tradisional, Yuke bisa mendapatkannya dengan mudah.

Karena itu, dia yakin produk ciptaannya bisa membantu program pemerintah dalam pengurangan produksi plastik yang berbahaya bagi lingkungan. Selain membawa sendiri kantong belanja, Yuke menyarankan penggunaan produk plastik ramah lingkungan.

"Kalau belanja tanpa plastik, sebenernya mau upaya apa juga, nggak bisa langsung jadi masalah selesai gitu, tapi bisa berkurang. Jadi upaya belanja tanpa plastik nggak bisa langsung nyelesain masalah, tapi bisa jadi titik acuan. Ini harusnya gimana (ke depannya). Jadi aku mau coba kembangin lagi plastiknya supaya tahan air," urainya.


Yuke (Agung Pambudhy/detikcom)


"Masyarakat biar peduli deh sama plastik, jadi nggak cuma bikin public awareness tapi bikin action-nya juga," sambung anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.


Yuke (Agung Pambudhy/detikcom)





Anda punya kisah anak muda yang menginspirasi lainnya? Silakan kirim informasi ke redaksi@detik.com atau inspirasimu@detik.com. 
(mad/mad)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed