Nurhayati, Bangga Dipanggil Indonesia

Nurhayati, Bangga Dipanggil Indonesia

- detikNews
Rabu, 23 Feb 2011 18:22 WIB
Nurhayati, Bangga Dipanggil Indonesia
Jakarta - Nama lengkapnya, Nurhayati Ali Assegaf. Tapi dia sangat bangga ketika dipanggil "Indonesia". Saat memimpin sidang di forum internasional, memang bukan namanya yang disebut, tapi nama negara asal Nurhayati: Indonesia.

"Saat memimpin sidang, yang dipanggil itu bukan nama saya, tetapi nama Indonesia. Ini tentu membanggakan bagi saya, dapat mewakili 230 juta jiwa lebih penduduk Indonesia di forum internasional," kata Nurhayati pada detikcom, Rabu (23/2/2011).

Nurhayati lahir di Solo, 17 Juli 1960. Politisi Partai Demokrat ini meraih gelar master di Universitas Indonesia. Sedangkan gelar doktornya diraihnya di Universitas Gadjah Mada. Dia menjadi doktor ke-1.159 yang telah diluluskan UGM. Sebelum menjadi anggota Dewan, Nurhayati pernah menjadi staf khusus Ibu Negara Ani Yudhoyono.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nurhayati dipercaya oleh organisasi parlemen dunia yakni Inter-Parliamentary Union (IPU) untuk memimpin sesi khusus Coordinating Committee of Women Parliamentarians of the IPU yang digelar Selasa (15/2) hingga Sabtu (19/2) lalu di Geneva, Swiss. Kala itulah, dia dipanggil dengan "Indonesia".

Sejumlah negara yang memiliki wakil perempuan di parlemennya seperti Switzerland, Rusia, Meksiko, Prancis, Kuwait, Belarusia, Namibia, Gabon, Ethiopia dan Burkina Faso ikut dalam sidang yang dipimpin Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI ini.

Nurhayati menjelaskan, sidang tersebut memiliki sejumlah agenda penting untuk membahas peran dan keterwakilan perempuan dalam berbagai program-program dan kebijakan IPU. Agenda yang dibahas anatara lain kesetaraan gender, perubahan cara pikir dari Komisi HAM Parlemen terhadap perempuan dan perempuan penggiat politik.

Dia berharap agar ke depan, proses persidangan di IPU dapat mengedepankan kesetaraan gender yang muaranya adalah pembuatan kebijakan politik di masing-masing negara juga dapat berbasis gender. "Sehingga ada kontribusi maksimal dalam keberpihakan terhadap perempuan dan anak-anak," tambahnya.

Anggota Komisi I DPR RI ini secara ex-officio juga mewakili Indonesia sebagai anggota Executive Committee of the IPU. Komite ini dalam waktu yang simultan juga menggelar sesi sidangnya yang ke-250.

Dalam organisasi yang tidak mengenal hak veto itu, parlemen Indonesia telah berkiprah cukup baik. Katena itu Indonesia ditunjuk sebagai Ketua Grup Parlemen Asia Pasifik di IPU.

"Untuk menindaklanjuti hasil sidang di Geneva, Swiss, kami akan menggelar Working Group Asia Pasifik di Jakarta, Maret 2011 nanti," ucap Nurhayati.

(vit/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads