DetikNews
Kamis 17 Desember 2015, 14:51 WIB

Tokoh

Tentang Buaya Buas Komjen Buwas

Salmah Muslimah - detikNews
Tentang Buaya Buas Komjen Buwas Komjen Buwas (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Lembaga Pemasyarakatan dijaga oleh para sipir itu sudah biasa. Tapi kalau tempat para penjahat itu dijaga puluhan buaya itu baru beda.

Hal inilah yang diusulkan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso (Buwas) belum lama ini. Buwas mengusulkan agar lapas khusus narkoba dikelilingi oleh buaya.

Ditemui detikcom di rumahnya di kompleks perwira TNI AD Bulakrantai, Kramat Jati, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu, Buwas bercerita dari mana idenya ini berasal.

"Orang kan tidak pernah tahu kondisi narkoba sekarang, yang tahu persis ya saya karena saya tahu persis petanya kondisinya," ucap Buwas.

Menurutnya solusi untuk masalah narkotika bukan lagi ada pada rehabilitasi. Buwas menilai rehabilitasi adalah kegagalan dari empat fungsi BNN yakni pencegahan, pemberantasan, pendayagunaan masyarakat dan kerjasama.

"Jadilah pengguna banyak, makanya sampahnya direhabilitasi. Dan rehabilitasi tidak mengembalikan orang itu kepada sedia kala, hanya mengembalikan orang yang ketergantungan, menjauhkan dari lingkungan supaya dia tidak memakai, itu saja," katanya.

"Makanya saya bilang, kenapa ribut rehabilitasi, sudahlah rehabilasi pasti jalan, tapi yang paling penting 4 fungsi itu jalan, terutama permberantasan," tambahnya.

Komjen Buwas (Foto: Lamhot/detikcom)


Memberantas narkoba, kata Buwas harus dari golongan 'kakap' atau para bandar. Jika bandar sudah berhasil ditangkap harus ada tempat yang seteril dan terjaga keamananannya, jangan sampai para bandar justru bisa berbisnis santai di dalam penjara.

"Sekarang bagaimana mengatasi peran-peran bandar kayak gitu," ucap Buwas.

Buwas mengatakan salah satu penyebab bandar masih bisa beraksi dari dalam penjara karena uang. Para sipir yang gajinya tak besar sangat rentan terhadap godaan, apalagi uang bisa mengalir begitu derasnya di sana.

"Lapas itu dijaga sedikit manusia dan kelemahannya bisa disogok. Keuangan mafia itu tidak berseri, dikasih berapa pun. Saya punya ide, saya bilang sama Presiden harus buat yang penjaganya nggak mau disogok, kata Presiden mana ada. Saya bilang ada Pak, kita pakai binatang, ini kita seteril kalau perlu di pulau terluar biar nggak direbut negara lain, biar ada isinya Pak. Nah isinya bandar-bandar kelas kakap itu. Kita bikin sungai buatan, kita kasih buaya. Pak Jokowi ketawa," ujar mantan Kabareskrim ini.

Ide ini menurut Buwas sudah mendapat persetujuan dari Presiden. Saat ini BNN tengah mengakaji dan mempelajari sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Buwas begitu bersemangat mewujudkan ide ini, apalagi respons masyarakat positif.

"Respons masyarakat banyak yang mau nyumbang buaya sama saya, semua BNK (Badan Narkotika Kabupaten/Kota) telepon  saya bilang masyarakat ada mau nyumbang buaya ada yang panjangnya 4 meter, 3 meter, 2 meter.  Nah itu bagi saya sebuah respons positif dari masyarakat artinya mereka kan ingin punya peran," kata Buwas sumringah.

Selain ide yang tak biasa, Buwas yang sebelumnya Kabareskrim dan banyak menuai kontroversi ini merasa tak ada bedanya menjalani tugas sebagai Kepala BNN ataupun Kabareskrim. Bagi Buwas semua rasanya sama, sama-sama disebut sebagai pembuat kegaduhan.

"Sama saja, saya di Bareskrim juga di-bully, di BNN juga di-bully, oh ini (ide dan program Buwas) pelanggaran HAM, membuat kontroversi dan kegaduhan lagi," kata Buwas.

Saat ini fokus tugas Ka BNN adalah menyangkut kemanusiaan dan nasib anak bangsa. Sedangkan dulu di Bareskrim berkutat di seputar penegakkan hukum korupsi, masalah ekonomi dan pembangunan.

"Kalau sekarang menyangkut masalah bangsa karena yang dihancurkan adalah generasi dan kita menghadapi pelaku yang internasional, mafianya nggak jelas. Kalau kemarin jelas pelakunya, ini sekarang kita nggak jelas, bisa siapa saja pelakunya," ucap  ayah 3 anak ini.

"Kalau saya tetap saya, namanya Pak Buwas tetap Pak Buwas, yang penting saya tetap kerja," tutup kolektor senjata yang hobi berburu ini.

Bagaimana, Anda setuju dengan sipir buaya Komjen Buwas?

Komjen Buwas (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)

(slm/mad)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed