Dunia Bambang Basuki tiba-tiba gelap saat penyakit glukoma merebut penglihatannya di masa akhir SMA. Kenyataan bahwa dirinya ditolak masuk perguruan tinggi karena tuna netra membuatnya jatuh dalam masa kegelapan dan membuatnya ingin mati saja.
"Tuna netra sejak SMA karena glukoma. Untung saja saya masih lulus dari SMA. Waktu itu saya ambil jurusan IPA, saya ingin jadi arsitek. Kalau buta semua itu serasa habis," kata Bambang Basuki yang kini menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra.
Hal itu disampaikan dia usai Diskusi Publik Penerapan Prinsip-Prinsip Convention on the Right of Person with Disabilities (CPRD) dalam RUU Penyandang Disabilitas di Hotel JS Luwansa, Jl HR Rasuna Said, di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhirnya, perlahan Bambang mengisi waktu dengan belajar huruf braille. Hingga akhirnya dia mencoba mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Karena tuna netra, cita-citanya untuk masuk jurusan arsitek dilepaskan. Bambang memilih jurusan sastra Inggris di IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta/UNJ, red).
Namun, saat masuk ke IKIP Jakarta ini, Bambang malah didiskriminasi saat mendaftar. Syarat tidak menerima penyandang difabel ini diketahui dari saudaranya. "Dulu saya kuliah di IKIP Jakarta tahun 1976, di buku petunjuk mahasiswa tertulis jelas, tidak menerima mahasiswa yang cacat. Tapi karena waktu itu belum ada undang-undang yang melindungi, saya ditolak," imbuhnya.
Lantas, saudara Bambang mendatangi dekan, dan akhirnya bersama-sama mengajukan ke rektor. "Nah, di situ rektor memberikan saya kesempatan untuk dites. Kalau saya lolos tes saya boleh kuliah di situ dan akhirnya saya lolos. Selama hidup saya ini saya merasa didiskriminasikan terus," kata dia.
Selulus kuliah dari sastra Inggris IKIP Jakarta, Bambang sempat mengajar di SLB. Merasa masih banyak tuna netra yang mendapat perlakuan diskriminasi, Bambang bersama teman-temannya sesama tuna netra plus pakar pendidikan dan dokter matta mendirikan Yayasan Mitra Netra untuk memberdayakan tuna netra pada 1991.
"Setelah itu karena saya merasakan didiskriminasikan menjadi orang tuna netra akhirnya saya pun membangun Yayasan Mitra Netra untuk membangun sesama. Sebab tuna netra itu sebenarnya bisa menjadi apa saja, kalau diberi kesempatan," tandas dia.
(nwk/ahy)











































