Laksana burung Cendrawasih, maskot Papua, Vivin piawai terbang. Perempuan setinggi 158 cm dan berbobot 60 kg ini mengantongi lebih dari 3 ribu jam terbang.
Saat dihubungi detikcom, Selasa (21/4/2015), Vivin baru saja tiba di Jakarta dari Papua dengan menerbangkan pesawat Boeing 737-200 milik Trigana Air Service. Dia menyapa lembut dari balik telephon genggamnya dan mengatakan bisa wawacara melalui telepon. "Tapi tunggu sebentar ya, karena saya baru saja tiba di Jakarta," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di Jakarta, saya menjadi pilot ganteng, terbang pake dasi, he..he..he. Saya akan bawa penumpang ke Pangkalan Bun di Kalimantan Timur, ke Semarang Jawa Tengah, ke Surabaya Jawa Timur," sambung perempuan berambut lurus ini setelah memiliki waktu luang setiba di Jakarta.
Vivin lahir di Teluk Cendrawasih, Papua. Sejak TK, SD, SMP dan SMU, setiap kali ikut karnaval, ia mengenakan baju pramugari. Tapi sekali waktu di SMU, saat karnaval dia memakai baju pilot, baju kakaknya yang saat itu sudah menjadi pilot.
"Sejak kecil saya bercita-cita menjadi pramugari, tapi malah menjadi pilot," katanya.
Vivin merupakan lulusan sekolah pilot di Nusa Flying School International Halim Perdanakusuma tahun 2010-2011. "Saya sekolah pilot hanya 1 tahun 2 bulan. Masuk pendidikan mulai Januari 2010 dan wisuda Mei 2011," jelasnya.
Terkait peringatan Hari Kartini, Vivin teringat mamanya, Susilowati, yang saat ini tinggal di Biak, Papua. Menurut dia, sang mama selalu memberikan motivasi bahwa tidak saja laki-laki yang bisa pilot, tetapi perempuan juga bisa.
"Ternyata di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan," katanya menyadari jalan yang dirintis Ibu kartini.
(try/nrl)











































