"Dulu saya waktu mahasiswa itu, tari Asmat sering. Terus Papua terkenal dengan tari Yospan. Nanti saya ajari ibu-ibu di sini tari Yospan, kita Yospan sekali-sekali," tutur Yohana yang bersedia berbincang santai sejenak dengan detikcom di ruangan kantornya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/2014).
Yohana menambahkan tari Yospan adalah tari pergaulan muda-mudi yang berasal dari Biak, kampung halamannya. Yohana mengaku sudah melakoni hobi menarinya ini sejak SMP-SMA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat remaja, dirinya termasuk remaja putri yang aktif mengikuti berbagai lomba kesenian. Mulai dari lomba tari Yospan hingga membaca puisi.
"Baca puisi juara satu waktu itu di sekolah. Di SMA, di SMP sudah baca puisi. Pertandingan paduan suara, lagu-lagu kebangsaan, saya suka ikut, dan drumband saya termasuk yang pegang tongkat, apa istilahnya, mayoret. Saya aktif sekali," ujar pemegang gelar master dari Faculty of Education, Simon Fraser University British Colombia, Kanada, dan gelar doktor dari Universitas Newcastle Australia di bidang pendidikan keguruan.
Selain aktif di sekolah, Yohana juga menjadi remaja gaul. Yohana sangat bangga mendapat hadiah sepeda dari lomba putri-putrian tingkat sekolah.
"Saya menang Miss Pelajar, dapat hadiah sepeda. SMP itu, rasanya ih, dapat hadiah sepeda sudah luar biasa. Di tempat saya waktu itu kan belum ada mobil, artinya orang kalau naik sepeda rasanya ih saya seperti sudah naik mobil apa begitu hahaha...," kenangnya seraya tertawa.
Tak cuma hobi berkesenian, Yohana juga hobi memasak. Bahkan tak jarang anak-anaknya memuji masakannya.
"Saya sering memasak, anak anak bilang, 'Ih mama, tidak disangka mama itu punya masakan enak ya, sekali-sekali masak luar biasa' katanya. Saya masak apa saja, makanan Papua, terus coba-coba tanya teman-teman saya di program studi, teman dari Jawa, itu masak soto ayam. Terus teman dari Makassar, tanya Coto Makassar itu gimana resep-resepnya, kita (saling berbagi resep) lewat email-email. Dikasih tahu, saya suka coba, praktek tiap hari Sabtu," tutur dia.
Sebagai pendidik, Yohana juga hobi membaca. "Saya hobi menari. Membaca bagian dari pekerjaan saya, menyanyi juga. Kebanyakan (hobi) saya ke buku-buku lebih banyak, juga lebih banyak mengajar," jelas Yohana.
Saat ditunjuk menjadi menteri, Yohana mengaku ditelepon secara tiba-tiba. Hal itu membuatnya kaget.
"Saya sebenarnya tidak punya mimpi sama sekali jadi menteri, tapi karena, ya tiba-tiba dipanggil untuk datang, akhirnya saya kaget, karena Pak Jokowi menunjuk saya jadi menteri," tuturnya.
Apalagi setelah pelantikan Kabinet Kerja, Yohana yang meminta izin untuk pulang ke Papua tak diizinkan Presiden Jokowi. Alhasil, Yohana belum sempat berpamitan dengan ketiga anaknya dan masih tinggal sendirian di Jakarta.
"Anak saya yang pertama baru selesai S2-nya di Amerika, di bidang IT, sekarang sedang bekerja di Freeport. Terus yang satunya ambil (kuliah) di Cambridge di London, jadi tak bisa ajak mereka kemari. Yang ketiga masih SMA," tutur orang tua tunggal yang berdiam di Perumahan Dosen Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, ini.
Yohana tak lelah untuk belajar hingga menjadi profesor perempuan pertama dari Papua. Hingga tahun ini, dirinya tak absen menyabet prestasi.
"Kemarin (tahun ini) saya dapat penghargaan 2014 Alumni Awards di Australia, saya baru kembali dari Australia terima penghargaan. Jadi dari 115 ribu alumni seluruh dunia, mungkin 210 negara, itu saya terpilih dari 32 orang ini, saya mewakili dari Indonesia, satu dari Thailand, satu dari Jepang. Semacam alumni terbaik yang sudah membuat kontribusi besar-besar, jadi saya masuk kategori itu karena saya memecahkan rekor guru besar perempuan pertama di Papua," celotehnya.
Dirinya resmi menjadi guru besar pada tahun 2012 lalu. "Guru besar saya dapat 2012, itu baru pertama kali Papua masuk dalam Indonesia, baru dikasih satu guru besar perempuan," tuturnya.
Nah, sebagai menteri masa kini, apakah Yohana memiliki dan menggunakan sosial media untuk berinteraksi dengan masyarakat?
"Saya, kadang-kadang memang saya kurang menggunakan media itu, kebanyakan Facebook dengan email-email itu. Ada, saya pikir ada. Nanti dibuka saja," jawabnya saat ditanya akun twitter miliknya.
(nwk/nrl)











































