Arist Merdeka Sirait, Pak Brewok Sahabat Anak

Arist Merdeka Sirait, Pak Brewok Sahabat Anak

- detikNews
Jumat, 22 Jul 2011 17:34 WIB
Arist Merdeka Sirait, Pak Brewok Sahabat Anak
Jakarta - Pria brewok belum tentu menyeramkan anak-anak. Arist Merdeka Sirait, misalnya. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) ini malah sengaja memelihara cambang sebagai salah satu bekal bersahabat dengan anak-anak.

"Biasanya penculik itu tampangnya tidak seperti saya. Penculik itu biasanya klimis, pakai dasi dan lemah lembut. Nah, saya membuat teori terbalik dengan berpenampilan begini. Dan selama ini, saya belum pernah ditolak (ditakuti) anak-anak. Saya selalu menganggap mereka anak-anak saya, bahkan ada yang memanggil opung pada saya," tutur Arist dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (22/7/2011).

Arist dekat dengan dunia anak-anak sejak 1981. Saat itu dia banyak menemukan anak-anak yang bekerja di lingkungan kerja berbahaya, seperti di industri bahan kimia. Saat itu dia begitu terkejut melihat banyak anak bekerja di industri berorientasi ekspor dengan mengorbankan bangku sekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melihat fenomena itu, pria yang besar di Pematang Siantar, Sumatera Utara, ini pun memberikan pendidikan alternatif bagi anak-anak yang bekerja. Pada 1986, dia mendirikan yayasan yang bergerak untuk melindungi buruh. Yayasan itu juga memberikan pendidikan bagi pekerja anak yang bekerja dalam situasi buruk.

Kemudian pada 1987, Arist membentuk Yayasan Komite Pendidikan Anak Kreatif (Kompak) Indonesia. Melalui yayasan itu, diberikan berbagai pendidikan alternatif bagi anak yang bekerja, seperti pendidikan toleransi, demokrasi dan baca tulis.

"Yayasan ini bertahan sampai 2009 dan bergerak di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Sumatera Selatan. Kami lebih fokus pada masyarakat miskin kota," sambung pria berkacamata ini.

Arist peduli pada anak-anak karena di mata dia, anak-anak adalah sosok yang lemah sehingga tidak bisa membela diri. Karena kelemahannya itu, anak-anak rentan dieksploitasi secara ekonomi, seksual maupun politik. Selain itu dari sisi teologi, anak merupakan titipan atau angerah dari Tuhan sehingga harus dilindungi secara maksimal dari segala bentuk eksploitasi, penganiayaan, penelantaran, rasisme dan diskriminasi.

Arist bersama aktivis peduli anak mendirikan Komnas PA pada 1998. Pembentukan Komnas PA tak lepas dari Indonesia yang telah meratifikasi konvensi PBB tentang hak anak. Ratifikasi dilakukan pada 1990, namun hingga 1998 belum ada lembaga maupun produk lain sebagai perwujudan. Dalam kongres di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Arist terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Komnas PA untuk periode 2010-2014.

Dia menyatakan, laporan kasus-kasus anak banyak diterima Komnas PA sejak lembaga ini berdiri. Pada Januari hingga Juli 2011 ini saja setidaknya ada 785 laporan yang masuk ke Komnas PA. Dengan angka itu, rata-rata setiap bulan ada 110 pengaduan yang masuk.

"Banyak yang dilaporkan, seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual, anak telantar karena orangtua tidak bertanggung jawab, dan sebagainya," terang Arist.

Menurut dia, akibat perceraian orangtua, anak-anak hampir selalu menjadi korban. Akibatnya anak-anak mengalami dampak sosial dan psikologis, sehingga menjadi generasi penerus yang gamang.

"Kami juga mendapat laporan anak-anak yang hilang dari RS. Ini bukan sekadar menemukan anak hilang, tapi ada masalah di baliknya," imbuhnya.

Kendati banyak disibukkan dengan berbagai kasus yang dialami anak-anak, namun bukan berarti Arist kurang perhatian pada ketiga anaknya. Justru di dalam keluarganya, Arist mencontohkan bagaimana komunikasi yang baik dibangun antara orangtua dan anak.

"Misalnya soal tidak boleh menonton televisi saat belajar. Kalau melanggar bagaimana? Ini harus anak sendiri yang mengatakan apa sanksinya. Sehingga nanti mereka tidak merasa itu hukuman tapi konsekuensi dari pelanggaran. Pendidikan pengasuhan harus dialogis komunikatif dan partisipatif," papar Arist.

Bagi Arist, anak-anak harus dibela hak-haknya. Tapi jangan sampai gara-gara sibuk mengurusi anak orang lain, lantas anak sendiri dikesampingkan. Keadilan harus ditegakkan, setidaknya dari rumah sendiri.

(vit/fay)


Berita Terkait