Udar Pristono Tak Pernah Stres Cari Solusi Macet Jakarta

Udar Pristono Tak Pernah Stres Cari Solusi Macet Jakarta

- detikNews
Selasa, 14 Jun 2011 10:11 WIB
Udar Pristono Tak Pernah Stres Cari Solusi Macet Jakarta
Jakarta - Sebagai pejabat pemerintah, kritikan dan sindiran dari masyarakat luas sebenarnya cukup memanaskan telinga. Namun kritikan tidak membuat Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono stres. Sebab baginya, kritikan adalah masukan dan informasi.

Menurut Pristono begitu biasanya dia disapa, ocehan pesimis warga Jakarta itu malah membuatnya semangatnya terus menerapkan langkah-langkah mengurai kemacetan dengan berpatokan pada sistem Pola Transportasi Makro (PTM) yang dianut Pemprov DKI Jakarta.

"Jadi saya nggak pernah streslah cari solusi untuk kemacetan Jakarta. Stres buat kita makin nggak bisa kerja. Kritikan itu saya anggap sebagai masukan dan informasi," ujar Pristono saat berbincang-bincang dengan detikcom, di Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (14/6/2011).

Pristono mengatakan, apa yang dia kerjakaan saat ini bukan tindakan asal-asalan yang tidak memiliki acuan. Sehingga ketika ada yang coba mengkritik kinerjanya, dia santai saja sambil mendengarkannya.

"Untuk di daerah, Dishub patokannya pada PTM itu, sedangkan ketika menyangkut pusat maka kita berpegang pada 17+3 butir langkah penanganan masalah transportasi di Jakarta yang juga menjadi instruksi Wakil Presiden," kata pria yang pernah menjabat sebagai kepala Biro Prasana dan Sarana Kota pada tahun 2010 ini.

Pristono mengakui jabatan yang baru dia emban selama setahun ini memang tidak mudah. Apalagi saat dirinya diangkat menjadi kepala dinas pada Juni 2010 lalu, kemacetan Jakarta yang ada di depan matanya sudah sangat luar biasa.

"Menyelesaikan masalah kemacetan itu memang cukup berat, tapi karena segala yang dilakukan itu kan kita sudah pertimbangkan dan persiapkan dengan matang," imbuhnya.

Dalam PTM itu dijelaskan bahwa 3 langkah strategi untuk mengurai kemacetan yaitu pengembangan angkutan massal, pembatasan lalu lintas serta menambah kapasitas jaringan jalan. Dia mencontohkan, salah satu pengembangan angkutan massal yang cukup siginifikan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi ada busway.

"Tapi memang ini banyak juga kendalanya misalnya jalur yang tidak steril, tapi kita tetap upayakan terus perbaikannya," beber pria kelahiran 28 Juni 1959 ini.

Sebagai orang yang kerab berurusan dengan lalu lintas Jakarta, Pristono selalu menyempatkan diri berputar-putar mengelilingi titik-titik macet pada hari Sabtu-Minggu sambil mengendarai sepeda motornya. Dia juga sering memantau radio-radio yang menyediakan fasilitas info lalu lintas seperti Radio Elshinta.

"Nah dari situ saya bisa lihat, karena Sabtu juga macet, bagaimana caranya agar titik itu tidak macet lagi," jelasnya.

Rupanya, pria lulusan Magister Teknik Transportasi UI ini juga selalu mendapatkan kritikan dari keluarga terdekatnya tentang kemacetan Jakarta. "Saudara-saudara kadang suka bilang bagaimana sih ini, buat busway tapi headway-nya lama. Tambah jalan, tapi tetap macet. Ya saya senyum aja, itu masukan. Karena memang mengubah itu semua tidak semudah membalik telapak tangan," katanya.

Intinya, menurut Pristono, selama bekerja mempunyai pegangan atau acuan tidak ada yang perlu ditakuti, apalagi hal itu untuk kepentingan bersama. Termasuk dengan adanya ancaman Jakarta akan stuck pada 2014 jika penambahan kendaraan tidak bisa dihentikan.

"Selama kita melaksanakan butir-butir yang tertera dalam PTM dan mengikuti 17 penanganan itu, rasanya ancaman itu tidak perlu ditakuti meskipun harus tetap waspada di samping disesuaikan dengan akselerasi (percepatan) dan konsisten dengan apa yang kita lakukan. Jadi lebih baik do something daripada do nothing," tandas Pristono.

(lia/vit)


Berita Terkait