DetikNews
Kamis 24 Dec 2015, 11:11 WIB

Endang Sutriswati Rahayu, Periset Keamanan Pangan Lokal Penerima Penghargaan Presiden

Bagus Kurniawan - detikNews
Endang Sutriswati Rahayu, Periset Keamanan Pangan Lokal Penerima Penghargaan Presiden Foto: Bagus Kurniawan
Yogyakarta - Pakar keamanan pangan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Ir Endang Sutriswati Rahayu mendapat penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2015 dari Presiden RI, Joko Widodo. Dia terpilih menerima penghargaan karena penelitiannya mengenai keamanan pangan lokal.

Dia memperoleh penghargaan sebagai peneliti dalam bidang pelayanan ketahanan pangan. Penghargaan tersebut diberikan presiden di Istana Negara pada hari Senin, 21 Desember 2015.

Selama ini dia juga dikenal giat memberikan edukasi kepada masyarakat, UMKM dan petani untuk memperhatikan keamanan produk pertanian. Tujuannya agar terhindar dari cemaran toksin yang membahayakan kesehatan. Guru besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini dikenal meneliti mikrobiologi pangan produk pertanian berbasis biji-bijian seperti jagung, kacang tanah, kakao dan kopi.

Menurutnya keamanan pangan menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pangan dan masih menjadi ancaman serius tidak hanya di tingkat nasional maupun global.

"Di Indonesia masih banyak kasus keracunan makanan ataupun penyakit karena bahan pangan yang tidak aman akibat tercemar bakteri, toksin atau mengandung bahan kimia yang membahayakan kesehatan," ungkap Trisye panggilan akrabnya di FTP UGM, Rabu (23/12/2015).

Menurutnya salah satu isu yang harus segera ditangani adalah untuk menekan cemaran bakteri maupun toksin dalam produk pangan di UMKM. Sebab selama ini tidak sedikit produk pangan yang dihasilkan oleh UMKM yang masih ada yang tercemar karena tidak melakukan penanganan produk pangan dengan baik dan benar.

"Hal itu terjadi pada tahap pasca panen dan distribusi," katanya.

Salah satu sebabnya kata dia, karena dalam penanganan produk pangan belum memanfaatkan teknologi dan juga SDM yang terdidik. Banyak ditemukan cemaran toksin dari jamur baik berupa aflatoksin, ochratoxin, fumonisin dalam beberapa produk pangan UMKM yang melebihi ambang batas maksimum. Cemaran toksin tersebut berpotensi merangsang munculnya kanker di masa mendatang.

"Akibat lainnya produk-produk pertanian lokal kemudian tidak memiliki daya saing di pasar global," katanya.

Dia mengatakan untuk mencegah munculnya toksin pasca panen dan distribusi perlu segera dilakukan. Langkah tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran petani akan bahaya cemaran toksin pada produk pertanian mereka. Selain itu, para pelaku usaha untuk lebih memperhatikan standar keamanan produk pangan agar produk yang dihasilkan aman dan tidak berbahaya untuk kesehatan manusia.

Selama ini Trisye juga aktif dalam Jejaring Keamanan Pangan Nasional dan menjadi anggota Panel Pakar untuk Mikotoksin Indonesian Risk Assesment Center (INARAC) ini.

Kegiatan yang dilakukan antara lain dengan memberikan bantuan penyediaan fasilitas gudang penyimpanan sesuai standar, menyediakan mesin pengering produk pertanian.

"Kita berharap dengan adanya penanganan pasca panen yang benar, produk pertanian bisa bebas dari cemaran toksin sehingga bisa diterima di pasar internasional," ungkap doktor lulusan University of Tokyo itu.

Dia menambahkan dalam penelitian pada 2013 lalu di DIY masih ditemukan adanya cemaran toksin berupa ochratoxin pada kopi, kakao dan ketela serta fumonisin pada jagung di Temanggung.

Menurut dia, dari kasus tersebut menunjukkkan masih banyak produk pangan yang tidak aman karena penanganan pasca panen yang belum benar. Dia menekankan peningkatan kesadaran kepada petani mengenai bahaya cemaran toksin.

"Semua dilakukan agar produk pertanian kita benar-benar aman hingga siap disantap di meja makan," pungkas dia.
(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed