Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Kasat Binmas) Polrestro Jakarta Timur AKBP Suparno, mengakui hal tersebut. Bukan rahasia umum, jika ada anggota terlebih perwira pertama yang tiba-tiba ditempatkan di satuannya.
"Saya suka tanya ke mereka, kena masalah apa kamu sampai ditempatkan di sini. Anggota-anggota bermasalah biasanya ditaruh di Binmas. Istilahnya dibuang, non job. Tapi tidak semuanya, lho," kata Pamen yang telah mengenyam asam garam di kepolisian selama 35 tahun, kepada detikcom, Jumat (1/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Institusi benar-benar dibuat malu, istilahnya kayak buang kotoran ke muka saya, karena saya komandannya," gerutu Suparno.
Pasca kasus yang mengejutkan jajaran kepolisian, ayah satu anak ini, mengaku banyak menerima telepon dari rekan satu profesinya yang menanyakan perihal masalah yang menimpa anak buahnya tersebut.
"Saya bilang biar saja, saya enggak mau bela," kata pria asal Yogya ini tegas.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan terlontar dari mulut seorang perwira yang memulai karirnya dari tingkat Tamtama. SLR diketahuinya sudah pernah melakukan hal serupa di tahun 2006-2007. Berkas perkara, katanya, sudah berada di tingkat Kasasi.
Mendapati anak buah yang bermasalah tentunya membuat repot sang komandan. Dia mengaku hanya mampu menjalankan perintah atasan untuk membina bawahannya. "Saya enggak berani kalau langsung ngomong ke atasan, kita jalankan tugas saja," ujarnya.
Grand design kepolisian untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap polisi melalui Binmas, diakuinya menjadi dilematis karena berbenturan dengan awak personel Binmas yang bermasalah. Sementara di lain sisi, tugas Binmas memberikan pembinaan dan pelayanan kepada masyarakat.
"Orang-orang bermasalah seharusnya jangan ditaruh di Binmas, tapi di pembinaan atau operasional, karena jadi beban buat kita," usul Suparno yang menjajaki karirnya dengan beragam prestasi olahraga voli dan beladiri.
(ahy/vit)











































