Muhamad Zainul Muttaqien, itulah nama lengkap Kapolres Kampar, Riau, yang sudah menjabat sejak tahun 2008 silam itu. Kalangan wartawan di Riau, baik nasional dan lokal, dipastikan kerap menerima beragam informasi langsung dari telepon genggam, maupun melalui pesan singkat. Tak hanya seputar peristiwaΒ penanganan hukum di wilayah kerjanya, hingga demo dan berbagai peristiwa lainnya termasuk jalan longsor akan diinformasikan kepada wartawan. Muttaqien tidak akan pernah bosan-bosannya memberikan informasi itu kepada wartawan.
TermasukΒ berbagai informasi yang menyangkut 'berita' miring tentang kinerja internalnya, dia juga tidak menutup-nutupi bila ditanya oleh jurnalis. Pria kelahiran 16 Juni 1968 di Banten ini, bukan tipe pemimpin yang menutup-nutupi berbagai informasi sebagaimana kebanyakan pimpinan sepertinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya saja peristiwa terbaru kasus penyerangan warga terhadap Mapolsek Kampar di Kecamatan Kampar, Kab Kampar pada akhir pekan lalu. Saat baru akan berlangsung, ayah dari tiga orang anak ini sudah membagi informasi kepada jurnalis bahwa ada demo masyarakat. Pun ketika Mapolsek itu dirusak massa, dia tetap memberikan informasi terkait peristiwa itu.
Baginya, insan di dunia memiliki simbiosis mutualisme sehingga wajib mempunyai sosial kontrol. Ibarat dalam sebuah perjalanan kendaraan pasti di sepanjang jalan ada rambu-rambu yang harus ditaati. Rambu-rambu yang dia maksud itu, tak ubahnya seorang jurnalis yang selalu mengontrol dirinya berkerja maupun di jajaran kedinasannya. Alasan itulah, pemilik Yayasan Yatim Piatu Al Barokah Muttaqien di Ciemas Jabar ini, selalu menjunjung tinggi persahabatan dengan rekan-rekan jurnalis.
"Jurnalislah yang menjadi filter dalam bertugas. Karena itu saya selalu menganjurkan kepada seluruh anggota untuk tidak menutupi segala akses informasi di wilayah hukum tempat kita bertugas. Jangan pernah alergi dengan tugas wartawan," kata suami dr Sylvana Estherlita yang bertugas di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru itu kepada detikcom sembari tertawa.
Di balik kedekatannya dengan jurnalis ini, rupanya lulusan SMAN 55 Jakarta tahun 1987 itu, dulu pernah bercita-cita ingin menjadi seorang reporter TV. Saat masih duduk di bangku sekolah, dia sering memperhatikan reporter TV yang melakukan siaran langsung.
"Dulu saya pernah bercita-cita ingin jadi wartawan. Kayaknya kok enak jadi reporter TV, bisa tampil di depan publik. Tapi rupannya nyasar masuk Akpol," kata Muttaqien yang pernah berdinas di Polda Sulawesi Utara itu.
Selain rajin membagi informasi, peraih sarjana Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini juga kerap mendatangi tempat berkumpul wartawan di Pekanbaru. Jika ada tugas yang harus diselesaikan di Mapolda Riau, dia tetap menyempatkan diri untuk berkumpul dengan wartawan. Berbagai jurnalis baik lokal dan nasional selalu berkumpul di kantin Kantor Berita Antara, di Jl Sumatera Pekanbaru.Β
Di kantin beratapkan terpal yang mulai usang itulah, Muttaqien tidak pernah gengsi untuk bertandang. Di kantin yang sederhana tempat berkumpulnya para jurnalis di Pekanbaru, di tempat itu pria yang hobi menyantap siomay ini duduk santai sembari menikmati secangkir kopi panas untuk sekedar berkelakar bersama wartawan. Dia adalah satu-satunya pimpinan setingkat kapolres di Riau, yang mau mampir di kantin tersebut.
Malah kadang jika terjadi peristiwa di kabupaten lain, lantas kapolres setempat tidak bersedia menerima telepon wartawan, maka jurnalis akan meminta bantuan Kapolres Kampar. Lewat Muttaqien, wartawan minta dijembatani agar kapolres yang dimaksud bersedia untuk dikonfirmasi.
Di mata wartawan senior di Riau, Syanan Rangkuti, figur seperti Muttaqien tidak hanya dibutuhkan di jajaran Polda Riau, namun semestinya di seluruh jajaran Polri di Tanah Air. Menurut wartawan Kompas itu, sosok seperti Muttaqien masih minim di kalangan penyidik. Malah di jajaran Polda Riau sendiri jabatan setingkat kapolres masih banyak yang alergi dengan tugas dan fungsi jurnalistik, sehingga susah untuk dikonfirmasi.
"Berbeda dengan Muttaqien. Kapolres yang satu ini, kapan saja dan di mana saja bisa kita hubungi. Tidak pernah menolak bila kita mintai keterangan. Keterbukaan seperti inilah, sebenarnya yang dibutuhkan jurnalis. Sayangnya tidak banyak Muttaqien lainnya di jajaran Polri," kata Syahnan yang juga Ketua Solidaritas Wartawan untuk Transparansi (SOWAT) itu.
Penilaian itu pula yang disebutkan sejumlah wartawan lainnya. Jupernalis Samosir, Ketua PWI Reformasi Riau, menyebut MZ Muttaqien merupakan sosok aparat penegak hukum yang selalu mau diajak diskusi berbagai persoalan yang ditanganinya.
"Muttaqien tahan diskusi dan berdebat berjam-jam untuk satu persoalan hukum. Baik yang ditanganinya maupun yang tengah menjadi sorotan publik. Dia argumentatif dan selalu berdasarkan literatur sebagai acuan," ujar Jupernalis, yang juga wartawan Tempo itu. (cha/vit)










































