"Saya pemain Persib tahun 1970-an," kata Ari saat berbincang-bincang santai di sebuah hotel di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Serius? "Serius," kata dia meyakinkan.Β Dia bercerita saat menjadi pemain Persib, dia masih menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Dan saat itu, dia main untuk Persib sampai ke banyak tempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persib ia tinggalkan setelah dia harus mengawali karir di penerbangan sebagai pengemudi pesawat alias pilot. Meski begitu, setelah puluhan tahun gantung sepatu dari persepakbolaan profesional, Ari Sapari masih tetap menjadi pemerhati dan pecinta sepakbola.
Bahkan, pada saat Timnas Indonesia berlaga di Piala AFF beberapa waktu lalu, Ari masih menyempatkan diri menonton langsung di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). "Saya melihat rasa nasionalisme kita benar-benar menggelegar saat di stadion mendukung Timnas Indonesia," ujar dia.
Karena dia adalah mantan pesepakbola, Ari jugalah yang mendukung penuh upaya Garuda menambah penerbangan ke Kuala Lumpur saat Timnas Indonesia melawan Tim Malaysia di ajang final leg I. Dia merasa lega karena penerbangan ekstra Garuda ke Kuala Lumpur sukses, penuh dengan suporter Indonesia.
Ari Sapari, yang punya silsilah dengan trah Ibu Kita Kartini ini, memiliki karir bagus di Garuda, sehingga dia dipercaya sebagai direktur operasi. Dia pernah menjadi Ketua Asosiasi Pilot Garuda. Dia juga pernah menjadi instruktur pilot DC-10. Dia mendapat lisensi pilot komersial dari Oxford Air Training School, England.
(asy/asy)











































