Djoko adalah Kepala Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Balai Yasa PT KAI yang terletak di Jalan Bukit Duri Utara Manggarai. Sehari-harinya, Djoko bekerja dengan ratusan kereta yang mengalami banyak 'penyakit'. Bahkan, bangkai kereta korban tabrakan pun dirawat olehnya dan 800 karyawan yang ada di sana agar kembali bisa digunakan.
Ayah dua anak ini sudah mendedikasikan hidupnya untuk PT KAI sejak tahun 1990. Saat itu, kata Djoko, pilihan menjadi PNS PT KAI atas nasihat orangtua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal karir Djoko di PT KAI dimulai di Kota Surabaya. Namun, sejak dua tahun lalu, Djoko diangkat menjadi Kepala Balai Yasa.
Meskipun angkutan ini sering menjadi korban pengrusakan warga, namun Djoko tetap mencintai pekerjaanya ini. Lulusan Universitas Sriwijaya jurusan mesin ini bahkan menuangkan kecintaannya dalam sebuah karya.
"Gimana nggak cinta, orang dapur saya dari sini. Ya saya kerjanya sersan saja, serius tapi santai maksudnya," kelakar pria berbadan gempal ini.
Sekitar tahun 2008, Djoko tiba-tiba saja mempunyai mimpi merenovasi kereta sesuai keinginannya. Akhirnya, dia memanfaatkan kereta produksi 1938 yang dibuat di Belanda.
"Saya perbaiki semuanya termasuk interiornya. Alhamdulillah dalam waktu empat bulan selesai," ceritanya.
Kereta ini diberi nama Djoko Kendil. Yang membuat bangga Djoko pada karyanya ini karena kereta peninggalan Belanda ini hanya dimiliki oleh Indonesia dan Amerika Serikat.
"Jadi dua kereta ada Indonesia, dan satunya punya Presiden Barack Obama. Kalau tidak salah Obama punya tahun 1939, dan ini mesinnya masih orisinil," katanya.
Tidak ada alasan khusus, Djoko menamakan kereta itu dengan nama Djoko Kendil. Yang jelas, kereta ini menurutnya punya sejarah yang sangat berarti.
"Saya sengaja buat kereta ini untuk memberikan tahu anak-anak (pegawai) saya nanti. Saya punya pesan untuk mereka dengan kereta ini, yaitu agar mereka menghargai barang-barang yang sudah usang. Karena walaupun barang itu lama, tapi kalau sudah diperbaiki dan dirawat pasti akan terlihat baru kembali," pesan pria yang mengenakan safari hitam ini.
Tidak berhenti sampai di situ kebahagian yang dirasakan Djoko. Pada saat kereta itu dinyatakan lulus uji coba dan layak beroperasi, tiba-tiba saja Presiden SBY berniat untuk mencobanya.
"Waktu itu Pak Presiden naik dari Priok, katanya dia senang dengan kereta ini dan berterima kasih," sambungnya.
Tidak hanya itu, Djoko juga bangga karena kereta hasil designnya anti peluru. "Dan saat bulan lalu uji coba bersama Kopasus kereta ini anti peluru," katanya bangga.
Djoko bangga sekali akhirnya mimpinya bisa terealisasi. Dia berharap yang lain bisa mengikuti jejaknya.
Saat wartawan berkunjung ke kereta ini, designnya memang terlihat sangat menarik. Kereta bercat krem dan hijau tua ini memiliki beberapa ruangan dan dilengkapi dua tv flat.
"Intinya ini mimpi saya dan sudah saya realisasikan. Terkait biayanya sekitar ratusan juta," ucap Djoko mengakhiri pembicaraan.
(lia/vit)











































