"Baru kali ini ada dirut yang turun langsung berurusan dengan wartawan rasanya, hehehe," canda ANS Kosasih saat ditemui detikcom di Hotel Mandarin Oriental, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu.
Saat itu, detikcom bertanya dirut seperti dirinya selalu bersedia 'turun ke bawah' melayani wawancara wartawan, baik melalui telepon, SMS hingga Whatssapp, setiap saat. Apa tidak ada pejabat humasnya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja karena masih dalam masa transisi, staf humas masih berada di bawah BLU UP TransJakarta. Nantinya, melalui proses transisi, PT Transportasi Jakarta akan membawahi semua staf di BLU UP TransJakarta.
Tak heran Kosasih piawai dalam melayani pertanyaan wartawan. Jejak karier profesional Kosasih menunjukkan dia pernah menjabat sebagai Vice President-Corporate Secretary dan Corporate Communications and Media Relations Head di BUMN keuangan, Bahana Group, selama tahun 2001-2005.
Kosasih juga optimis meski belum pernah menjejak karier profesional di perusahaan transportasi, namun dia bisa memperbaiki sistem Bus Rapid Transit (BRT) alias busway di Jakarta. Kosasih yang lahir di Jakarta, 12 Juli 1970 ini juga mengenang memorinya bergelantungan di bus kota selama bersekolah di Jakarta.
"Dari kecil saya sudah naik Kopaja atau Metro Mini. Jadi masih merasakan Rp 25 untuk siswa dan bergelantungan di Metro Mini," celotehnya.
Dulu, saat dirinya bergelantungan di bus kota, Jakarta memang tidak semacet sekarang. Perkembangan kemacetan Jakarta yang makin mengkhawatirkan membuatnya gemas ingin membuat perubahan di Jakarta. Apalagi, Kosasih juga punya pengalaman tidak enak tentang macet ini.
"Tahun 2012 lalu, saya sudah janji sama Wali Kota ke Kementerian BUMN. Saat menuju ke Jalan Medan Merdeka Selatan itu, mobil saya terjebak macet. Akhirnya saya naik TransJ dan sampai dengan jalan kaki," tutur Kosasih yang tahun 2012 masih menjadi Direktur Keuangan Perum Perhutani.
Hanya ada 2 alternatif bila dirinya terjebak macet. "Bus TransJ atau ojek," ujarnya.
Sederet karier profesional di perusahaan consumer goods (P&G dan Nestle), perbankan (Citibank) mengurus BUMN keuangan (Bahana Group), beralih mengurus BUMN kehutanan (Perum Perhutani) kemudian menjadi Dirut BUMD Transportasi (PT Transportasi Jakarta), membuat Kosasih optimis bisa membangun PT Transportasi Jakarta. Bidang yang berbeda-beda tak masalah baginya. Kosasih kemudian mengacu pada 2 sosok yang dianggap seniornya, Emirsyah Satar dan Ignasius Jonan.
"Emirsyah Satar menangani transportasi publik, Ignasius Jonan menangani transportasi publik, dua-duanya orang keuangan kan. Dari Citibank, saya juga pernah di Citibank, mereka berdua adalah senior saya. PT KAI baru untung setelah dipegang Jonan. Garuda dapatkan penghargaan Sky Trax, setelah dipegang Emirsyah Satar, sebelumnya adalah Direktur Keuangan. Pak Jonan, nggak pernah jadi Direktur Keuangan PT KAI langsung Dirut," jelas dia.
"Jadi ya, kalau ditanya, bisa nggak menangani transportasi? Saya yakin, Pak Jonan sebelum di Kereta Api tidak pernah sedetikpun tangani transportasi. Semua bisnis itu ujungnya duit, kalau kita tangani sesuatu keuangannya harus benar, maka mau tidak mau bisnisnya harus benar," imbuhnya.
Kosasih tertantang dan bersyukur menjadi Dirut PT Transportasi Jakarta. Kesempatan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas terbuka lebar, dan itu tak bisa dinilai dengan uang.
Β
"Saya lahir dan besar di Jakarta. Jika suatu saat saya bisa kerja di transportasi kota Jakarta ini, keren sekali. Bermanfaat untuk masyarakat banyak dan banyak masyarakat luas diuntungkan. Suatu hari mungkin cucu saya naik transportasi di Jakarta, lalu ia bilang transportasi Jakarta keren banget ya. Saya bisa berkata, 'I have built that'. Itu keren karena saya tahu apa yang saya lakukan memberi kontribusi banyak untuk orang banyak dan itu lebih dari uang," tandas Kosasih.
(nwk/nrl)











































