Helmy Faishal, Menteri Penggila Fotografi

Helmy Faishal, Menteri Penggila Fotografi

- detikNews
Minggu, 19 Jun 2011 08:41 WIB
Helmy Faishal, Menteri Penggila Fotografi
Jakarta - Ruangan besar di lantai 3 Gedung Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) itu tak ubahnya galeri foto. Di tiap sudut dindingnya, terpajang foto-foto dengan obyek nan eksotis, mulai dari pemandangan alam hingga tradisi masyarakat dari Sabang sampai Merauke.

Foto-foto yang dibingkai cukup menarik itu tak lain dan tak bukan adalah hasil bidikan si pemilik ruangan, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini. Total ada 20-an foto yang ia 'pamerkan' di 2 ruangan, ruang tunggu dan ruang kerja yang juga dipakai untuk menerima tamu. Seluruh foto itu dilengkapi judul dan namanya sendiri sebagai fotografer.

Contoh jepretan Wasekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu adalah foto keindahan alam di Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Helmy mengabadikan dua pohon di tengah laut Mamuju saat mendampingi Wapres Boediono berkunjung ke daerah tersebut. Lalu, di sampingnya, terdapat foto salah satu pulau di Raja Ampat, Papua, yang cuma berpenghuni 150 penduduk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Raja Ampat itu, kan, ada pulau namanya Andamata, punya 200 orang saja. Nggak sampai malah, 150-an orang. Nah, itu fotonya, yang nomor dua," tunjuk Helmy saat detikcom diundang ke kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (16/6/2011), sore, lalu.

Selain foto yang dipajang di ruang kerjanya, pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 1 Agustus 1972, itu juga mengoleksi ratusan foto lain di komputer pribadi, gadget, dan sebagian masih tersimpan di kameranya. Foto-foto itu bertema tentang kehidupan manusia, tokoh, seni-tradisi, alam, dan arsitektur perkotaan.

"Saya punya foto landscape Jakarta yang sangat bagus. Jadi Jakarta dari atas pesawat terbang. Dari Monas, Senayan, GOR itu kelihatan semua. Terus Gunung Salak itu kelihatan juga. Tapi saya belum mencetaknya," katanya.

Helmy mengolah sendiri fotonya di sela-sela waktu luang. "Ya, saya suka edit sendiri. Saya crop dikit- dikit. Tapi nggak kayak photoshop, yang awannya diambil dari cuaca mana gitu. Saya bukan aliran itu, bukan salon fotolah," kata Helmy sambil tertawa.

Otodidak

Sejak kapan hobi memotret menteri muda ini mulai tertanam? Sambil memperlihatkan foto lawas tentang seekor burung dengan latar belakang Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi, yang diambilnya sebelum menjadi anggota DPR periode 2004-2009, Helmy mengungkapkan ia sudah lama menggandrungi dunia fotografi.

Untuk bisa menciptakan karya foto yang bagus, suami Sinta Annisa ini mengaku tidak pernah berguru kepada fotografer senior atau siapa pun. Selama menekuni hobinya tersebut, ia belajar memotret secara otodidak dan sebagian dari membaca buku-buku tentang fotografi.

Menjadi pejabat tidak mengurangi waktunya untuk hunting foto. Bahkan, posisinya saat ini sebagai menteri PDT, yang banyak berkunjung ke daerah-daerah terpencil, membuat hobi memotretnya makin 'menggila'. Jelas saja, sebab ia banyak menjumpai spot-spot menarik di berbagai pelosok negeri.

"Makanya, karena saya juga punya hobi foto, semakin blusukan (masuk ke daerah-daerah), itu semakin fokus," kata Sarjana Teknik Universitas Darul Ulum Jombang, Jawa Timur, ini.

Menurut Helmy, dari dulu benda yang tidak pernah lepas dari tangannya adalah kamera. Helmy memiliki 2 kamera SLR, salah satunya bermerk Cannon 600, dan satu buah kamera pocket untuk jaga-jaga bila ada momen bagus namun mendadak. Ia selalu menyiapkan 'senjatanya' tersebut di dalam mobil dinas.

"Ini selalu di samping saya. Menjadi istri kedualah. Istri saya sering bilang, ke mana-mana istri satunya dibawa terus, nih," kata Helmy menirukan istrinya.

Bila sedang ke daerah, misalnya, di sepanjang perjalanan dari dan ke bandara, Helmy selalu menikmati pemandangan sambil memegang kamera. Turun dari mobil, kamera kesayangannya tersebut tetap dibawanya dengan cara dimasukkan ke dalam tas. Ia senang memperhatikan sosok-sosok yang hadir atau peristiwa yang menarik untuk difoto.

"Ini Pak Sultan, saya potret tadi (Sri Sultan Hamengkubuwono X)," jelas Helmy sambil menunjukkan foto Raja Yogyakarta itu saat ia berkunjung ke kompleks hunian sementara (huntara) korban Merapi di Yogya, beberapa saat sebelum sesi wawancara.

Atau, lanjut Helmy, bila kebetulan ia mempunyai waktu cukup banyak saat menjelajah daerah tertentu, ia kerap menyempatkan diri untuk berburu gambar. Biasanya di pagi hari sebelum acara dimulai atau sore hari ketika sudah tidak ada agenda lagi. Helmy memilih pergi memotret tanpa pengawalan supaya tidak mengganggu aktivitas masyarakat.

"Kadang-kadang saya nggak minta patwal, kan nggak enak karena akan mengganggu masyarakat. Tapi yang namanya bupati atau pejabat daerah nggak mau kalau tanpa pengawalan. Mungkin karena protap," sambungnya.

Pameran

Rupanya, Helmy tak puas foto-fotonya tersebut cuma dipajang di ruang kerja maupun disimpan di dalam komputer. Ia berencana untuk menerbitkan edisi kumpulan foto-fotonya tersebut.

"Ini mau diterbitkan. Lagi dikurasi. Nanti foto-foto saya dari mulai Sabang sampai Marauke, dari Aceh sampai Papua, itu ada," katanya.


(irw/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads