Lisda beberapa kali harus menginap di kamar jenazah saat mengidentifikasi sosok yang kasusnya mendapat perhatian publik. Misalnya saja jenazah teroris. Sebagai seorang ahli forensik yang menangani kasus itu, tentu Lisda menjadi salah satu 'buruan' wartawan yang ingin segera mendapatkan berita kasus tersebut.
"Sampai-sampai akhirnya harus bermalam di kamar jenazah karena takut dikejar-kejar pers. Pernah kami keluar dari kamar jenazah sekitar jam 2 pagi eh ternyata rekan-rekan pers juga bermalam di luar kamar jenazah demi untuk mendapatkan berita terkini," kenang Lisda saat berbincang dengan detikcom, Selasa (24/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi ibu dengan tiga anak ini, menjadi ahli forensik tentu banyak suka dan dukanya.
Sukanya, apabila bisa berhasil mengungkap kasus dengan keilmuan yang dimiliki, apalagi kalau kasus tersebut merupakan kasus besar yang sangat menyita perhatian publik. Ada kepuasan tersendiri dalam diri Lisda.
"Dukanya apabila kasus tersebut sangat menyita waktu dan perhatian, sehingga waktu untuk keluarga berkurang. Kadang-kadang waktu weekend pun digunakan untuk bekerja," ucapnya.
Meski beberapa kali meninggalkan keluarga demi urusan pekerjaan namun keluarga selalu mendukung pekerjaannya. Terkadang buah hatinya melontarkan protes kecil kala Lisda harus fokus pada penanganan kasus besar yang butuh waktu penanganan berhari-hari.
"Tetapi pada umumnya mereka mensuport saya. Apalagi apabila mereka tahu kasus yang sedang ditangani adalah kasus besar yang menjadi headlines news di stasiun-stasiun televisi," terang istri dari Sony Setiawan ini.
Menjadi ahli forensik Polri yang dituntut kerja profesional sekaligus seorang ibu yang harus memperhatikan anak-anaknya tentu tidak mudah. Namun hal itu bukan masalah bagi Lisda. Kuncinya satu: fokus. Jika sedang bekerja dia akan fokus total pada pekerjaannya. Sedangkan jika sedang di rumah, dia akan fokus pada pekerjaan layaknya seorang ibu.
Meski waktunya di rumah terkadang tidak banyak, namun Lisda tidak mempersoalkan. Sebab baginya adalah kualitas. Waktu sedikit tapi berkualitas lebih baik ketimbang waktu banyak tapi tak berkualitas.
"Menurut saya kualitas lebih penting daripada kuantitas. Ada juga kok ibu-ibu yang tidak bekerja tetapi anaknya tetap tidak terurus. Sementara banyak juga, ibu bekerja tetapi anak-anaknya tetap berhasil. Yang penting bagaimana bisa memberikan pengertian kepada keluarga, terutama anak-anak," paparnya.
Untuk sementara, Lisda belum ada keinginan untuk meninggalkan dunia forensik. Menurut dia, dokter gigi bekerja di klinik dan menyembuhkan pasien itu sudah sangat biasa, tetapi dokter gigi yang berkecimpung di dunia forensik (DNA) merupakan sesuatu yang sangat luar biasa.
Dari pekerjaannya ini, Lisda bertemu dengan sosok pria paling dicari, Dr Azahari, Noordin M Top dan Dulmatin. Dialah salah satu sosok yang memastikan jenazah yang ada di depannya merupakan gembong teroris paling dicari.
Perempuan kelahiran 1968 ini juga terlibat dalam tim yang mengidentifikasi korban bom di Kedutaan Besar Australia tahun 2004, serta pelaku bom hotel JW Marriott dan Ritz Carlton tahun 2009. Jenazah korban kapal tenggelam atau kecelakaan pesawat juga diidentifikasi oleh Lisda.
Dia menjelaskan tidak ada standar waktu berapa lama untuk mengidentifikasi atau mengungkap suatu kasus. Semua tergantung dari data yang ada. "Untuk mengidentifikasi jenazah harus ada data post mortem dan ante mortem. Kalau ke dua data tersebut cepat di dapat dan tepat, maka proses identifikasi tidak akan memakan waktu terlalu lama," tuturnya.
Saat ini, Lisda sedang melanjutkan pendidikan master di Flinders University South Australia, untuk memperdalam ilmu DNA forensik. Pendidikan itu ditempuh setelah dia mendapat beasiswa dari pemerintah Australia melalui Ausaid.
Meski tim forensik Polri didominasi laki-laki, namun sedikit pun tak membuat Lisda minder. Dengan kemampuannya dia yakin mampu bekerja sama dengan rekan-rekannya secara profesional.
"Kata kata yang selalu saya jadikan pegangan adalah serius dalam melakukan pekerjaan, niat dan tekat yang bulat serta tidak cengeng dalam menghadapi kendala yang ada," ucap Lisda tegas.
(/ega)











































