Janet Steele, Mengadopsi Cerpen Pada Berita

Janet Steele, Mengadopsi Cerpen Pada Berita

- detikNews
Senin, 22 Agu 2011 21:32 WIB
Janet Steele, Mengadopsi Cerpen Pada Berita
Jakarta - Setiap kata itu penting. Maka pagi itu, setiap kata yang meluncur dari mulut Janet Steele disimak penuh antusias oleh sekitar 30-an orang yang memenuhi Performance Area @Amerika.

Selama 2 jam, dari pukul 10.00-12.00 WIB pada Kamis, 18 Agustus 2011 dan Senin, 22 Agustus 2011, @America yang merupakan Pusat Kebudayaan Amerika itu disulap menjadi ruang 'kuliah' bagi Janet.

Nama Janet tentu bukan orang asing lagi bagi pemerhati, penggemar atau pengikut Jurnalisme naratif atau dikenal juga dengan jurnalisme Sastrawi. Perempuan bertubuh langsing dengan rambut sebahu itu adalah Profesor jurnalistik dari George Washington University yang terus menerus mempromosikan jurnalisme naratif. Ini adalah aliran jurnalistik yang mulai dikembangkan oleh Tom Wolfe di AS tahun 1960-an.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jurnalisme naratif merupakan genre penulisan berita dengan gaya cerita atau mendekati sastra. Namun data yang disampaikan murni fakta bukan fiksi. "Jurnalisme naratif bisa diterapkan di semua jenis berita, baik berita ekonomi, politik ataupun olahraga," papar Janet dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Membuat berita dengan metode Jurnalisme Naratif, menurut Janet, penulis bisa mengadopsi skenario film ataupun model penulisan cerita pendek.

Jurnalis radio atau televisi biasanya sudah akrab dengan pembutan scene-scene untuk beritanya. Sementara untuk jurnalis cetak, penulisan model ini masih kurang banyak diterapkan. "Model cerita pendek bisa diadopsi untuk menulis berita," papar penulis buku "Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia" itu.

Namun Janet memberi pembeda antara feature dengan jurnalisme naratif. Meski memberi ruang untuk diskripsi dan narasi pada berita, penulisan jurnalisme naratif tidak harus berpanjang-panjang seperti feature. Dalam jurnalisme naratif, tidak boleh ada pemubaziran kalimat. Setiap kata yang ditulis harus dipilih dengan ketat sehingga tidak sia-sia.

"Setiap kata adalah penting dan tidak bisa dihapuskan,"ungkap Janet.

Ia lantas merujuk 'In Cold Blood' karya Truman Capote. Dalam In 'Cold Blood', adegan-adegan yang kurang penting ditulis singkat saja dalam ritme cepat. Sementara adegan yang menarik mendapatkan ulasan yang panjang. "Seperti dalam skenario film, ada pembuka juga suspense yang harus kita perhatikan," kata profesor yang aktif memperhatikan media massa di Asia Tenggara ini.

Bersama Janet, waktu dua jam serasa berlalu cepat. "Mohon maaf atas kelemahan bahasa Indonesia saya," kata Janet yang fasih berbahasa Indonesia itu dengan rendah hati saat menutup kelasnya.
(iy/her)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads