"Maaf, tangan saya habis dioperasi," kata Harifin kepada wartawan di kantornya,
Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat, (21/1/2011).
Betul saja, jari tengah telapak tangan Ketua MA terbungkus kain perban putih. Bagian buku-buku jari teratas nampak membekas luka. "Tadinya ada bisul. Sudah 2 mingguan tidak hilang-hilang," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sempat dibius. Tapi bius lokal kok," cerita hakim agung asal Makassar ini.
Namun hal ini tidak menjadikan tugas sehari-harinya terganggu. Bagi hakim agung ang
meniti karier dari bawah ini, operasi bukan hal yang baru. Beberapa waktu lalu, dia
juga sempat dioperasi pada indra penglihatannya.
"Tidak ada masalah. Namanya juga bisul," tutup Tumpa.
Harifin lahir di Soppeng, Sulsel, 23 Februari 1942. Pendidikan hukumnya dicecap lewat Sekolah Hakim dan Djaksa di Makassar pada 1959-1963, kuliah di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makasar lulus tahun 1972, Post Graduate Universitas Leiden 1987, dan Magister Hukum di Universitas Krisnadwipayana Jakarta tahun 1998-2000.
Harifin memulai karirnya sebagai hakim Pengadilan Negeri (PN) Takalar tahun 1969, lalu menjadi Ketua PN di beberapa PN di Sulsel selama 1972-1989.
Pernah menjadi hakim PN Jakarta Barat tahun 1989, Ketua PN Mataram tahun 1994 dan Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi (PT) Makasar tahun 1997, sebagai Direktur Perdata tahun 1997-2000, mejadi wakil PT Palembang selama 2001, dan tahun 2002 hingga 2004 menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Palu. Menjadi Hakim Agung sejak 14 September 2004.
Harifin menikah dengan Herwati Sikki dan dikaruniai tiga orang anak yaitu A Hartati, AJ Cakrawala, dan Rizki Ichsanudin. Pada 30 Desember 2008, Harifin sempat terjatuh saat melantik 6 hakim agung baru. Kakinya kram karena kurang istirahat dan asam urat. Hal ini membuat mereka yang tidak setuju pada usia pensiun hakim agung 70 tahun semakin bersuara keras.
(asp/vit)











































