Dalam setiap sesi wawancara, Timur bukan sekali dua kali mengucapkan jurus maut 'Terima kasih ya, Dik'. Entah bermaksud untuk menghormati para wartawan yang meminta statemennya atau memang ia sudah kehabisan kata-kata.
Yang jelas, setelah kalimat itu keluar dari mulutnya. Jangan harap pertanyaan kita dijawab. Dan sesi wawancara pun tandanya telah selesai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, mantan Kapolda Metro Jaya ini sering menampilkan mimik wajah serius yang menunjukkan dirinya sedang mendengarkan lawan bicara. Suami dari Irianti Sari Andayani dan bapak dua anak ini juga selalu santun dalam berucap.
Tidak seperti Kapolri sebelumnya, Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang selalu panjang lebar menjelaskan setiap kasus, Timur memang sedikit pelit bicara.
Selama kurang lebih 8 bulan bertugas menjadi Kapolri , Timur belum pernah mengadakan jumpa pers di Mabes Polri. Sekali waktu jumpa pers dilakukan saat evaluasi tahunan Polri Desember tahun lalu.
"Itu nanti dijelaskan sama Divhumas ya," kilah Timur saat dicecar soal kasus terorisme.
Dalam setiap sesi wawancara, lulusan Akpol 1978 selalu sukses membuat wartawan 'menyerah' untuk bertanya. 'Terima kasih ya, Dik' selalu menjadi jurus ampuhnya menghindari pertanyaan.
"Terima kasih ya, Dik, sekali lagi terima kasih ya," ucapnya.
"Makasih juga, Pak," celetuk seorang wartawan menimpali ucapan Timur.
Timur Pradopo lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 10 Januari 1956. Sebelum menjadi Kapolri, dia menjabat sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri. Saat itu pula pangkatnya naik menjadi Komjen.
Timur pernah menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat dan Kapolres Metro Jakarta Pusat di awal masa reformasi. Dia juga pernah menjabat sebagai Kapolda Banten, Kapolda Jawa Barat, dan Kapolda Metro Jaya.
(ape/vit)











































