DetikNews
Senin 12 Januari 2015, 12:35 WIB

Letkol Agus Triyono, Anak Penjual Nasi Kuning yang Jadi Komandan Paskhas

- detikNews
Letkol Agus Triyono, Anak Penjual Nasi Kuning yang Jadi Komandan Paskhas (Foto: Chaidir AT/detikcom)
Pekanbaru, - Dia bukan terlahir dari keluarga berkecukupan. Tidak pula dari keluarga TNI. Dibesarkan dari keluarga penjual nasi kuning di Cirebon, Jawa Barat. Itulah Letkol Agus Triyono, Komandan Komando Pasukan Khas (Paskhas) Batalyon 462 di Pekanbaru Riau.

Agus, begitu sapaan akrabnya, merupakan anak ketiga dari enam bersaudara buah hati Abdul Somad Chalik (almarhum) dan ibundanya Ety Sukarti. Sejak SMP, ia sudah jadi anak yatim. Tinggalah bundanya yang sampai sekarang beralamat di Jl Pekalipan Utara Gang Arab, 199 Cirebon. Di rumah sederhana itu, sang ibu harus banting tulang sebagai penjual nasi kuning untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Sejak kecil, Agus bersama adik dan kakaknya harus membantu ibundanya. Sejak SMP pagi hari Agus harus membantu ibunya pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan untuk berjualan nasi kuning. Setelah itu barulah pergi ke sekolah.

Berjualan nasi kuning inilah, sebagai penopang untuk keluarga mereka. Sang ibu memilih tetap hidup sendiri, untuk berjuang menjadikan anak-anaknya bisa bersekolah. Sang ibunda menjadi tulang punggung buat Agus dan saudaranya.

Tamat dari SMP, Agus sebenarnya ingin menyambung SMA di Bandung. Tapi kala itu, ada tetangganya yang berlangganan koran menunjukan adanya pengumuman penerimaan siswa baru di SMA Taruna Nusantara di Magelang. Sekolah itu baru kali pertama menerima murid.

Berawal dari sana, Agus mencoba pamit kepada ibundanya untuk ikut tes di sekolah yang dibina ABRI kala itu. Ada 4 siswa tamatan SMP dari Cerebon yang mencoba ikut seleksi sekolah semi militer itu. Untuk menuju ke sekolah itu, mereka terlebih dahulu meminta petunjukan dari Kodim setempat.

Mereka diberikan kisi-kisi militer agar bisa bersaing dengan calon siswa lainnya dari seluruh Indonesia. Agus bersama tiga rekannya itu lantas sama-sama ikut seleksi ke Magelang. Singkat cerita, hanya Agus yang lulus mewakili Cerebon yang masuk SMA Taruna Nusantara.

Bersyukur masuk SMA Taruna Nusantara ditanggung ABRI kala itu. Karena memang mereka yang lulus merupakan siswa-siswi terbaik. Karena ditanggung negara, maka hal itu dengan sendirinya mengurangi beban ekonomi ibunya.

Sekalipun berada di sekolah semi militer, sebenarnya Agus awalnya tidak bercita-cita menjadi anggota TNI. Tamat SMA Taruna tahun 1993, Agus awalnya melanjutkan kuliah. Itu sebabnya, begitu tamat, dia mendaftar di Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN), dan dinyatakan lulus. Namun saat itu, pilihan keduanya baru mendaftar ke AKABRI.

"Saya dinyatakan lulus STAN, saya diminta melengkapi data-data pribadi. Tapi saat itu data-data pribadi satu sisi saya masukan juga untuk ke AKABRI. Saya tak berani menarik berkas itu, apalagi kita tidak punya jaringan ke dalam," kenang Agus, bapak dari dua orang anak itu dalam obrolan dengan detikcom, belum lama ini.

Pria kelahiran 22 Agustus 1974 ini, akhirnya pasrah menunggu pengumuman AKABRI. Dan ternyata dia dinyatakan lulus. Karena itu dia menjatuhkan pilihan untuk menjadi anggota TNI. Selama pendidikan militer sebagai calon perwira pertama, Agus yang kini berusia 41 tahun itu sebenarnya tidak tahu juga mau di tempat kemana.

Kalaupun nantinya menjadi anggota TNI, suami dari Vonny Veronika (38) awalnya pengen bertugas di TNI Angkatan Darat. Tapi rupanya, begitu selesai pendidikan militer, Agus justru ditempatkan di TNI Angkatan Udara.

Dari pangkat pertama yang disandangnya Letda pada tahun 1996. Kini Agus berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) sejak tahun 1 April 2013 lalu. Sedangkan jabatan Danyon Paskhas 462 dengan moto Pulang Geni mulai dia sandangnya sejak 19-09-2012.

Menjadi tampuk pimpinan DanPaskhas, Agus memiliki anggota sekitar 490 personel. Sebelum menjadi orang nomor satu di jajaran Paskhas di Pekanbaru, tentunya pria yang hobi olahraga main bola ini, sudah malang melintang ditugaskan dari Jawa, ke Ambon, Aceh, Jakarta hingga sekarang di Pekanbaru. Dia juga pernah bergabung di Paskhas 464.

"Saat terjadi tsunami, saya bertugas di Aceh. Sebelum relawan datang, kami TNI AU sendiri yang berjibaku menerima bantuan lewat udara yang harus kami turunkan barang-barang bantuan dari pesawat cargo," kenang Agus.

Bila mengenang stunami Aceh, Agus merasa sedih. Karena saat itu dia menyaksikan sendiri bagaimana ribuan orang tewas dalam kejadian yang mengerikan itu.

"Lokasi tempat kami tidak diterjang stunami, karena memang letak markas TNI AU ada di dataran tinggi di Banda Aceh," kata pria yang juga menekuni olahraga bela diri taek wondo itu.

Kini sang komandan yang berbadan standar hanya tinggi 162 cm itu sudah dua tahun menjabat sebagai DanPaskhas. Di mata wartawan di Pekanbaru, dia bukan sosok yang asing lagi. Dalam keseharian dan pergaulannya, selaku menunjukan kesederhanaan.

Maklum saja, karena memang pria ini terlahirkan dari keluarga sedeharna. Kehidupan masa lalunya yang harus saban hari berbelanja ke pasar untuk kebutuhan jualan nasi kuning di rumahnya, sampai kini masi terbawa. Agus tak merasa risih jika hari libur menemani istrinya berbelanja ke pasar.

"Kalau saya nemani belanja istri ke pasar, kadang ketemu dengan anggota atau istri anggota. Ya sudah, paling kami cengengesan saja," kata Agus sambil tertawa.

Apalagi jika ke pasar Agus tanpa mengenakan pakaian militer, maka masyarakat yang melihat pastilah tidak menyangka jika dirinya seorang Komandan Paskhas. Namun, dalam memimpin, Agus tetap tegas. Jika ada anggota yang melabrak disiplin akan mendapat tindakan.

"Namanya banyak anggota, pastilah ada yang melenceng. Saya mencoba mendekatinya untuk dapat diberikan pengarahan sesuai dengan tugas pokok sebagai militer," katanya.

Batalyon Komando Paskhas 462 sendiri, memiliki tugas pokok dalam pengamanan Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin di Pekanbaru khususnya. Kendati dalam keseharian berada di Lanud Resmin Nurjadin, secara tugas dan fungsi pokoknya, Batalyon Paskhas 462 ini di bawah kendali Wing III di Jakarta.

Sejak kemimpinannya, Komando Paskhas 462 ini memiliki latihan bela diri taekwondo. Di bawah pembinaannya, ada anggota Paskhas yang menjadi atlet taekwondo profesional yang membawa nama harum Provinsi Riau. Setidaknya ada prajurit yang ikut meramaikan acara Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 2012 lalu dengan meraih perunggu.

"Latihan bela diri taekwondo di tempat kita selalu bekerjasama dengan Pemprov Riau. Karena memang dari tempat kita ini melahirkan atlet profesional dan selalu ikut dalam kejuaran nasional," kata Agus.


  • Letkol Agus Triyono, Anak Penjual Nasi Kuning yang Jadi Komandan Paskhas
    (Foto: Chaidir AT/detikcom)
  • Letkol Agus Triyono, Anak Penjual Nasi Kuning yang Jadi Komandan Paskhas
    (Foto: Chaidir AT/detikcom)
  • Letkol Agus Triyono, Anak Penjual Nasi Kuning yang Jadi Komandan Paskhas
    Letkol Agus Triyono
  • Letkol Agus Triyono, Anak Penjual Nasi Kuning yang Jadi Komandan Paskhas
    Letkol Agus Triyono

(cha/try)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed