Tak hanya gasing, Bejo juga menjual mainan tradisional lain yakni seruling maupuun alat tiup mirip burung. Dari berbagai mainan anak ini, gasing dari bambulah yang paling diburu pembeli.
"Sehari bisa jual hingga Rp 350 ribu. Kalau lagi apes banget, minimal Rp 100 ribu," kata
Bejo kepada detikcom di kompleks perkantoran di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis,
(30/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mendapatkan penghasilan maksimal, dia memproduksi sendiri barang dagangannya tersebut. Tiap 2 minggu sekali dia pulang kampung ke desanya di Wonosari, Gunung Kidul Yogyakarta untuk membuat mainan anak. Dibantu istrinya dan anaknya, kini usahanya menghasilkan rumah dan sepetak sawah.
"Anak saya yang memberi warna mainan," tutur Bejo yang lulusan SD ini.
Untuk mendapatkan bahan baku mainan, dia harus berburu bambu tulup hingga Tulung Agung atau Nganjuk. Ini dilakukan guna mendapatkan kualitas suara yang bagus untuk seruling dan alat tiup mirip burung. Jika sedang beruntung, dia mendapat order yang cukup besar hingga 500 gasing.
"Untuk seruling dan gasing saya jual Rp 5ribu. Kalau alat tiup mirip burung perkutut Rp 2ribu," ungkapnya.
Seiring serbuan mainan anak modern berbasis digital dan baterai, Bejo pun perlahan tersingkir. Akibatnya, dia kini tidak menjajakan barang daganganya di sekolah atau pusat keramaian anak, tetapi memilih pusat perkantoran.
"Kalau di SD, anak-anak cuma memegang-megang tapi tidak beli. Saingannya mainan modern. Mereka tidak tertarik yang beginian. Kalau di perkantoran, kan orang-orang beli buat anaknya atau ingin main sendiri," beber Bejo.
Perlahan, Bejo memutar gasing untuk menarik pembeli. Suara mirip burung pun meramaikan trotoar Jalan MH Thamrin. Layaknya pepatah, kicau burung adalah kekayaan paling sederhana.
"Saya tidak ingin ganti profesi. Kalau saya ganti profesi, saya memakan lahan orang. Ya mungkin Tuhan sudah menakdirkan saya seperti ini," ucap Bejo dengan bijak. (asp/vit)











































